oleh

Puncak Peringatan 15 Tahun Tsunami, Pemerintah Aceh Gelar Tabligh Akbar, Dzikir dan Doa, untuk Apa Semua Itu Bila…

-Kolom-163 views

ACEHSATU.COM – Pemerintah Aceh akan menutup serangkaian kegiatan peringatan 15 tahun gempa dan Tsunami Aceh yang mengusung tema “Melawan Lupa, Bangun Siaga” dengan menggelar acara puncak di halaman Pidie Convention Center (PCC), Kabupaten Pidie, Kamis 26 Desember 2019.

Hari itu 15 tahun yang lalu, tepatnya pada hari Minggu 26 Desember 2004 pukul 08.05 Wib, gelombang tsunami menerjang Aceh. Bermula dari gempa besar yang terjadi beberapa kali, lalu diikuti dengan ombak setinggi kurang lebih 20 meter dengan kecepatan gelombang 800 km/jam membuat beberapa kota di provinsi ini lumpuh.

Kekuatan gempa yang terjadi berada di Samudra Hindia pada kedalaman sekitar 10 kilometer di dasar laut, dan sumber gempa berjarak sekitar 149 kilometer sebelah barat Meulaboh Provinsi Aceh itu mampu meluluhlantakkan sebagian besar daratan Aceh.

Gempa yang berlangsung selama kurang lebih 10 menit ini tercatat mempunyai magnitudo sekitar 9,0 skala richter (SR). Setelah itu gelombang tsunami mulai memberikan dampaknya pada wilayah Aceh dan sebagian di Sumatera Utara yaitu pulau Nias.

Musibah terdahsyat abad 21 yang melanda Aceh bahkan Asia tersebut telah menelan korban jiwa hingga mencapai 350.000 orang, ribuan orang terluka dan merusak ratusan bahkan jutaan rumah dan bangunan di 14 negara yang terkena dampak. Khusus di Aceh terdapat 170.000 korban yang meninggal.

Kini setelah 15 tahun berlalu, kondisi masyarakat Aceh sudah normal kembali. Bahkan, infrastruktur yang porak poranda akibat tsunami kini sudah berdiri tegak dan sebagian menjadi objek wisata untuk mengenang peristiwa dahsyat yang pernah menimpa kota yang kerap disebut sebagai Serambi Mekkah ini, seperti museum tsunami, kapal apung, rumah diatas kapal, kuburan massal dan lain sebagainya.

Setiap tahunnya, masyarakat Aceh selalu memperingati peristiwa tsunami dahsyat ini. Di seluruh Aceh, peringatan tsunami dilakukan dengan menggelar acara doa bersama, dzikir dan ziarah ke kuburan massal korban tsunami. Bahkan hari tersebut sekolah-sekolah dan perkantoran diliburkan.

Meskipun saat ini Aceh sudah pulih dan kembali bangkit, berbagai infrastruktur yang telah rusak sudah dibuat lebih bagus dari sebelumnya. Namun kesedihan mendalam ketika mengenang peristiwa itu terjadi masih sulit dihilangkan. Masyarakat masih trauma bila mengingat manakala gelombang dahsyat itu datang dan menggulung seluruh apa yang ada didaratan secara cepat.

Jeritan tangis minta tolong warga yang berlarian terdengar begitu dekat ditelinga setiap orang. Dalam keadaan panik dan takut karena tidak tahu apa sebenarnya yang sedang terjadi, masyarakat berhamburan dijalan, mencari jalan untuk menyelamatkan diri.

Hari itu orang-orang mengira kiamat sudah terjadi. Setiap orang hanya mampu berpikir untuk menyelamatkan diri sendiri saja. Bahkan ibu-ibu berlari dan lupa pada anaknya, suami lupa pada istrinya. Semua seperti nafsi-nafsi (masing-masing). Kondisi itu seperti diceritakan dalam Alquran tentang keadaan ketika hari kiamat datang.

Cuplikan berbagai kisah pun banyak kita dengar dari mereka para korban selamat yang saat itu mengalami langsung peristiwa luar biasa ini. Ada kisah seperti mukjizat yang menyelamatkan mereka dari kematian, ada pula cerita seorang ibu dari sebuah desa pinggir pantai yang diselamatkan oleh seekor ular. Dan masih banyak kisah lainnya.

Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Diantara para korban selamat yang ada tetapi mereka juga kehilangan sanak saudara dan keluarga. Ada orang tua yang selamat namun kehilangan anaknya dan istri-istri menjadi janda begitu sebaliknya. Kisah tidak sempurna itu menyisakan kepedihan dihati mereka. Anak-anak yatim yang merindukan orang tua mereka.

Dari sudut pandang agama Islam, peristiwa besar ini bukanlah kejadian kebetulan. Gempa dahsyat dan tsunami hebat 26 Desember 2004 yang mampu menggetarkan bumi merupakan sunnatullah. Semua ini sudah ada dalam catatan Allah Swt.

