oleh

Ramadhan di Titik Nol Islam, Ada Tradisi Mamogang Mirip Meugang

Wajah Ahmad riang melihat neneknya Dahlaini Tanjung menyiapkan lesung batu. Ia berlari mengambil kursi plastik kecil di ruang tamunya. Lalu ikut duduk di samping Dahliani. Ahmad pun membantu neneknya memasukkan potongan-potongan daun ke dalam lesung. Ada daun pandan wangi, daun kambelu, daun silayu, daun nilam, daun jeruk kesturi, dan daun jeruk purut. Terakhir beberapa biji jeruk purut dipotong dua lalu dimasukkan ke dalam lesung.

Aromanya menyebar, menyegarkan dapur yang disibukkan dengan aktivitas memasak. “Wangi,” ujar Ahmad. Segera diambilnya alu yang tergeletak di lantai. Dengan lincah Ahmad menumbuk dedaunan itu sampai lumat. Sesekali neneknya mengambil alih alu agar pekerjaan itu lekas selesai. Setelah agak hancur, ramuan dedaunan itu dicampur air kemudian diperas. Air perasannya dimasukkan ke dalam botol-botol plastik bekas. “Ini buat balimo-limo, sehabis salat asar nanti. Acara ini memang paling ditunggu-tunggu anak-anak,” kata Dahlaini.

Lepas jam tiga siang, dengan menumpang mobil bak terbuka, Dahlaini beserta anak dan cucunya membawa botol-botol plastik berisi cairan warna hijau. Tak lupa mereka menenteng rantang-rantang yang isinya nasi dan segala macam jenis lauk pauk. Anak laki-laki Dahliani membawa mobil menuju ke arah hulu Sungai Aek Sirahar dekat Jembatan Husor. Jauhnya kira-kira 6 kilometer dari rumah mereka di desa Kampung Mudik, Barus, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara.

Pada Maret 2017 lalu, Presiden Joko Widodo meresmikan Tugu Titik Nol Peradaban Islam Nusantara di Barus. Konon, dulu Barus yang membentang dari Kecamatan Barus hingga sebagian wilayah Aceh merupakan salah satu titik awal penyebaran Islam di Indonesia. Suatu pendapat yang masih jadi silang pendapat di antara sejarawan.

Tak seperti haris biasanya, pada siang itu jalan menuju Jembatan Husor sangat ramai. Kendaraan berbagai jenis mulai dari motor, bentor, mobil berukuran kecil sampai truk pasir yang mengangkut manusia bergerak menuju jembatan ke arah Pakkat, Humbang Hasundutan. Balimo-limo memang sudah menjadi tradisi masyarakat Barus, kota tua di pesisir barat Sumatera Utara, sehari sebelum memasuki bulan Ramadan. Hampir semua keluarga muslim di Barus menjalankan tradisi ini.

Kira-kira seperempat jam perjalanan, mobil yang dinaiki Dahlaini turun ke arah tepi sungai. Menggunakan jalur yang digunakan truk penambang pasir dan batu sungai. Seiring matahari mulai rebah di ufuk barat tepi Sungai Aek Sirahar bertambah ramai. Dua sisi bantaran sungai nyaris dipenuhi manusia beragam usia. Masing-masing keluarga menggelar tikar dan menurunkan bekal mereka. Semuanya serba daging kerbau. “Lauknya gulai kerbau, rendang kerbau, dan perkedel kerbau,” ujar Dahlaini.

Di pinggir sungai semua orang melebur tanpa sekat. Setiap keluarga mengeluarkan bekal. Makan bersama dengan lauk sambil duduk di atas bebatuan. Baru setelah makan, mereka turun ke sungai sambil membawa botol berisi air perasan berwarna hijau. Orang tua menyiramkan air beraroma limau ke atas kepala dan ke badan anak-anaknya. “Air harum-haruman ini untuk membersihkan diri sebelum memasuki bulan ramadan,” kata Dahlaini. “Intinya pada niatan untuk menyucikan diri.”

Sejarawan Universitas Negeri Medan (Unimed), Medan, Sumatera Utara Ichwan Azhari menyebut tradisi balimo-limo punya akar dari ajaran Hindu.

“Asimilasi antara ajaran Islam dan Hindu,” ujar Ichwan kepada detikX. Tak hanya warga muslim Barus yang menyambut Ramadan dengan Balimo-limo, tapi juga beberapa daerah lain di Tapanuli Tengah dan pesisir barat Sumatera Utara. Tradisi ini, menurut Ichwan, ada pula di beberapa wilayah Sumatera lainnya seperti di Minangkabau dan Riau dengan sebutan yang nyaris serupa. Balimo-limo ini juga tak jauh berbeda dengan tradisi padusan yang masih bertahan sampai sekarang di Pulau Jawa.

Daging kerbau jadi bahan utama hampir seluruh masakan yang dibawa orang Barus ke acara Balimo-limo. Namun kerbau itu tidak dibeli di pekan atau pasar yang digelar tiap hari Sabtu dan Rabu. Orang Barus punya tradisi penyembelihan ternak kerbau secara massal yang biasanya dilakukan di tepi sungai Aek Sirahar. “Mamogang dan Balimo-limo dua tradisi yang saling melekat, tidak bisa dipisahkan,” ujar tokoh masyarakat Barus, Zuardi Mustafa Simanullang, yang akrab disapa Sizurlang kepada detikX.

Komentar

Indeks Berita