oleh

Prinsip Manusia Merdeka

-Cerpen, Indeks-235 views

Prinsip Manusia Merdeka

Oleh Makbull Rizky

ACEHSATU.COM — Aku menguping dari sekat dinding, terdengar seorang anak yang beranjak dewasa bercerita di depan rumahnya bersama bapaknya.

Jarang sekali suasana ini tercipta.

Namun begitulah kasih ayah.

Tak banyak kata ia tunjukan sayangnya lewat tindakan kongkrit dan nyata.

Sebentar lagi anak ini akan berangkat merantau menuntut ilmu untuk memerdekan diri.

Sang ayah tak banyak bicara.

Lebih banyak diamnya sambil terus mengisap rokok yang dibelinya tadi pagi.

Kudengar jelas sang ayah berkata, nak, kau tak perlu menjadi pintar kalau hanya sekedar untuk membodohi.

Kau tak perlu kuat kalau hanya sekedar untuk menindas dan kau tak perlu berteriak merdeka kalau dirimu saja belum benar-benar merdeka.

Sang bapak kembali menyampaikan pepatah yang kudengar cukup berat untuk sekedar dipahami dengan telinga, “nak murip enti lagu sange, kusi kuyu kone rebah e” (Nak jangan hidup seperti rumput pimping).

Hiduplah seperti kayu sejati.

Dia tegak diatas batang nya sendiri, dan ia kuat diatas akarnya sendiri serta ia rimbun meneduhi rakyat-rakyat yang kegerahan.

Aku yang sedikit sudah lebih dewasa, menyimpulkan pesan sang bapak dengan terjemahan ku sendiri.

Sebagai manusia yang merdeka sepatutnya dalam setiap kata, rasa dan tindakan harus didasarkan dulu pada kemerdekaan diri sendiri.

Menyampaikan kekesalan atas dasar pikiran yang merdeka bukan atas dasar nafsu belaka, apalagi kepentingan dan lebih buruknya atas dasar tunggangan.

Makna tunggangan yang kumaksud adalah instruksi dari elit-elit yang haus kuasa, atau pesanan orang yang berkepentingan di rumah ku sendiri.

Pada hakikatnya menurutku penggambaran tumbuhan yang dikenal di gayo dengan sebutan “Sange” Adalah tamsilan yang sebenarnya kasar tapi terasa halus jika sang pendengar punya kebebalan akut.

Makna terakhir dan akhir menurutku yang bisa kusimpulkan adalah, semakin kamu jauh melangkah, seharusnya kamu semakin kuat berdiri diatas kaki mu sendiri, semakin kau banyak membaca.

Seharusnya kau tau mana yang ditunggangi mana yang menunggangi dan mana yang benar-benar bergerak dengan hati dan nurani.

Kekokohan pondasi berfikir yang kuat adalah kunci untuk menghadang segala jenis doktrin yang belum tentu kebenarnya.

Jiwa kritis sesungguhnya tak mampu diatur oleh kanda-kanda, senior-senior, doktor-doktor, profesor-profesor apalagi para politisi. (*)

Indeks Berita