Bencana gempa telah Allah SWT sebutkan dalam Alquran yang terdapat dalam surat Al-A’raaf ayat 155 yang artinya:

“Dan Musa memilih tujuh puluh orang dari kaumnya untuk (memohonkan taubat kepada Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan. Maka ketika mereka digoncang gempa bumi, Musa berkata: “Ya Tuhanku, kalau Engkau kehendaki, tentulah Engkau membinasakan mereka dan aku sebelum ini.

Apakah Engkau membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang kurang akal di antara kami? Itu hanyalah cobaan dari Engkau, Engkau sesatkan dengan cobaan itu siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau beri petunjuk kepada siapa yang Engkau kehendaki.

“Engkaulah Yang memimpin kami, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat dan Engkaulah Pemberi ampun yang sebaik-baiknya.” (Q.S. Al-A’raaf:155).

Atau pada ayat yang lain Allah Swt berfirman: “Maka mereka mendustakan Syu’aib, lalu mereka ditimpa gempa yang dahsyat, dan jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat-tempat tinggal mereka.” (Q.S. Al Ankabuut:37).

Dalam konteks Al-Quran, gempa bumi merupakan bentuk teguran Allah terhadap manusia. Allah memberikan sinyal bagaimana kemaksiatan yang dilakukan oleh manusia yang sudah melampaui batas. Karenanya bumi menggoyangkan dirinya sebagai pertanda tidak ridha.

Oleh sebab itu manusia perlu mengambil pelajaran atas musibah gempa dan tsunami besar yang terjadi itu. Pelajaran penting terhadap perilaku buruk yang telah mendatangkan murka Allah supaya tidak diulangi kembali. Manusia harus kembali kepada jalanNya dengan cara bertaubat.

Masyarakat Aceh wajib melakukan taubat massal secara sungguh-sungguh bila tidak ingin peristiwa dahsyat yang sama terjadi lagi atau bahkan lebih keras dari sudah pernah terjadi. Bumi Serambi Mekah yang “suci” hendaknya dapat dijaga kesuciannya dari kemaksiatan.

Tidak hanya masyarakat biasa. Termasuk didalamnya perilaku pemerintah dan para pejabat yang tidak amanah menjalankan kewajibannya dengan baik. Perilaku koruptif dan dhalim masih saja terus berlangsung. Pemerintah tidak memiliki kepedulian yang ikhlas terhadap agama Allah dan enggan menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar.

Gubernur, Bupati, dan Wali Kota seakan menutup mata terhadap praktik maksiat yang terjadi dan dilakukan secara sengaja di wilayah mereka. Narkoba beredar di mana-mana, pelacuran di hotel-hotel berbintang, judi online, dan kehidupan malam yang dibiarkan bebas begitu saja sehingga muda mudi bergaul tanpa batas. Semua itu mestinya tidak dibiarkan terjadi.

Di sisi lain penegakan syariat Islam juga sangat lemah dan tidak berjalan progresif. Bahkan bisa disebut mengalami kemunduran dari semangat awal. Hampir tidak pernah kita lihat lagi misalnya di Kota Banda Aceh Polisi WH (polisi syariat) melakukan razia pakaian tidak Islami di jalan-jalan. Razia minuman keras, dan razia di tempat-tempat wisata (cafe remang-remang) pada malam hari.

Bahkan bila dibandingkan dengan saat sebelum tsunami. Kehidupan di Kota Banda Aceh sekarang ini semakin mengkuatirkan. Kehidupan malam di ibukota Aceh ini semakin menjurus kepada pelanggaran Syariat Islam secara terang-terangan. Anda bisa lihat bagaimana cafe-cafe yang menyediakan live music dengan kehidupan muda mudi duduk bebas bercampur. Boleh jadi hubungan mereka lebih dari sekedar biasa saja.

Introspeksi Diri

Tidak hanya masyarakat Aceh, umat Islam pada umumnya perlu melakukan introspeksi diri. Karena dalam beberapa dekade terakhir umat Islam kerap mengalami berbagai cobaan dan musibah. Baik itu bencana alam seperti banjir, gempa bumi, gunung meletus, hingga diperangi oleh kaum kafir. Semua ini menandakan bahwa umat Islam sedang ditegur oleh Allah Swt.

Teguran Allah itu memang bukanlah bentuk kebencian Nya. Namun bentuk kasih sayang agar manusia dapat menyadari kekeliruan yang telah atau sedang dilakukannya. Lalu memohon ampun. Sehingga mereka akan selamat di dunia dan akhirat. Dengan meninggalkan maksiat, manusia akan menjadi hamba yang dicintaiNya.

Karena itu, apa yang dilakukan oleh masyarakat Aceh hari ini merupakan bentuk pengakuan atas dosa yang pernah dilakukan. Dan inilah momentum untuk menumbuhkan kesadaran kembali kepada jalan yang benar. Pernyataan taubat yang dilatunkan lewat doa dan dzikir.

