Program Pengentasan Tidak Jelas Dijalankan, Penduduk Miskin Ekstrim Semakin Bertambah

Oleh : Dr. Zainuddin, SE, M. Si.

ACEHSATU.COM – Secara global ada kekhawatiran terjadinya kemunduran program pengentasan kemiskinan yang terjadi dibanyak negara di dunia. Sehingga Bank Dunia memproyeksikan jumlah kemiskinan secara global akan meningkat sebesar 1,1 persen dan jumlah penduduk miskin menjadi sebanyak 82 juta orang pada akhir tahun 2020.

Dari jumlah penduduk miskin tersebut lebih dari setengahnya adalah penduduk miskin permanen, dimana pendapatan yang bersangkutan tidak lebih dari $1.90 per hari.

Yang paling menakutkan ada prediksi downside pada akhir tahun 2020 mencapai 100 juta orang terjerambab ke dalam kemiskinan ekstrim, maknanya akan lebih banyak lagi manusia hidup dalam ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan pokoknya.

Bila secara global diprediksi penduduk miskin berkisar 82 juta orang hingga 100 juta orang pada tahun 2020, kira-kira bagaimana dengan Indonesia.

Di Indonesia ada yang memprediksi bahwa penduduk miskin akan bertambah drastis hingga mencapai 28 juta orang di tahun 2020, dengan alasan bila bantuan sosial akan kendur untuk diimplimentasikan, dan lebih dari setengah dari jumlah tersebut dapat diasumsikan adalah kemiskinan permanen.

Garis kemiskinan di Indonesia ditetapkan sebesar Rp440.538 per kapita  untuk rumah tangga sebesar Rp2.017.664 per rumah tangga miskin per bulan oleh BPS pada September 2019.

Jika kita melihat secara kasat mata terlihat bahwa banyak pekerja jasa wisata banyak sudah yang dirumahkan mulai bulan April 2020 dan banyak karyawan manufaktur dan perdagangan lainya juga bernasib sama, ada yang dirumahkan sementara bahkan ada yang memang di PHK permanen.

Oleh sebab itu, semua yang di PHK tidak lagi memperoleh pendapatan dan belum mendapatakan pekerjaan baru dapat dinyatakan bahwa mereka untuk beberapa bulan sebelumnya April hingga sekarang tidak memiliki pendapatan, maka inilah yang menambahkan jumlah kemiskinan permanen di Indonesia.

Sangat menakutakan akan terjadi apabila para elit negeri ini tidak sensitif pada keadaan masyarakat yang sudah terjerembab ke dalam lembah kemiskinan yang dalam ini akan berdampak sangat signifikan pada kehidupan bangsa dan negara.

Salah satunya akan berdampak pada konsumsi penduduk negeri ini, dan dari akibat itu akan mempenagruhi banyak aspek ekonomi lainnya semisal akan mempengaruhi daya beli masyarakat itu sendiri, dan akhirnya akan berdampak pertumbuhan ekonomi secara agregat, dan akan menambah loyo dalam waktu lama kegairahan ekonomi negeri ini.

Sangat riskan bila keadaan tersebut berlangsung dalam rentang waktu lama, akan mengikis sendi-sendi pertahanan dan keamanan negara karena penduduk akan sangat tidak terkontrol emosionalnya.

Dan banyak penduduk yang kadang-kadang akan melakukan tindakan melawan hukum guna mendapatakan apa yang diinginkan dalam rangka pemenuhan kebutuhannya.

Namun, hikmah dari wabah ini adalah betapa safety nya yang berprofesi sebagai petani, walaupun ada dampak secara ekonomi namun tidak sampai kepada taraf ketiadaan bahan pangan di rumahnya untuk dikonsumsi, itu apabila petani memiliki pola stok seperti petani Aceh tempo dulu.

Sekali lagi harus kita nyatakan bahwa model stok yang dipraktekkan oleh petani Aceh tempo dulu merupakan suatu pola yang patut dicontoh karena ketahanan pangan bisa terjamin dalam rentang waktu tertentu pada tingkat rumah tangga.

Akhirnya kita harus berharap agar semua prediksi yang sangat menakutkan tidak benar-benar nyata, karena bila sebuah negara sudah memiliki penduduk miskin ekstrim lebih banyak akan sangat sensitif terhadap keberadaan sebuah negara dan bangsa.

Semoga saja dengan semangat Idul Adha 2020 ini dengan doa-doa para fakir dan miskin serta yatim piatu Allah akan segera mencabut virus yang menakutkan di bumi pertiwi tercinta ini, sehingga umat akan kembali beraktivitas normal dan bangsa tidak terjebak pada kemiskinan. Amiin. (*)

(Penulis Adalah Pengamat Ekonomi, Sosial dan Politik)