oleh

Presiden Gelar Upacara Secara Virtual, Sejumlah Pejabat Aceh Turut Hadir, Pakar Hukum Ini Pernah Sebut Pancasila Lahir Bukan 1 Juni

-Nanggroe, Nasional-182 views

Presiden Gelar Upacara Secara Virtual, Sejumlah Pejabat Aceh Turut Hadir, Pakar Hukum Ini Pernah Sebut Pancasila Lahir Bukan 1 Juni

ACEHSATU.COM | BANDA ACEH – Hari Ini 1 Juni 2020, Presiden RI Joko Widodo menggelar upacara kenegaraan di Ruang Garuda Istana Kepresidenan, Bogor, Jawa Barat. Upacara yang baru kali pertama digelar secara virtual ini untuk memperingati Hari Lahir Pancasila (HLP).

Pada acara yang dipimpin langsung Presiden Joko Widodo selaku pembina upacara turut dihadiri sejumlah pejabat di Aceh. Pelaksana tugas Gubernur Aceh Nova Iriansyah bersama Ketua DPRA Dahlan Jamaluddin, Kapolda Aceh Irjen Pol Wahyu Widada, Pangdam Iskandar Muda Mayjend TNI Hasanuddin, Asisten Pembinaan Kajati Aceh Joko Wibisono dan Sekretaris Daerah Aceh Taqwallah, mengikutinya melalui video cenverence di ruang tengah Meuligoe Gubernur Aceh,  Senin (1/6/2020).

Namun terkait HLP yang diperingati hari ini, Pakar Hukum Tata Negara Refly Harun punya pandangan berbeda.

BACA JUGA:

Ruslan Buton tidak Tersangkut Pembunuhan Petani, tapi Dipecat karena Tolak TKA China ke Maluku

Lhokseumawe dan Banda Aceh Dianggap belum Aman dari Covid-19

Melansir pemberitaan tempo.co sekitar lebih dua tahun lalu, Pakar Hukum Tata Negara, Refly Harun, bependapat bahwa hari lahir Pancasila sebagai dasar negara adalah tanggal 18 Agustus 1945, bukan 1 Juni 1945 seperti yang ditetapkan sebagai Hari Lahir Pancasila saat ini.

“Kalau kita melihat Pancasila sebagai dasar negara, maka ia resmi lahir ketika PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) mengesahkan konstitusi negara, yakni UUD 1945 pada 18 Agustus 1945. Dan didalam Pembukaan-nya, tercantum Pancasila,” ujar Refly saat dikutip Tempo, Sabtu, (2/5/2018).

Historis istilah Pancasila, ujar Refly, memang pertama kali dilontarkan Presiden Soekarno pada 1 Juni 1945 dalam sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia atau BPUPKI. Namun, menurut dia, Pancasila secara utuh sebagai dasar negara baru lahir pada 18 Agustus 1945. Pancasila lahir melalui berbagai dinamika dan hasil pemikiran tokoh-tokoh bangsa lainnya.

BACA JUGA: Data Sulit Diakses, Nova Iriansyah Diminta Umumkan Penggunaan Anggaran Covid-19

Sebagai bukti, kata dia, sebelum pengesahan UUD 1945 pada 18 Agustus 1945, sudah dirumuskan Piagam Jakarta pada 22 Juni 1945 yang isinya hampir sama dengan Pancasila yang ada saat ini. Hanya saja, sila pertama berbunyi Ketuhanan, dengan menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya.

“Karena ada keberatan dari saudara kita di bagian timur, maka Moh. Hatta mengusulkan agar sila itu diganti menjadi Ketuhanan Yang Maha Esa. Ini bukti bahwa ada dinamika, dan Pancasila adalah hasil rembuk pemikiran tokoh-tokoh bangsa. Bukan hanya satu orang saja,” ujar Refly.

Dengan penetapan Hari Lahir Pancasila pada 1 Juni, menurut dia, hal ini mendiskreditkan peran tokoh-tokoh bangsa lainnya yang juga bersumbangsih melahirkan Pancasila. “Kita tidak bisa menafikkan jika peran Soekarno sangat besar, namun Pancasila adalah hasil gotong-royong bersama tokoh bangsa lainnya. Istilah saya, Pancasila itu sinkretisme pikiran para pendiri bangsa,” ujar dia.

BACA JUGA: Dipimpin Presiden Jokowi Secara Virtual, Plt Gubernur Aceh dan Ketua DPRA Ikuti Upacara Hari Lahir Pancasila

Lepas dari soal perbedaan itu, dalam upacara peringatan HAP 1 Juni 2020 yang digelar secara virtual, Presiden RI Joko Widodo justru mengajak seluruh rakyat Indonesia agar selalu menghadirkan nilai luhur Pancasila dalam setiap sendi kehidupan, terutama di masa pandemi Corina Virus Disease 2019 (Covid-19).

“Peringatan Hari Lahir Pancasila kita selenggarakan di tengah pandemi Covid-19 yang menguji daya juang kita sebagai bangsa, menguji pengorbanan kita, menguji kedisiplinan kita, menguji kepatuhan kita, menguji ketenangan kita dalam mengambil langkah kebijakan yang cepat dan tepat dan menumbuhkan daya juang kita dalam mengatasi kesulitan dan tantangan yang kita hadapi,” ujar Jokowi.

Presiden juga mengajak seluruh masyarakat untuk bersyukur karena dalam menghadapi semua ujian ini, Pancasila tetap menjadi bintang penjuru untuk menggerakkan seluruh elemen bangsa, menggerakkan semangat persatuan dalam mengatasi semua tantangan, menggerakkan rasa kepedulian untuk saling berbagi, memperkokoh rasa persaudaraan dan kegotong-royongan untuk meringankan beban seluruh anak negeri. (*)

Indeks Berita