Hendaknya hari peringatan 15 tahun tsunami ini bukanlah semata-mata acara seremoni yang tanpa makna bagi pembelajaran musibah itu sendiri. Cukuplah kepura-puraan itu bagi mereka yang tidak memiliki akal dan moral.  Sedang kita umat Islam apalagi orang Aceh sudah sepantasnya untuk selalu memperbaiki diri dari waktu ke waktu.

Perlu diketahui, meskipun secara kasat mata persoalan tsunami dalam konteks dampak sosialnya sudah terlihat selesai. Namun sesungguhnya masih ada sampai saat ini korban tsunami yang belum mendapatkan haknya dari pemerintah. Padahal perkara itu sudah 15 tahun berlalu. Kendatipun mereka tidak bersuara tapi hati mereka masih berharap uluran tangan para donatur.

Persoalan pembongkaran barak hunian sementara di Desa Bakoi Kecamatan Krueng Barona Jaya Aceh Besar pada posisi terakhir juga meninggalkan beberapa masalah. Para penghuni yang diduga korban tsunami dipaksa keluar dari barak karena masa rekonstruksi sudah berakhir. Sehingga bagi mereka tidak ada lagi bantuan apapun.

Jangan Ada Lagi Kemunafikan

Salah satu sifat yang paling dibenci oleh Allah Swt yang terdapat pada manusia adalah sifat munafik. Sifat ini dibenci oleh Allah juga RasulNya karena memiliki keburukan yang menyebabkan nilai manusia itu menjadi rendah. Bahkan tempat mereka di neraka jahanam.

Kemunafikan biasanya dipahami sebagai sikap berpura-pura percaya atau setia kepada sesuatu (agama atau kepercayaan, misalnya), tetapi sebenarnya dalam hatinya tidak. Seorang munafik adalah seorang yang suka (selalu) mengatakan sesuatu yang tidak sesuai dengan perbuatannya; ia bermuka dua.

Disadari atau tidak, selama ini sikap munafik sering ditemukan dalam praktik kehidupan sosial masyarakat. Tak jarang pula dalam praktik tata kelola pemerintahan. Terutama perilaku para pejabat dan politisi dalam melaksanakan kebijakan politik dan pemerintahan.

Sifat buruk tersebut telah menggiring orang-orang yang diberikan amanah untuk mengurus masyarakat berubah menjadi pengkhianat dan justru mempermainkan nasib orang lain demi meraih keuntungan pribadi dan kelompoknya. Salah satu bentuk konkrit karakter munafik ini adalah korupsi, penyelewengan bantuan. Termasuk menarik fee proyek dan lain sebagainya.

Merawat Perdamaian dan Menegakkan Syariat Islam

Meskipun pada satu sisi bencana dahsyat tsunami mendatangkan kepedihan, penderitaan, dan kerugian yang tidak sedikit bagi masyarakat Aceh yang terdampak. Namun di sisi lain, ternyata tsunami juga mendatangkan berkah dan hikmah yang luar biasa serta tidak disangka-sangka. Salah satu hikmah tersebut yaitu perdamaian Aceh.

Hampir 32 tahun Aceh terlibat konflik bersenjata. Perang fisik antara kelompok Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dengan Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang telah menumpahkan darah rakyat yang tidak tahu apa-apa di tanah mulia bumi Serambi Mekah berakhir pada 15 Agustus 2005.

Pada hari bersejarah tersebut, kedua pihak menandatangani nota kesepahaman di Helsinki yang kemudian diratifikasi menjadi UU Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintah Aceh yang didalamnya memiliki hak untuk melaksanakan Syariat Islam.

Kesepakatan perdamaian kedua kelompok yang berseteru itu diawali dengan peristiwa tsunami terbesar di dunia tahun 2004. Kedahsyatan air bah tsunami menjadi momen perdamaian bagi Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan pemerintah Indonesia yang kini telah berusia 14 tahun lebih.

Berkah tsunami tersebut perlu disyukuri oleh bukan hanya masyarakat Aceh namun juga rakyat Indonesia pada umumnya. Karena dengan perdamaian itu telah membuat negara ini tetap utuh, kokoh dan bersatu kembali dalam bingkai NKRI.

Maka itu kita perlu merawat perdamaian ini secara sungguh-sungguh dengan menegakkan Syariat Islam dalam setiap aspek kehidupan. Karena perbuatan membunuh orang lain tanpa sebab yang dibenarkan dalam agama termasuk dosa besar.

Dengan demikian semoga Aceh menjadi negeri yang baldatun tayyibatun wa rabbul ghafur. Negeri yang damai dan sejahtera. Marilah dalam doa yang kita panjatkan hari ini terselip permohonan kita kepada Allah agar segera mengubah Aceh ini menjadi lebih baik lagi, lebih sejahtera lagi rakyatnya, lebih amanah pemimpinnya, dan melahirkan generasi-generasi yang beriman, bertakwa, serta berakhlakul karimah sebagai estafet masa depan. (*)

Komentar

Indeks Berita