Laporan Nurwida 

ACEHSATU.COM | ACEH UTARA — Krueng Sawang tahun 80-an merupakan salah satu destinasi wisata paling diminati di Kabupaten Aceh Utara, bahkan juga di luar kapubaten juga.

Banyak orang yang datang ke krueng sawang untuk berwisata.

Biasanya masyarakat datang ke Krueng Sawang pada hari Minggu, hari libur nasional, dan yang paling ramai biasanya menjelang memasuki bulan Ramadhan.

BACA: Sungai Sawang Tak Seindah Dulu Terenggut Galian C

Masyarakat meminatinya dikarenakan Krueng Sawang pada saat itu airnya masih jernih dan banyak, batu-batunya besar.

Krueng Sawang. Foto | Nurwida

Keadaan sungai masih terjaga dengan baik dan sangat indah.

Walau saat itu sudah ada aktivitas pengambilan batu ataupun galian C.

BACA: Bendungan Krueng Sawang yang Dulu Indah, Kini Tinggal Kenangan

Namun galian c-nya dilakukan dengan cara manual sehingga sungai masih sangat terjaga.

Akan tetapi keadaan Krueng Sawang berubah pasca-Aceh damai. Krueng Sawang kedaannya sudah pudar pesonanya karena akibat aktivitas galian c menggunakan alat berat.

Kondisi krueng-nya rusak, di pinggir sungai terjadi abrasi, kedalaman sungai tidak bisa diprediksi, batu-batu besar sudah tidak ada lagi, air sungai menjadi berkurang, di tengah sungai terdapat pulau kecil terbentuk.

BACA: Aktivitas Galian C di Krueng Sawang Terus Berlanjut

Apalagi sekarang Jika kemarau atau tidak hujan dalam rentang waktu beberapa minggu masyarakat sudah merasakan kekurangan air di rumah masyarakat.

Keadaan inilah membuat kondisi sungai menjadi tidak bagus lagi dan tidak memesona mata pengunjung.

Kondisi sungai yang rusak membuat pengunjung berkurang, dulu yang diminati menjadi tempat usang yang tidak enak dilihat.

Apalagi dengan kondisi jalan utama Sawang yang rusak membuat pengunjungnya malas untuk ke Sawang. (*)

Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *