Re-balancing Roda Ekonomi Aceh

Selama satu dekade terakhir, laju pertumbuhan ekonomi Aceh selalu tertinggal dari kecepatan pertumbuhan ekonomi nasional. Tingkat pertumbuhan ekonomi nasional periode 2010-2019 mencapai rata-rata 5,42%, sedangkan rata-rata pertumbuhan ekonomi Aceh hanya 4,51%.
Pakar Ekonomi USK
Pakar Ekonomi dari Univesitas Syiah Kuala, Prof M Shabri Abdul Majid. (ANTARA/Khalis)

Prof. Dr. M. Shabri Abd.Madjid, M.Ec*

ACEHSATU.COM – Selama satu dekade terakhir, laju pertumbuhan ekonomi Aceh selalu tertinggal dari kecepatan pertumbuhan ekonomi nasional. Tingkat pertumbuhan ekonomi nasional periode 2010-2019 mencapai rata-rata 5,42%, sedangkan rata-rata pertumbuhan ekonomi Aceh hanya 4,51%.

Pertumbuhan ekonomi Aceh tidak pernah melampaui angka 6% selama periode 2010-2020 (paling tinggi hanya 5,91% tahun 2010), sedangkan pertumbuhan ekonomi nasional pernah di atas 6% pada tahun 2010-2012.

Hanya pada tahun 2020 selama pandemic Covid-19, pertumbuhan ekonomi Aceh (-0.37%) jauh lebih baik dari perekonomian nasional yang mengalami kontraksi sebesar -2.07%.

Begitu dengan tingkat kemiskinan, per September 2020, tingkat kemiskinan Aceh mencapai 15,43% dibandingkan dengan tingkat kemiskinan nasional yang hanya sebesar 10,19%.

Kenapa laju pertumbuhan ekonomi Aceh lebih lambat dari pertumbuhan ekonomi nasional? Mengapa pula orang Aceh lebih miskin dari rata-rata penduduk Indonesia?

Padahal pada tahun 2019, Aceh berada di posisi ke lima tertinggi memiliki anggaran penerimaan dan pengeluaran provinsi (Rp17,18 triliun) di Indonesia, setelah DKI Jakarta (Rp89,09 triliun), Jawa Barat (Rp37,13 triliun), Jawa Timur (Rp33,84 trilun), dan Jawa Tengah (Rp26,65 triliun).

Bahkan jika dihitung APBA per kapita, maka Aceh adalah penerima anggaran pembangunan nomor wahid di Indonesia.

Rata-rata penduduk Aceh yang menikmati APBA terbesar di Indonesia, kenapa pada tahun 2020 Aceh menduduki posisi nomor enam termiskin (15.43%) di Indonesia, setelah Papua (26,80%), Papua Barat (21,70%), Nusa Tenggara Timur (21,21%), Maluku (17,99), dan Gorontalo (15,59%)?

Tulisan ini mengulas potret buram kondisi perekonomian Aceh dan solusinya dari perspektif makroekonomi dengan memberi tamsilan lambatnya pergerakan sebuah kendaraan menuju garis finish.

Sama halnya dengan kenderaan yang memiliki roda untuk menggerakkannya, ekonomi juga memiliki roda yang mendorong pertumbuhannya.

Dalam perspektif teori makroekonomi dengan menggunakan pendekatan pengeluaran, laju pertumbuhan ekonomi digerakkan oleh empat roda perekonomian, yaitu konsumsi rumah tangga (sektor rumah tangga), investasi (sektor swasta), pengeluaran pemerintah (sektor pemerintah), dan ekpor-impor (sektor luar negeri).

Sebagaimana halnya kecepatan sebuah kenderaan yang ditentukan oleh kualitas jalan, kondisi lalu lintas, pengemudi, kualitas kenderaan, termasuk roda dan keseimbangan roda, dan cuaca.

Begitu pula lajunya pertumbuhan ekonomi Aceh yang ditentukan oleh kelengkapan regulasi dan law enforcement, komitmen pemerintahan, suasana politik, dan kondisi eksisting perekonomian, termasuk keseimbangan roda perekonomian.

Jika empat roda yang menggerakkan perekonomian Aceh tidak berputar seimbang, maka perekonomian Aceh akan berjalan lambat, jika tidak jalan di tempat atau bahkan mundur.

Sebenarnya, inilah pemicu utama lambatnya pertumbuhan ekonomi Aceh karena empat roda yang menggerakannya tidak berputar dengan kecepatan yang sama (balance speed).

Mari kita analisis kecepatan putaran masing-masing roda pendongkrak perekenomian Aceh.

Roda Ekonomi Konsumsi Rumah Tangga (RT)