Recep Tayyip Erdogan Desak Presiden Vladimir Putin Segera Akhiri Perang Rusia-Ukraina

Turki yang menjadi anggota NATO, berupaya untuk tetap seimbang dikarenakan hubungannya yang dekat dengan Ukraina maupun Rusia.
Palestina
Arsip - Presiden Turki Tayyip Erdogan berbicara dalam konferensi pers setelah mengikuti KTT NATO, di Brussels, Belgia, 24 Maret 2022.

ACEHSATU.COM | Turki – Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan akan mendesak Presiden Rusia Vladimir Putin untuk segera mengakhiri perang di Ukraina.

Juru bicara Erdogan mengatakan, seruan itu akan disampaikan Erdogan dalam panggilan telepon pada Minggu (6/3) besok.

“Presiden akan menyampaikan kepadanya pesan yang telah kami ulangi sejak awal: segera akhiri perang ini, beri kesempatan gencatan senjata dan negosiasi, bangun koridor kemanusiaan dan lakukan evakuasi,” kata jubir Erdogan, Ibrahim Kalin kepada televisi swasta NTV, Sabtu (5/3/2022).

Baca Juga: Viral ! Arti Kata ‘Uraa’ Ucapan Presiden Rusia Vladimir Putin Pada Pidatonya

Dilansir dari kantor berita AFP, Sabtu (5/3/2022), Kalin menambahkan bahwa pemimpin Turki itu, juga akan mengupayakan pembicaraan “di tingkat pemimpin” antara Rusia dan Ukraina yang dapat berlangsung di Turki.

Baca Juga: Kecewa NATO Cuma Omong Doang, Presiden Ukraina: Semua Orang Mati Karenamu!

Sebelumnya, pada Jumat (4/3) waktu setempat, Menteri Luar Negeri (Menlu) Turki Mevlut Cavusoglu menyampaikan harapannya untuk pertemuan dengan Menlu Rusia dan Ukraina di Forum Diplomasi Antalya di Turki selatan pada 11-13 Maret mendatang.

Undangan Cavusoglu tersebut disambut oleh Duta Besar (Dubes) Rusia untuk PBB, Gennady Gatilov, yang menggambarkan kemungkinan pertemuan kedua menteri sebagai “ide bagus”.

Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov menegaskan dia akan menghadiri forum tersebut, kata Cavusoglu.

“Kami pikir pertemuan-pertemuan ini akan berdampak positif. Secara khusus, pertemuan di tingkat pemimpin dapat mencegah perang yang menyebabkan kehancuran yang lebih besar,” kata Kalin.

Turki yang menjadi anggota NATO, berupaya untuk tetap seimbang dikarenakan hubungannya yang dekat dengan Ukraina maupun Rusia.

Kalin menggambarkan syarat-syarat Rusia untuk mengakhiri konflik sebagai “tidak realistis”, tetapi mengatakan “negosiasi dan diplomasi ada karena alasan itu”.