Puasa Membentuk Pribadi Ikhlas dan Jujur untuk Mencapai Hidup Bahagia di Dunia dan Akhirat

Oleh: Dr. Zainuddin, SE, M. Si.*

ACEHSATU.COM – Bismillahirrahmanirrahim, Bulan ramadhan merupakan bulan yang sangat istmewa yang  Allah SWT kehendaki kepada ummat Baginda Rasulullah Nabi Besar Muhammad SAW, karena di bulan suci ini awal mula diturunkan wahyu pertama (Alqur’an) sesuai dengan firman Allah dalam surah Al-Baqarah ayat ke 185, yang terjemahannya sebagai berikut:

“Bulan ramadhan adalah bulan yang didalamnya diturunkan Alqur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan bagi petunjuk itu, dan pembeda (antara yang benar dan yang batik), karena itu, barang siapa diantara kamu ada dibulan itu, maka berpuasalah. Dan barang siapa yang sakit atau dalam perjalanan (dia tidak berpuasa), maka wajib menggantinya sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Allah mengehendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran”.

Selain, diturunkan Alqur’an  sebagai keutamaan bulan puasa ada dua keutamaan lagi, yaitu shalat tarawih dan lailatulqadar dimana dua keutamaan ini pun tidak dimiliki oleh bulan-bulan lain. Namun, disini saya bukan bercerita tentang keutamaan bulan ini melainkan mencoba melihatnya dari sisi dampak pelaksanaan puasa bagi yang orang-orang  beriman yang melaksanakan puasa sebulan penuh di bulan ramadhan.

Bulan ramadhan yang mewajibkan ummat beriman berpuasa satu bulan penuh dapat dipandang sebagai bulan yang didalamnya mengandung unsur pendidikan yang sangat bernilai bagi orang-orang  beriman yang melaksanakan puasa, yaitu bulan puasa dapat membentuk pribadi ikhlas dan jujur, yaitu orang-orang yang melaksanakan puasa ramadhan sebulan penuh benar-benar karena Allah SWT berarti orang tersebut ikhlas semata-mata karena Allah SWT.

Orang yang melaksanakan puasa hanya dia sendiri dan Allah SWT yang tahu dan orang lain tidak mengetahuinya dan dengan adanya keikhlasan muncul kejujuran dan dengan kejujuran (jujur) akan terbentuk kebenaran (benar), artinya orang tersebut jujur melakukan perintah puasa tanpa sedikitpun terbesit melawan perintah walaupun sesungguhnya bisa saja yang bersangkutan berpura-pura berpuasa padahal tidak berpuasa karena orang lain tidak dapat memantaunya.

Tentang keharusan berlaku ikhlas dan berlaku jujur, yaitu

“Mereka tidaklah diperintah kecuali supaya menyembah kepada Allah dengan ikhlas dalam (menjalankan) agama dengan lurus, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, itulah agama yang lurus (Al-Bayyinah 98:5)”. Kemudian. “Wahai orang-orang yang beriman bertakwalah kamu kepada Allah dan hendaknya kamu bersama orang-orang yang benar (At-Taubah 9:119)”.

Selanjutnya, Abu Muhammad Al Hasan bin Ali bin Abu Thalib ra. berkat: Saya menghafal dari Rasulullah SAW

“Tinggalkanlah apa yang kau ragukan dan kerjakanlah apa yang tidak kau ragukan, sesungguhnya jujur itu menimbulkan ketenangan dan dusta itu menimbulkan kebimbangan (Riwayat At Turmudzy)”.

Dan insya Allah puasa kita semata-mata karena Allah SWT yang dapat melahirkan pribadi ikhlas dan jujur.

Dalam kehidupan sehari-hari prilaku ikhlas dan jujur sangat diperlukan bagi siapapun untuk mencapai derajat sebagai orang yang beriman kepada perintah Allah SWT, kenapa nilai ikhlas dan jujur itu bertanda beriman kepada Nya karena bagi seorang muslimin semua tindakan, baik ucapan dan perbuatannya haruslah diniatkan ikhlas semata-mata karena Allah SWT dan jujur dalam pelaksanaannya menurut ketentuan Allah SWT.

Terlebih bagi yang diberikan tanggung jawab pada oragnisasi tertentu , maka nilai ikhlas dan jujur memiliki peranan penting pada yang bersangkutan untuk mencapai tujuan yang diridhoi Nya. Seperti contoh seseorang diberi amanah untuk mengelola suatu program, maka potensi akan terjadi malpraktek apabila pada yang bersangkutan tidak memiliki nilai ikhlas dan jujur dalam menjalankan program tersebut.

