‘Populisme Islam,’ Menag Yaqut Gambarkan Islam Sangat Menakutkan?

Yaqut Cholil Qoumas mengatakan, pihaknya tidak akan membiarkan populisme Islam berkembang di Indonesia. Populisme merupakan usaha untuk menggiring agama menjadi norma konflik.
Hamdani.

ACEHSATU.COM – Pertama sekali rakyat mengucapkan Selamat kepada saudara Yaqut Cholil Coumas atas pelantikan sebagai Menteri Agama Republik Indonesia oleh yang mulia Presiden Joko Widodo beberapa hari lalu.

Posisi Menteri Agama tentu saja sangat prestisius bagi siapapun yang mengincar jabatan sekaligus kementerian ini memiliki peranan penting dalam kehidupan umat beragama di Indonesia.

Bagi Tuan Presiden mengangkat dan memberhentikan para pembantunya dalam hal ini para menteri (K/L) adalah hak prerogatif yang dijamin undang-undang. Artinya terserah Tuan Presiden.

Bukan Jokowi namanya bila tidak membuat kejutan dalam setiap keputusan dan kebijakannya. Bahkan bisa berubah dalam hitungan jam padahal sudah diumumkan ke publik. Sehingga tak jarang Jokowi dianggap Presiden yang suka plin plan.

Termasuk penunjukkan Yaqut Cholil Coumas sebagai menteri. Banyak yang bertanya, apa sih keahlian Yaqut? Bagaimana kapasitas dia mengelola isu-isu keagamaan? Intinya dia sangat diragukan oleh kalangan umat, terutama dari umat Islam sendiri.

Kontan saja jelang beberapa saat setelah dirinya dilantik, besoknya Yaqut langsung keluarkan pernyataan yang agak kontroversi, berkaitan dengan afirmasi Syiah dan Ahmadiyah.

Asal tahu saja bahwa kedua kelompok tersebut diatas sangat bertentangan dengan ajaran Islam walaupun mereka menamakan dirinya Islam. Syiah dan Ahmadiyah termasuk sesat dalam ajaran Rasulullah Saw.

Akibatnya pro kontra pun bermunculan. Situasi kembali gaduh seperti semasa Menteri Agama sebelumnya yang berlatar belakang prajurit.

Memimpin Kementerian Agama bukan malah membuat tenang dan teduh justru suka bikin gaduh dengan pernyataan-pernyataan yang sensasional.

Baca Juga Artikel Menarik Lainnya: Layakkah Habib Rizieq Syihab Dipenjarakan?

Hari-hari ini Menag Yaqut kembali keluarkan pernyataan. Kali ini narasi populisme Islam. Yang ia gambarkan sebagai perilaku berbahaya bagi keberlangsungan berbangsa dan bernegara oleh umat Islam.

Yaqut Cholil Qoumas mengatakan, pihaknya tidak akan membiarkan populisme Islam berkembang di Indonesia. Populisme merupakan usaha untuk menggiring agama menjadi norma konflik.

“Agama dijadikan norma konflik itu dalam bahas ekstremnya, siapapun yang berbeda keyakinannya, maka dia dianggap musuh dan karenanya harus diperangi. Istilah kerennya itu populisme islam,” ujar Gus Yaqut dalam sebuah acara webinar lintas agama, Ahad (27/12/2020).

Demikian ucapan Yaqut yang dikutip dari detikcom.