Ribuan Hektare HGU Telantar di Aceh Timur Jadi Sarang Gajah

Ribuan hektare areal Hak Guna Usaha (HGU) di Kabupaten Aceh Timur milik perusahaan swasta didaerah itu memiliki lahan terlantar sehingga menjadi sarang satwa dilindungi seperti gajah.
HGU Telantar di Aceh Timur
Dokumentasi - Kawanan gajah sumatra (Elephas maximus sumatranus) liar berada di kebun warga di Desa Negeri Antara, Kecamatan Pintu Rime, Kabupaten Bener Meriah, Aceh, Minggu (10/2/2019). ANTARA FOTO/Irwansyah Putra/ama/aa.

ACEHSATU.COM | ACEH TIMUR – Ribuan hektare areal Hak Guna Usaha (HGU) di Kabupaten Aceh Timur milik perusahaan swasta didaerah itu memiliki lahan terlantar sehingga menjadi sarang satwa dilindungi seperti gajah.

“Hampir semua bangkai gajah sumatera ditemukan dalam HGU milik perusahaan perkebunan di Aceh Timur, seperti baru-baru ini seekor gajah jantan mati dibunuh dalam HGU PT Bumi Flora. Ini menandakan bahwa HGU yang ditelantarkan menjadi sarang gajah,” kata Bupati Aceh Timur Hasballah atau akrab disapa Rocky di Aceh Timur, Ahad.

Bukan hanya satu atau dua perusahaan perkebunan, Rocky menganggap hasil penelusuran pihaknya hampir seluruh HGU milik perusahaan swasta memiliki lahan terlantar. Bahkan hampir seluruh lahan terlantar tersebut menjadi sarang gajah sumatera.

“Salah satu penyebab gajah sumatera keluar dari kawasan hutan dan masuk ke perkebunan adalah karena HGU milik perusahaan tidak diurus sepenuhnya, sehingga gajah bersarang dalam HGU dan sesekali gajah ini masuk ke pemukiman penduduk,” kata Rocky.

Agar gajah sumatera kembali ke habitatnya dalam kawasan hutan, orang nomor satu di Aceh Timur mengajak seluruh perusahaan untuk mengurus HGU secara menyeluruh, sehingga tidak menjadi sarang gajah.

“Jika HGU berbatasan dengan kawasan hutan, maka segera bangun barrier gajah sebagai parit pembatas sebagaimana dilakukan Forum Konservasi Leuser (FKL) bersama pemerintah selama ini, sehingga gajah tidak lagi masuk ke dalam HGU perusahaan perkebunan,” kata Rocky.

HGU Telantar di Aceh Timur
Dokumentasi - Kawanan gajah sumatra (Elephas maximus sumatranus) liar berada di kebun warga di Desa Negeri Antara, Kecamatan Pintu Rime, Kabupaten Bener Meriah, Aceh, Minggu (10/2/2019). ANTARA FOTO/Irwansyah Putra/ama/aa.

“Untuk apa HGU jika di dalamnya ditumbuhi hutan. Oleh karenanya kami harap Gubernur Aceh meninjau kembali HGU yang sudah diberikan ke perusahaan perkebunan khususnya di Aceh Timur,” kata Rocky.

Dirinya berkeyakinan, di saat HGU diurus dengan baik tentu konflik gajah dengan manusia dan konflik gajah dengan perusahaan akan hilang.

 “Sebabnya kami berharap kerjasama yang baik pihak perusahaan dalam mengelola HGU. Jika konflik gajah ini selesai, maka ekonomi masyarakat akan bangkit melalui keterbukaan lapangan kerja,” kata Rocky. (*)