Polemik Mesin HD di RSUZA yang Tak Difungsikan, Begini Komentar Pengurus Pernefri Indonesia

Logo Penefri
Logo Pernefri Indonesia

ACEHSATU.COM | BANDA ACEH – Perhimpunan Nefrologi (Pernefri) Indonesia angkat bicara terkait alat kesehatan yakni mesin cuci darah (HD) di Rumah Sakit Umum Zainal Abidin (RSUZA) Banda Aceh yang hingga kini belum juga difungsikan.

Menurut salah seorang pengurus organisasi tersebut, dalam lingkup nefrologi, tidak boleh ada alat kesehatan yang dibutuhkan untuk melayani pasien, namun sengaja dibiarkan tak terpakai.

BACA JUGA: Soal Mesin Cuci Darah di RSUZA Tak Difungsikan, DPRA Sebut Ada Oknum yang Bermain

“(Harus terpakai) asal memang jumlah mesinnya belum cukup memenuhi,” kata anggota Bidang Organisasi Pengurus Besar Pernefri Indonesia, dr Syafrizal Nasution SpPD-KGH, saat dihubungi acehsatu.com, Kamis (8/4/2021).

Syafrizal menjelaskan, pengoperasian mesin cuci darah pada unit hemodialisa dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan ketersediaan sumber daya manusia yang mengoperasikannya.

“Ada rasio antara jumlah mesin yang ideal dengan jumlah perawat,” ungkapnya.

Lebih lanjut dokter yang sehari-hari bertugas di Rumah Sakit Adam Malik Medan ini menegaskan, penambahan alat HD sangat bergantung kebutuhan pelayanan pasien.

Menurut Syafrizal Nasution, apabila pengoperasian alat HD sangat dibutuhkan untuk pelayanan pasien maka tidak perlu ada penolakan. Begitu pun sebaliknya.

BACA JUGA: DPR Aceh Sorot Pelayanan di RSUDZA: Tak Ada Petugas yang Standby

“Kalau alat HD yang tersedia masih cukup dan memadai, dan tanpa memakai alat yang baru pun tidak ada pasien yang tidak terlayani ya normal aja itu. Bukan masalah lah (jika tidak terpakai),” tuturnya.

Selanjutnya, Syafrizal menyebut sebelum mesin HD dioperasionalkan maka penting dipastikan terkait ketersediaan sumber air yang memenuhi syarat, seperti bebas mikroba dan harus steril.

“Pernefri itu konsen di situ, bukan nama merek dan harga mesin,” ungkapnya.

Sehingga, kata dia, tidak pernah sejarahnya dokter menolak merek mesin tertentu.

“Ini juga terkait nama baik. Kami harus jaga kondite dan kode etik. Salah satunya kepentingan pasien yang utama,” tandas Syafrizal. (*)

BACA JUGA: Kepala Instalasi Hemodialisa RSUZA Akui Tak Tahu Ada Alat Cuci Darah yang Tak Difungsikan