Ramadhan di Kota Takengon di Tengah Pandemi

DILANSIR dari laman worldometers hingga Rabu (6/5/2020) pasien yang terinfeksi virus corona berjumlah 3,8 juta orang.

Dari jumlah tersebut jumlah pasien yang sembuh sekitar 1,2 juta orang.

Di Indonesia saat ini terhitung jumlah pasien yang terinfeksi 12.438 orang dan pasien yang sembuh sekitar 2.317 orang.

Di provinsi Aceh jumlah pasien yang terinfeksi 17 orang dan pasien yang sembuh 10 orang.

Corona virus disease atau yang biasa disebut covid-19 ini adalah sebuah virus yang banyak meresahkan masyarakat karena banyak berdampak terhadap turunnya ekonomi.

Keterbatasan persediaan bahan pangan, serta bisa mengakibatkan gangguan mental bagi orang sekitar.

Apalagi semenjak diberlakukannya umtuk semua orang harus berada di rumah saja, dan bisa membuat banyak orang kehilangan pekerjaan.

Kemudian corona virus ini juga berdampak pada mahasiswa, yaitu banyak mahasiswa dan orang-orang yang sedang berada dalam perantauan yang ingin memutuskan untuk kembali ke kampung halaman berkumpul dengan keluarga besar.

Tetapi terhambat oleh wabah yang melanda ini.

Bulan ramadhan adalah bulan yang penuh berkah dan bulan yang sangat dinanti-nanti seluruh umat muslim di seluruh dunia.

Bulan ramadhan tahun ini terasa sangat berbeda dari ramadhan-ramadhan sebelumnya, mulai dari banyak kegiatan yang tidak bisa dilakukan seperti biasanya.

Karena Ramadhan kali ini dihadapi dengan rasa keprihatinan dan kewaspadaan terhadap paparan virus corona.

Dilansir dari laman Wikipedia, Takengon merupakan ibukota Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Aceh, Indonesia.

Takengon terletak di sisi Danau Lut Tawar kecamatan Lut Tawar di tengah-tengah wilayah provinsi Aceh.

Takengon merupakan dataran tinggi yang berhawa sejuk dengan ketinggian sekitar 1200 m di atas permukaan laut.

Sudah hampir 2 minggu menjalani ibadah puasa suasana kota Takengon hujan berawan, dengan suasana yang sejuk masyarakat kota Takengon masih tetap bersemangat untuk berpuasa.

Ramadhan di kota Takengon sama hal nya dengan suasana ramadhan di kota lain.

Hanya saja terdapat perbedaan antar kota dimana suhu di kota Takengon ketika sedang sahur adalah berkisar antara 15ºC sampai 16ºC.

Tetapi tidak menjadi suatu pengahalang bagi masyarakat Takengon dan ini malah membuat mereka menjadi lebih semangat dalam menjalani puasa.

Terlihat seperti di Jalan Sengeda dan Jalan Gatot Subroto ramai masyarakat yang sudah berbelanja pakaian dan perlengkapan shalat yang akan digunakan pada saat hari kemenangan nanti.

Para pedagang takjil juga masih ramai ditemukan berjualan untuk memenuhi panggilan pembeli,

Walau di tengah wabah seperti ini para pedagang juga tetap menjaga jarak dengan yang lainnya.

Takjil yang dijajakan pun beraneka macam mulai dari air kelapa, air tebu, gorengan, dan lain sebagainya.

Banyak masyarakat menunggu waktu berbuka dengan berjalan-jalan mengelilingi kota, membeli persiapan untuk berbuka.

Bahkan beberapa orang memilih bersepeda dan terkhusus untuk mahasiswa yang sedang dihadapkan dengan kuliah daring, waktu ngabuburit sering digunakan untuk menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan oleh dosen.

Hingga saat ini puasa sudah mencapai hari ke-13 shalat tarawih juga masih dilaksanakan, shalat tarawih dilaksanakan seperti biasanya dengan para jamaah membawa alas untuk shalat atau sajadah masing-masing dan diberikan jarak antar jamaah.

Namun beberapa hari puasa ini  shaf antar jamaah sudah mulai rapat kembali serta membaca doa qunut nazilah pada rakaat terakhir shalat witir yang merupakan bentuk ikhtiar menghadapi wabah virus ini.

Seperti halnya yang dilaksanakan di Masjid Raudhatul Jannah kampung Blang Kolak 1.

Selain shalat di masjid, masyarakat juga banyak yang memilih untuk shalat di rumah.

Mengingat pemberitahuan dari pemerintah agar menjaga jarak antara sesama dan mengantisipasi penyebaran penyakit covid-19 ini.

Intinya shalat tarawih bisa dilakukan dimana saja dan tidak ada halangan untuk tidak melaksanakan shalat tarawih tersebut.

Dengan mewabahnya virus ini tidak menyurutkan semangat masyarakat kota Takengon untuk tetap melaksanakan ibadah puasa ramadhan.

Wabah boleh merajalela tetapi kewajiban kita sebagai hamba Allah harus tetap dilaksanakan. (*)

Penulis: Masykur Rahmatullah, Mahasiswa Jurusan Teknik Kimia Universitas Syiah Kuala