ACEHSATU.COM — Tidak salah jika banyak orang mengatakan politik itu abu-abu, sulit dibaca secara jelas dan gampang berubah.

Dan tidak sedikit pula yang berkata dalam dunia politik itu yang ada hanya lah kepentingan. Sedang kawan atau lawan keduanya bisa saling berubah posisi.

Bukti nyata pembenaran pernyataan di atas adalah sebagaimana fakta yang diperlihatkan oleh Prabowo Subianto dan Jokowi atau Joko Widodo.

Keduanya merupakan rival pada pertarungan politik pencapresan Republik Indonesia. Namun belakangan justru berubah menjadi kawan “sebantal” yang saling menguatkan. Itulah politik.

Lantas salahkah Prabowo Subianto atau Jokowi? Sekali lagi, bila dipandang dari sudut seni politik, perilaku kedua tokoh nasional tersebut tidak dapat dipersalahkan.

Bahkan sikap mereka itu pun tidak ada Undang-undang yang dilanggar. Jadi jelas tidak salah. Bahkan hal itu dianggap sebagai kedewasaan politik Prabowo dan Jokowi.

Bagaimana tidak?

Setelah hampir 10 tahun lebih Prabowo Subianto yang maju menjadi capres RI berhadapan head to head dengan kubu Jokowi.

Bahkan sepanjang sejarah pilpres di Indonesia, baru pada masa merekalah pilpres paling brutal terjadi.

Disebut brutal karena para netizen melihat mudahnya beredar berbagai bentuk ujaran yang mengarah kepada caci maki yang luar biasa di antara para pendukung kedua pihak.

Bahkan apa yang disebut dengan hoaks dan meme kasar begitu mudah muncul di ruang ruang publik.

Hinaan dan ujaran kebencian bukan hanya diarahkan kepada Jokowi sebagai inkumben namun juga pada Prabowo Subianto yang begitu ngotot untuk memenangkan kontestasi.

Akibatnya di tingkat bawah pun terjadi pembelahan masyarakat. Rasa-rasanya saat itu persatuan Indonesia sebagai sebuah bangsa telah tiada.

Namun hari ini kondisi tersebut berubah, berbanding terbalik dengan situasi setahun yang lalu di mana saat pilpres sedang berlangsung.

Prabowo Subianto yang keras mengkritisi Pemerintahan Jokowi-Jk kini ia justru bersedia menjadi salah satu menteri di Kabinet Jokowi-Ma’ruf yang notabene lawan politiknya.

Meskipun hal ini tidak lazim, karena belum pernah terjadi sebelumnya sehingga publik melihat sosok Prabowo Subianto memang lebih mementingkan “kekuasaan” yang membawa kepada persatuan bangsa daripada melanjutkan “permusuhan” politik dengan mantan rivalnya itu.

Sikap politik seperti yang ditunjukkan mantan Danjen Kopassus itu meskipun menuai pro kontra dikalangan para pendukungnya, toh bisa menjadi rule model bagi pendidikan politik anak anak muda.

Walaupun belum tentu semuanya sejalan akan tetapi langkah seperti itu dapat diartikan sebagai bentuk rekonsiliasi permanen paska pilpres.

Lalu bagaimana dampak terhadap pendukung di bawah?