Dalam konteks ekonomi (pelaksanaan pemerintahan) misalnya sesorang diberi wewenang dan tanggung jawab menjalankan roda pemerintahan, maka sangat dibutuhkan keikhlasan dan kejujuran pada yang bersangkutan untuk menjalankan tanggung jawabnya agar tidak melenceng dari amanah itu sendiri, maknanya harus dimiliki nilai ikhlas dan jujur pada yang diberi amanah baru kemudian amanah akan terlaksana sebagaimana mestinya.

Manusia sebagai pribadi sosial dalam pergaulan sehari-hari diperlukan nilai ikhlas dan jujur agar terhindar dari ambisi melakukan tindakan menguntungkan diri sendiri dengan cara yang tidak sesuai dengan komitmen atau kesepakatan awal.

Umpamanya seseorang (anu) berkomitmen berkerja dengan imbalan xxx dan jam kerja dari a hingga b, maka apabila  si anu tidak memiliki nilai ikhlas dan jujur pasti dalam perjalanannya dia akan mencari celah dengan cara tidak sesuai dengan komitmen (malah melawan hukum) untuk melakukan malpraktek (alias korupsi) baik dari segi pendapatan maupun jam kerja itu sendiri, dan bisa jadi seseorang yang terpilih sebagai anggota dewan terhormat hingga pimpinan daerah sekalipun dan bahkan pimpinan tertinggi suatu Negara apabila tida memiliki nilai ikhlas dan jujur pada dirinya maka akan berkembang praktik kolusi, korupsi dan nepotisme dan akhirnya mereka-mereka itu semua hanya pinter berjanji tak pintar menepatinya.

Lebih lanjut, ikhlas dan jujur itu harus melekat dan harus dipraktekan untuk semua tingkatan manusia bila ingin menjadi pribadi-pribadi yang memiliki harga diri dan akan bernilai ibadah untuk setiap tindakannya (khusus muslimin) dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagai contoh lanjutan, suami harus ikhlas dan jujur terhdapa istri agar terhindar perselingkuhan, seorang suami harus ikhlas dan jujur dalam menafkahi tanggungannya agar tercipta nilai ibadah, istri harus ikhlas dan jujur terhadap suami agar terhindar cemburu buta, eksekutif harus ikhlas dan jujur agar terhindar praktik KKN, legislatif harus ikhlas dan jujur agar berlaku adil, orang kaya/pengusaha harus iklas dan jujur agar terhindar dari sifat sombong, yudikatif harus ikhkas dan jujur agar terhidar dari keputusan tidak adil, pedagang harus ikhlas dan jujur agar terhindar penipuan, seorang dosen/guru harus ikhlas dan jujur agar tercipta anak didik berkualitas, seorang miiiter/polisi harus ikhlas dan jujur agar terhindar praktik pungli dan menerima sogokan hingga menjadi pribadi yang taguh demi Negara tercinta dan masih banya yang lainya.

Sehingga, dapat dinyatakan bahwa ikhlas dan jujur itu bisa jadi modal dasar dalam rangka pencapaian tujuan kemakmuran bersama, dan ikhlas dan jujur itu juga sebagai alasan ibadah seseoarang diterima oleh sang Khalid.

Dengan demikian, bisa jadi dengan memikili nilai ikhlas dan jujur (bagi muslimin) mendapat ridho Allah SWT membuka pintu surge kelak di akhirat. Amiin

Oleh sebab itu, terbantahkan apabila ada yang menyatakan bahwa orang islam sulit mencapai kemajuan dan bisa jadi yang mengaku islam belum ada padanya nilai ikhlas dan jujur dalam praktik sehari-hari.

Karena terbukti bahwa untuk mencapai nilai ikhas dan jujur tidaklah mudah melainkan dimiliki oleh hamba-hamba pilihan, karena ikhlas dan jujur itu bukan diciptakan dengan akting berpura-pura dimulut saja melainkan harus diprkatikan dimana orang-orang ikhlas dan jujur itu hanya bisa dimiliki oleh yang mampu melawan hawa nafsu yang mengharapakan pujian dari sesamanya, dan orang ikhlas dan jujur pasti harusnya halal dari segala aspek, dan ikhlas dan jujur hanya dimiliki oleh muslimin yang kuat imannya.

Dan akhirnya saat lulusnya pendidikan puasa ini kita semua bisa mempraktikan ikhlsa dan jujur dalam kehidupan sehari-hari, mohon maaf atas kekeliruan karena yang benar itu datangnya dari Allah SWT dan yang salah dari saya sendiri sebagai hamba yang sangat kurang pengetahuanya maklum sebagai hamba yang masih terus belajar. Wassalam. (*)

Penulis: Pemerhati Masalah Sosial dan Ekonomi Berdomisili di Banda Aceh.

Lihat Juga Video: