Produksi Sampah di Kota Lhokseumawe Mencapai 105 Ton Per Hari

Produksi sampah tersebut bisa meningkat hingga 30 persen pada hari-hari besar seperti hari meugang dan bulan Ramadhan
Masyarakat Kota Lhokseumawe mengeluh tumpukan sampah yang menggunung dan mengeluarkan bau tak sedap di Jalan Lintas tepatnya kawasan Gampong Tumpok Teungoh, Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe.

ACEHSATU.COM | Lhokseumawe – Produksi sampah di daerah Kota Lhokseumawe mencapai 105 ton per hari Produksi sampah tersebut bisa meningkat hingga 30 persen pada hari-hari besar seperti hari meugang dan bulan Ramadhan.

Karena banyaknya aktivitas ekonomi masyarakat. Hal tersebut disampaikan oleh Kapala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK), Syoeib, di Kota Lhokseumawe, (22/09/2022) . 

Syoeib juga mengatakan, Pemerintah Kota Lhokseumawe hingga saat ini belum memiliki depo sampah yang berfungsi sebagai pengolahan sampah atau tempat penampungan sementara sebelum di buang ke tempat pembuangan akhir (TPA) di Desa Alue Lim, Kecamatan Blang Mangat.

“Sampah di Kota Lhokseumawe rata-rata didominasi oleh sampah organik. Sebagian besar sampah yang diproduksi ini berasal dari rumah tangga,” kata Syoeib.

Idealnya, Imbuh Syoeib, langkah untuk mengelola sampah dengan baik yakni dengan konsep reduce yaitu mengurangi timbunan sampah.

Kemudian reuse yaitu menggunakan kembali dan terakhir recycle yaitu mendaur ulang material untuk memberikan bahan tersebut kesempatan kedua. Langkah ini dikenal dengan 3R.

“Idealnya, sampah dari produsen ini dibawa terlebih dahulu ke depo pengolahan sampah, kemudian setelah melewati langkah 3R tersebut, maka 70 persen sampah tersebut dapat diolah kembali sehingga bernilai ekonomis,” kata Syoeib.

Syoeib menyebutkan, produksi sampah tersebut jika dirincikan setiap orang menghasilkan 0,5 kilogram sampah per hari.

Sehingga dengan total sebanyak 210.177 jiwa warga Kota Lhokseumawe, maka produksi sampah yang dihasilkan sebanyak 105.089 kilogram. 

“Armada pengangkut sampah yang kita punya sebanyak 36 unit, namun yang layak beroperasi sebanyak 24 unit. Jika dikonversi satu unit armada mampun mengangkut 400 kilogram sampah, maka kita membutuhkan 26 unit armada untuk dapat mengangkut seluruh sampah di Kota Lhokseumawe,” katanya.

Selanjutnya Syoeib menyebutkan, ke depan pihaknya sudah merencanakan untuk menggaet pihak ketiga untuk berinvestasi membangun depo pengolahan sampah.

“Beberapa waktu lalu Pj Wali Kota Lhokseumawe juga sudah melakukan studi tiru ke beberapa daerah yang berhasil mengolah sampah hingga bernilai ekonomis, dan peluang positif tersebut rencananya akan diterapkan di Kota Lhokseumawe,” kata Syoeib lagi. 

Syoeib mengatakan pihaknya juga telah meminta setiap desa di Kota Lhokseumawe untuk dapat mengalokasikan dana desa untuk tempat pembuangan sampah, dengan begitu lingkungan akan tampak bersih dari sampah. 

Syoeib mengakui bahwa DLHK tidak dapat bekerja secara maksimal tanpa dukungan dari masyarakat untuk meningkatkan kesadaran dengan tidak membuang sampah sembarangan. 

“Jika kami bekerja sendiri, pastinya tidak akan maksimal, oleh sebab itu dukungan dari semua pihak untuk menciptakan Kota Lhokseumawe bersih sangat diharapkan, sehingga program Lhokseumawe bersih yang telah dicanangkan Pj Wali Kota dapat tercapai,”katanya.