ACEHSATU.COM | BANDA ACEH – Radikalisme muncul di beberapa kampus umum di Indonesia akibat ilmu Islam diajarkan oleh dosen bukan ahlinya.

Perguruan Tinggi Islam tidak memberi ruang bagi tumbuh kembangnya paham radikalisme, Islam yang diajarkan Di Perguruan Tinggi Islam tidak mengarah kepada radikalisme.

Demikian disampaikan Rektor UIN Ar-Raniry, Prof Dr Farid Wajdi Ibrahim, MA saat memberikan arahan pada upacara memperingati hari lahir Pancasila di halaman Biro Rektor, Senin (4/6/2018) pagi.

Farid Wajdi menyampaikan hal itu, terkait munculnya benih-benih radikalisme di kampus nonagama.

“Lahan subur radikalisme berada di kampus umum karena pelajaran agama tak diajarkan oleh ahli agama,” katanya.

Ia mengatakan, radikalisme banyak lahir di pulau jawa sesuai dengan hasil penelitian yang akurat.

Dalam perkembangannya, menurut Farid Wajdi, radikalisme banyak diseting untuk mengadu domba antar umat antar kampung antar ras dan lain sebagainya

Berkait dengan peringatan hari lahir Pancasila, Rektor UIN Ar-Raniry juga mengajak seluruh peserta apel untuk kembali menggali kembali nilai-nilai Pancasila.

“Nilai-nilai Pancasila ampuh memperjuangkan keragaman penduduk Indonesia yang bersuku-suku dan beda agama,” katanya.

Falsafah negara Indonesia, kata Farid Wajdi telah mampu mempersatukan Indonesia lebih dari 70 tahun hingga saat ini.

UIN Ar-Raniry menjadi pelopor pertama yang menolak paham radikalisme di Perguruan Tinggi Islam.

Gerakan antiradikalisme di kampus Islam dideklarasikan 26 April 2017.

Sebanyak 50 pimpinan Perguruan Tinggi keagamaan Islam Negeri (PTKIN) berkumpul di kampus UIN Ar Raniry, Banda Aceh. (*)

Tentang Admin

Nama lengkap: Muhammad Rain | Wilayah liputan: Banda Aceh

Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *