Refleksi Hari Koperasi Indonesia Ke-74: Mampukah Menjadi Sokoguru Perekonomian?

Tahun ini koperasi di Indonesia genap berusia 74 tahun. Tentu usia yang sudah dewasa kiranya untuk sebuah organisasi profit maupun sosial.
Dr. Azhari, SE, M.Si, Ak, CA

Oleh: Dr. Azhari, SE.,M.Si*

Sudah dua tahun gerakan koperasi di Indonesia memperingati hari ulang tahun koperasi dalam keadaan wabah covid 19 yang melanda awal tahun 2020 yang lalu.

Tahun ini koperasi di Indonesia genap berusia 74 tahun. Tentu usia yang sudah dewasa kiranya untuk sebuah organisasi profit maupun sosial.

Dalam perjalanan gerakan koperasi di Indonesia mengalami pasang surut. Tahun 80-an sampai 90-an, koperasi pernah jaya dalam mengurus usaha-usaha pertanian dan perkebunan masyarakat.

Ini terbukti bagaimana Koperasi Unit Desa (KUD) mampu melayani kebutuhan masyarakat melalui program-program Kementrian Koperasi dan UKM pada era tersebut.

Jumlah koperasi di Indonesia saat ini mencapai 127.124 unit dengan anggota sebanyak 25.098.807 orang (Kementrian Koperasi dan UKM, 2021). Dengan kata lain rata-rata setiap kabupaten/kota di Indonesia memiliki koperasi sebanyak 248 unit dengan anggota 48.925 orang di setiap kabupaten/kota.

Hal ini merupakan sebuah kekuatan besar karena 9,2 persen penduduk Indonesia adalah anggota koperasi. Koperasi adalah kumpulan orang per orang bukan kumpulan modal sebagaimana jenis badan usaha lainnya.

Inilah yang membedakan koperasi dengan lainnya. Koperasi di bentuk karena ada kesamaan tujuan dan harapan yang sama yaitu kesejahteraan (welfare) bukan tujuan personal maupun golongan.

Dari segi Product Domestic Bruto (PDB) koperasi hanya mampumemberikan kontribusi di bawah 6%.

Padatahun 2014 koperasi menyumbang PDB sebesar 1,71%, tahun 2017 naik menjadi 4,48%, tahun 2018 tercatat 5,1% dan 5,54% pada tahun 2019 .

Pada tahun 2021 ini ditargetkan kontribusi koperasi terhadap PDB sebesar 5,2% dan 5,5% pada tahun 2024 (Staf Khusus Koperasi dan UKM RI, 2020).

Kontribusi ini dinilai relative kecil dibandingkan dengan Negara-negara Afrika seperti Kenya yang sering dilecehkan. Kenya mampu memberikan kontribusi PDB dari sector koperasi mencapai 43%. Apalagi Denmark, kontribusi koperasi mampu menyumbang sebesar 68% dari PDB Negara tersebut. Namun yang menggembirakan adalah sektor UMKM yang sangat mendominasi kontribusi PDB Indonesia yaitu mencapai 61,07 persen atau sekitar Rp8.573,89 triliun.

Di samping itu UMKM mampu menyerap tenaga kerja 97% dari total tenaga kerja yang ada di Indonesia.

Lalu bagaimana hubungan Badan Usaha Koperasi dan Pelaku UMKM di Indonesia, yang notabenenya sama-sama bergerak pada usaha mikro, kecil dan menengah. Idealnya pelaku UMKM bergabung menjadi anggota koperasi atau mendirikan koperasi yang anggotanya pelaku UMKM.

Dengan demikian posisi UMKM akan memiliki bargaining yang tinggi, yang akhirnya koperasi mempunyai kontribusi PDB yang tinggi sebagai badan usaha yang sesuai dengan amanah Undang-undang Dasar 1945 pasal 33.

Berbagai permasalahan yang di hadapi oleh koperasi Indonesia, dimulai dari lemahnya pengelolaan, sumberdaya manusia, pemanfaatan tekhnologi informasi, permodalan dan sebagainya. Kekuatan koperasi terletak pada human power bukan capital power

Koperasi mempunyai kekuatan pada anggotanya, rasa memiliki dengan menggunakan produk dan layanan yang ada di koperasi, maka koperasi tersebut dengan sendirinya akan tumbuh dan kuat.

Rendahnya kontribusi PDB sector koperasi selama 74 tahun ini menjadi perhatian serius bagi gerakan koperasi dan pemerintah. Karena koperasi merupakan badan usaha yang memiliki nilai luhur bangsa kita yaitu kegotong royongan, kebersamaan dan kerjasama untuk memajukan perekonomian masyarakat Indonesia pada umumnya.

Dengan adanya penguatan koperasi sebagai basis ekonomi kerakyatan, harapan untuk membangun kesejahteraan masyarakat secara berkeadilan dapat dicapai. Karena Indonesia memiliki sumberdaya social ekonomi yang besar dan memadai.

Tentunya sebagai bangsa yang memiliki nilai-nilai luhur tersebut berharap dapat terwujud dalam hal pemenuhan ekonomi masyarakat memalui wadah koperasi. Perbaikan-perbaikan yang harus di lakukan melalui perbaikan internal maupun eksternal.

Hal ini dilakukan agar koperasi dapat bersaing dengan badan usaha lainnya yang bersifat perorangan maupun perusahaan yang pada dasarnya berlandaskan power capital.

Semoga koperasi dapat menjadi sokoguru perekonomian Indonesia pada saatnya nanti. SELAMAT HARI KOPERASI INDONESIA ke-74

*Pemerhati Koperasi dan Dosen Pasca Sarjana UNIKI – Bireuen