Protes Terhadap Tukin Berkurang Dokter RSUD Simeulue Lakukan Mogok Pelayanan

Akibat mogoknya pelayanan para dokter di rumah sakit itu, sejumlah warga atau pasien yang hendak berobat di poli menjadi terkatung-katung
Anggota DPRK Simeulue meninjau warga atau pasien yang hendak berobat di pelayanan poli RSUD Simeulue
Anggota DPRK Simeulue meninjau warga atau pasien yang hendak berobat di pelayanan poli RSUD Simeulue

ACEHSATU.COM | Simeulue – Akibat tunjangan kinerja berkurang Para dokter melakukan mogok pelayanan di poli Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Simeulue, Jumat (23/9/2022).

Para Dokter RSUD Simeulue melalkukan mogok layanan tersebut lantaran tunjangan kinerja (tukin) yang diterima para dokter itu, tidak sesuai yang diterima dari sebelumnya.

Akibat mogoknya pelayanan para dokter di rumah sakit itu, sejumlah warga atau pasien yang hendak berobat di poli menjadi terkatung-katung dan terbangkalai. Lantaran tidak ada pelayanan dan juga pengumuman di rumah sakit. 

Setelah menunggu lama dan tidak juga ada pelayanan, akhirnya pasien pulang dari pelayanan poli rumah sakit.

Mengetahui hal itu, Anggota DPRK Simeulue langsung melakukan sidak ke rumah sakit dan menemukan benar adanya tidak ada pelayanan poli di rumah sakit Daerah tersebut. 

Komisi D DPRK Simeulue Ihya Ulumuddin, sangat menyayangkan kejadian itu. Lantaran persoalan mogoknya pelayanan poli oleh dokter, tidak ada pemberitahuan yang menyebabkan pasien menunggu terlalu lama dan akhirnya pulang.

“Tentu sangat kita sayangkan kejadian ini. Pemda Simeulue harus bertanggungjawab dalam hal ini. Terkait dengan keluhan dokter pun harus segera dicari solusinya, semua pihak harus duduk mencari jalan keluar, sehingga kejadian ini tidak berdampak panjang,” kata Ihya.

Sementara itu, Direktur RSUD Simeulue drg Farhan, yang dikonfirmasi membenarkan adanya mogok pelayanan di bagian poli rumah sakit setempat sejak Kamis 22 September 2022 kemarin. 

Pihaknya pun sudah berupaya untuk mencari jalan keluar, agar tunjangan kinerja para dokter rumah sakit itu tidak berkurang dari sebelumnya. 

“Tahun-tahun sebelumnya itu tukin diterima Rp 20 juta. Sekarang diterima bervariasi, ada yang Rp 16 juta, 9 juta, 6 juta, dan Rp 1 juta-an,” kata drg Farhan. 

Hal itulah yang memicu para dokter melakukan protes dengan mogok pelayanan.

“Ini jangan juga dilihat hanya dari akibat saja, tapi sebabnya juga sehingga hal ini terjadi. Terkait tukin ini, manajemen rumah sakit tak pernah dilibatkan dalam setiap rapat,” kata drg Farhan.

Direktur RSUD Simeulue menjelaskan, bahwa sudah ditentukan jadwal dengan DPRK Simeulue untuk melakukan rapat dengar pendapat atau RDP.

Untuk membahas dan mencari jalan keluar, terkait keluhan para dokter di rumah sakit dan diharapkan segera ada solusi.

 “Teman-teman dokter ini tidak pernah menuntut lebih, tapi hanya meminta tidak dikurangi saja tukin yang sudah diterima dari sebelumnya,” pungkas drg Farhan