Pon Yahya Resmi jabat Ketua DPRA, Dahlan Jamaluddin jabatan Bukan Warisan

Jabatan politik bukanlah hadiah, tapi merupakan amanah dan tanggung jawab untuk memperjuangkan aspirasi rakyat, menjalankan cita-cita luhur, menegakkan keadilan, dan kesejahteraan rakyat.
Safaruddin jabat Plt Ketua DPR Aceh gantikan Dahlan Jamaluddin

ACEHSATU.COM | Banda Aceh – Pon Yahya Resmi jabat Ketua DPRA, Dahlan Jamaluddin jabatan Bukan Warisan

Sebelumnya Wakil Ketua III DPR Aceh Safaruddin ditetapkan sebagai Pelaksanaan Tugas (Plt) Ketua DPRA menggantikan Dahlan Jamaluddin yang telah diusulkan pergantiannya oleh Partai Aceh dengan Saiful Bahri alias Pon Yahya.

“Hari ini para pimpinan menunjuk saya sebagai pelaksanaan tugas sementara Ketua DPRA sambil menunggu surat keputusan Kemendagri,” kata Safaruddin, di Banda Aceh, Senin.

Jabatan Plt Ketua DPRA tersebut diberikan untuk mengisi kekosongan jabatan pimpinan dan telah sesuai tata tertib DPRA.

Dalam waktu dekat, kata Safaruddin, pihaknya segera menyerahkan SK pergantian tersebut kepada Gubernur Aceh untuk kemudian diberikan kepada  Mendagri.

“Untuk hasil keputusan dari Kemendagri tidak akan lama lagi sudah turun,” ujar politikus Gerindra itu.

Seperti diketahui, DPA Partai Aceh telah mengusulkan pergantian antar waktu Ketua DPRA Dahlan Jamaluddin dengan Saiful Bahri alias Pon Yahya. 

Surat usulan pergantian tersebut diserahkan pekan lalu oleh Jubir Partai Aceh Nurzahri kepada Wakil Ketua II DPRA Hendra Budian dan didampingi Wakil Ketua I Dalimi. 

Rapat Paripurna pergantian ketua Dewan Perwakilan Rakyat Aceh berlangsung di Gedung DPRA pada senin (21/03/2022).

Rapat tersebut dipimpin langsung Dahlan Jamaluddin yang sebelumnya menjabat Ketua DPRA.

Dikutip dari Halaman Facebook Dahlan Jamaluddin menuliskan, Jabatan Bukan Warisan.

Hari ini saya memimpin rapat paripurna pergantian Ketua DPR Aceh dari Fraksi Partai Aceh sisa masa jabatan tahun 2019-2024.

Setelah rapat paripurna tadi, purna sudah tugas saya sebagai Ketua DPR Aceh. Dalam waktu yang tidak lama lagi, rakyat Aceh akan memiliki Ketua DPR Aceh yang baru, kolega dan saudara saya Saiful Yahya atau Pon Yahya.

Saya ingin menegaskan kembali bahwa DPR Aceh adalah lembaga politik pemegang mandat dari rakyat. Gerak langkah anggota DPR Aceh dalam menjalankan mandat rakyat tersebut didasari oleh aturan perundang-undangan yang berlaku.

Selain aturan legal, perjalanan seorang wakil rakyat dalam parlemen juga dipagari oleh etika dan moral yang harus kita junjung tinggi.

Jabatan bukanlah warisan dan bukan sesuatu yang dapat diwariskan.

Jabatan politik bukanlah hadiah, tapi merupakan amanah dan tanggung jawab untuk memperjuangkan aspirasi rakyat, menjalankan cita-cita luhur, menegakkan keadilan, dan kesejahteraan rakyat.

Jabatan ketua DPR Aceh adalah amanah yang diberikan oleh Partai Aceh kepada saya, sebagai partai pemenang pemilu legislatif tahun 2019.

Ketika pimpinan Partai Aceh memberikan amanah Ketua DPR Aceh kepada sahabat saya yang lain, maka saya selaku kader tunduk dan patuh terhadap keputusan tersebut.

Sebagai seorang politisi Partai Aceh, yang notabene partai yang lahir dari ruh perjuangan, saya akan selalu memegang teguh sikap sebagai seorang pejuang; siap untuk memimpin dan siap pula untuk dipimpin.

Sebagai politisi yang diutus oleh partai, sudah sepatutnya bagi kita semua untuk tunduk dan patuh terhadap arahan dan perintah pimpinan partai.

Itulah etika moral yang harus saya pegang teguh untuk mewujudkan cita cita partai kedepannya. Sami’na wa atha’na.

Saya mengucapkan selamat kepada kolega dan saudara saya Saiful Yahya (Pon Yahya) yang akan melanjutkan estafet sebagai pimpinan DPR Aceh.

Saya akan selalu mendukung setiap gerak langkah Pon Yahya dalam parlemen Aceh. Semoga di bawah nakhoda Pon Yahya, DPR Aceh akan semakin kuat dan amanah dalam menjalankan fungsi dan tugasnya.

Saya menyampaikan terima kasih yang tak terhingga kepada pimpinan Partai Aceh, terkhusus kepada Mualem dan Abu Razak, yang telah memberikan kesempatan yang luar biasa kepada saya untuk menjabat Ketua DPR Aceh sekitar dua tahun lima bulan lamanya.

Pengalaman dan pembelajaran yang luar biasa bagi saya. Terima kasih juga saya sampaikan kepada seluruh jajaran KPA dan kader Partai Aceh di seluruh Aceh.

Sebagai seorang manusia, saya tak pernah luput dari kesalahan. Saya memohon maaf atas segala kekurangan saya kepada seluruh rakyat Aceh, kepada para pimpinan dan segenap anggota DPR Aceh selama saya memimpin lembaga ini.

Terima kasih dan permohonan maaf saya haturkan kepada Paduka Yang Mulia Wali Nanggroe Aceh Tengku Malik Mahmud Alhaytar, kepada seluruh unsur Forkopimda; Gubernur Aceh, Kapolda Aceh, Pangdam Iskandar Muda, Kepala Kejaksaan Tinggi Aceh, dan juga kepada seluruh instansi vertikal lainnya serta segenap Satuan Kerja Perangkat Aceh.

Segala kekurangan adalah milik saya, dan segala kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT.

Selanjutnya ketua DPRA di ganti oleh Saiful Bahri.