Refleksi 54 Tahun PB Inshafuddin

Jangan biarkan wadah ini mati suri, ada dan tiada. Namanya sudah harum pada masa lalu, jangan tenggalam dan sirna di masa milenial
Syarif, SHI MH

Gerakan Politik kedayahan secara kelembagaan dimulai sejak Tahun 1967. Gerakan ini saya menyebutnya gerakan pemurnian ajaran Islam.

Gerakan yang digagas oleh Abu Muhammad Daud Zamzami dan Abu Nasruddin Daud ini mendapat sokongan ulama dayah bansigoem Aceh.

Guna mematangkan konsepnya, Abu Muhammad Daud Zamzami yang juga Alumni Dayah Darussalam Labuhan Haji, melakukan silaturrahmi dengan para pimpinan Dayah se-Aceh, atau ulama kharismatik Aceh seperti Abu Krueng Kale (Tgk. H. M.Hasan), Abu Muhammad Amin Ribe, Abon Azis Samalanga

Termasuk juga Abu Tumin, Abu Tano Merah, Abu Ali Jadon (Aceh Tengah), Abu Ule Madon, Tgk Ahmad Qari, Abu Sulaiman Lhoksukon, Tgk. Muhammad Amin Rawa Itek, Panton Labu, Abu Krueng Lintang, Idi Aceh Timur, Abu Usman Basyah, Abu Zamzami Syam dan Tgk. Badaruddin (Singkil), Abu Ulee Titi, Abu Seulimum (Abu Wahab) serta beberapa ulama kharismatik lainnya.

Gerakan Politik Dayah tersebut melahirkan organisasi pemersatu dayah yang bernama Pengurus Besar (PB Dayah Inshafuddin), tepatnya 4 Februari 1968.

Organisasi ini bertujuan mengembalikan kejayaan dan kemurnian Islam sekaligus mendorong Pemerintah Pusat dan Pemerintah Aceh agar memberikan perhatian khusus bagi kemajuan dayah di Aceh.

Keberadaan PB Inshafuddin sebagai wadah konsolidasi ulama dayah sekaligus wadah curah pendapat ulama-ulama dayah kala itu cukup menonjol, bahkan beberapa kebijakan strategis Pemerintah Aceh kala itu mengambil rujukan pandangan dari organisasi ini.

Lahirnya Badan Pembinaan Dayah yang kini berubah nomenklaturnya menjadi Dinas Pendidikan Dayah (Disdik Dayah) Provinsi Kab/Kota, rumusan Standarisasi Kurikulum Dayah sesungguhnya bagian dari ikhtiar Persatuan Ulama Dayah Inshafuddin.

Tentu di era milenial ini kiprah Ulama Dayah yang terhimpun dalam “PB Inshafuddin” hampir tidak kedengaran lagi, bahkan cenderung tenggelam.

Pandangan ini muncul dari peserta saat bedah buku karya Prof. Dr. M. Hasbi Amiruddin, MA yang berjudul “Persatuan Dayah Inshafuddin Organisasi Ulama Penjaga Akidah Umat, Milad ke-53 Tahun, 4 Februari 2021 di Hotel Daka, Lampriet, Banda Aceh.

Saya selaku Wali Santri Dayah Terpadu Inshafuddin, tentu ikut merasakan betapa ruh Inshafuddin dulunya sangat mendunia kini seakan-akan sudah meredup.

Beberapa isu keagamaan dibahas di Rapat Kerja dan Kajian Ilmiah lainnya, sebut saja persoalan zakat profesi, Bayi Tabung serta berbagai persoalan sosial keagamaan dan politik di bahas oleh ulama dayah yang tergabung dalam wadah “PB Inshafuddin”.

Beberapa kajian Ulama Dayah Inshafuddin menjadi bahan kajian ilmuan dunia, ungkap Prof. Hasbi Amiruddin, MA.

Dalam bidang pendidikan PB Inshafuddin melahirkan Dayah Terpadu Inshafuddin, tentu kita berharap eksistensi PB Inshafuddin benar-benar sebagai pemersatu ulama sekaligus ikut ambil bagian dalam merumuskan berbagai kebijakan strategis Pemerintah Aceh dalam berbagai bidang demi kemajuan pendidikan Agama Islam, khususnya kemajuan Dayah di Aceh.

Selaku insan yang selama ini mendalami pergerakan Politik Kedayahan tentu ingin mengingatkan para Pendiri PB Inshafuddin, bahwa di Tahun 2022, PB Inshafuddin sudah 54 Tahun, umur yang tidak muda lagi.

Lembaga Pendidikan yang dibangun dulu kini menjelma menjadi salah satu Dayah Terpadu yang diminati putra-putri seluruh Aceh.

Alumni Dayah Terpadu Inshafuddin (DTI) sudah menyebar dan sukses. Ada yang menjadi Anggota TNI/Polri, Birokrat, Guru, Dosen, Pengusaha, Ulama Muda, Politisi, Pengiat LSM, Ustad/Ustazah, Wakil Pimpinan Dayah serta berbagai profesi lainnya.

Tentu harus dilakukan pendataan lagi sejalan dengan perobahan pengurus baik level yayasan dan yang mengelola Lembaga Pendidikan Agama Islam (LPI).

Kini berbagai ormas yang senapas dengan Ishafuddin cukup beragam, sebut saja Himpunan Ulama Dayah (HUDA), Rabitah Thaliban Aceh (RTA), Ikatan Sarjana Alumni Dayah (ISAD) serta berbagai organisasi lainnya.

Karena PB Inshafuddin harus direkontruksi kembali serta dicari tokoh alternatif pemersatu, baik keterwakilan ulama sepuh, ulama muda, cendikiawan serta insan yang punya naluri membangun PB Inshafuddin.

Jangan biarkan wadah ini mati suri, ada dan tiada. Namanya sudah harum pada masa lalu, jangan tenggalam dan sirna di masa milenial. Saatnya bangkit. Takbir.

Penulis: Kabid SDM dan Manajemen Disdik Dayah Banda Aceh, Mantan Aktivis`98, Fungsionaris KAHMI Aceh, Wali Santri Dayah Terpadu Inshafuddin Kota Banda Aceh