Potret Abdullah bin Ubay di Masa Kini

Prilaku munafik dalam Islam merupakan salah satu perbuatan tercela yang dapat mencelakai orang lain dan sangat dibenci Allah SWT.
Muhammad.

Oleh: Muhammad

ACEHSATU.COM — Sejarah telah mengajarkan banyak hal kepada manusia, namun terkadang manusia saja yang enggan untuk memetik hikmah dibalik fakta sejarah itu sendiri.

Banyak tragedi dan tokoh yang mestinya dapat menjadi pijakan bagi setiap pribadi untuk belajar dari kisah-kisah yang pernah ada dan pernah terjadi di muka bumi ini.

Kita manusia adalah makhluk yang diberikan kelebihan akal oleh Tuhan untuk senantiasa berfikir, dan melaksanakan pikiran itu di jalan yang benar.

Tuhan menuntun kita untuk menjadi hamba yang baik dan bijak, walau terkadang jalan sesat menjadi pilihan hamba-Nya.

Di antara sekian banyak sifat-sifat manusia, menempatkan sisi kebaikan adalah hal yang diharapkan oleh Tuhan.

Namun, nafsu dan hasrat yang besar justru kadang kala mengubah manusia itu menjadi jiwa yang menyimpang.

Dari beragam sifat menyimpang manusia, ada salah satu sifat yang sangat buruk dan ibarat “virus” dalam hal kebatinan.

Yakni perilaku munafik.

Prilaku munafik dalam Islam merupakan salah satu perbuatan tercela yang dapat mencelakai orang lain dan sangat dibenci Allah SWT.

Munafik atau nifak merupakan suatu perilaku dimana perbuatan tidak sesuai dengan maksud hati melakukannya.

Seorang munafik selalu menyembunyikan maksud di balik suatu perbuatan.

Bisa juga dikatakan sebagai bermuka dua.

Terdapat tiga karakter orang munafik, yakni apabila ia bicara maka dia berdusta, apabila ia berjanji maka ia tidak menepati dan apabila diberi amanah maka ia berkhianat.

Bila kita mencerminkan orang munafik di zaman sekarang, salah satu hal yang paling dominan adalah mereka yang mengingkari janji.

Sangatlah penting bagi kita untuk selalu menjaga lisan, apalagi dalam pengucapan kata “janji.”

Janganlah mengucap janji apabila kita tahu tidak dapat menepatinya karena janji adalah sama dengan utang yang harus dibayar atau sumpah yang tak boleh dilanggar. Sebagaimana Allah SWT berfirman;

“Dan penuhilah janji, sesungguhnya janji itu pasti dimintai pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Isra’: 34).

Implementasi perihal janji, seringkali mengingatkan kita pada sosok seorang pemimpin dan pemegang tambuk kekuasaan.

Karena dasarnya pada hari ini, para pemimpin selalu menaburkan janji-janji manis kepada rakyatnya.

Kita bisa melihat, begitu banyak fenomena-fenomena pemimpin pada hari ini yang tidak mampu menunaikan janji-janji mereka.

Sehingga selalu menciptakan kegaduhan perpolitikan yang tak kunjung henti, dan dalam hal ini masyarakatlah yang selalu menjadi korban dari drama perpolitikan mereka.

Hari ini hampir tidak ada lagi sosok yang patut menjadi teladan dalam hal keyakinan.

“Hari ini A, sampai kiamat tetap A” atau “peugah lagee buet, peubuet lagee na”, yang jarang kita temukan sosok seperti itu, jangankan di negeri lain, sekarang di Aceh pun hampir tiada lagi.

Selain itu, sifat berbohong dalam berucap juga merupakan salah satu ciri-ciri orang munafik. Tentunya dalam hal ini berbohong yang dilakukan adalah bohong yang dapat merugikan orang lain dan perbuatan berbohong seperti ini sifatnya haram.

Serta sangat dibenci dalam ajaran Islam.

Seseorang yang munafik juga bercirikan orang yang bersifat pengkhianat.

Orang yang berkhianat berarti perbuatan dan ucapannya tidak dapat dipercaya sama sekali.

Sejarah telah mengajarkan, bahwa keberadaan orang-orang munafik adalah warisan peradaban yang telah ada sejak zaman dahulu.

Salah satunya adalah kisah Abdullah bin Ubay, potret orang munafik di zaman Rasulullah Saw.

Ia begitu membenci Rasulullah Saw karena menganggap sebagai penghalang dirinya untuk menjadi penguasa di Madinah.

Setelah Nabi Muhammad SAW datang ke Madinah, pengaruh Abdullah menjadi pudar hingga akhirnya Nabi Muhammad lah yang menjadi pemimpin Kota Madinah.

Hal itu yang membuat Abdullah bin Ubay menaruh kebencian dan kedengkian terhadap Nabi Muhammad Saw.

Ketika bersama Rasulullah, Abdullah mengaku beriman dan beribadah layaknya umat Islam namun ketika dia sudah berpisah dengan Rasul, dia kembali kepada agamanya yang lama.

Ia menjelek-jelekkan umat Islam dan Rasulullah.

Selain itu Abdullah bin Ubay juga kerap mengadu domba dan menjadi provokator dalam kerusuhan.

Suatu ketika, pada saat Abdullah bin Ubay jatuh sakit hingga akhirnya meninggal dunia, anak laki-lakinya yang bernama Abdillah bin Abdullah bin Ubay mendatangi Rasulullah SAW.

Dia meminta kain kafan untuk dipakai ayahnya, selain itu ia juga meminta Rasulullah SAW agar mau menyalatinya.

Rasulullah pun mendatangi pemakaman, hanya saja ketika Umar melihat perbuatan Rasulullah Saw dia segera mengingatkan: “Wahai Rasulullah, kenapa mau menyalatkan Abdullah bin Ubay? padahal dia adalah seorang yang munafik. Bukankah Allah melarang untuk menyalatkan orang-orang munafik?”.

Rasulullah pun menjawab kalau beliau mendapat pilihan dari Allah antara mendoakan atau tidak, dan Rasulullah memilih berdoa untuk Abdullah bin Ubay bin Salul.

Setelah Rasulullah SAW menyalatkan, barulah turun ayat:

“Dan janganlah kamu sekali-kali menyembahyangkan (jenazah) seorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendoakan) di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik. (QS. At-Taubah:84).

Inilah setidaknya potret orang-orang munafik yang dapat menjadi pelajaran penting bagi kita, bahwa Islam sangat membenci kalangan orang-orang yang demikian.

Keberadaan mereka adalah ibarat duri yang bersemayam di dalam daging, yang kemudian membunuh dari dalam.

Sebagai penutup, penulis teringat sebuah nasehat: “Hana peunawa nibak musoeh, hana peunutoeh nibak pengkhianat”, ucap Tengku Hasan tiro, tokoh intelektual Aceh kontemporer. (*)

Penulis adalah pemerhati sosial dan penikmat sanger di Taufik Kupi Sigli