Polda Aceh Sinyalir Keterlibatan Sindikat Perdagangan Orang di Balik Kaburnya 8 Perempuan Imigran Rohingya

Sinyalemen keterlibatan sindikat ini diperoleh setelah petugas kepolisian mengamankan dua orang warga asal Sumatera Utara yang diduga akan menjemput imigran Rohingya di kamp penampungan Lhokseumawe.
singikat perdagangan orang
ILUSTRASI - Polda Aceh sinyalir keterlibatan sindikat perdagangan orang di balik kaburnya 8 perempuan imigran rohingya. | Foto: NET

ACEHSATU.COM | BANDA ACEH – Kepolisian Daerah (Polda) Aceh kini tengah mendalami kemungkinan adanya keterlibatan sindikat perdagangan orang dalam kasus kaburnya delapan perempuan imigran Rohingya.

Sinyalemen keterlibatan sindikat ini diperoleh setelah petugas kepolisian mengamankan dua orang warga asal Sumatera Utara yang diduga akan menjemput imigran Rohingya di kamp penampungan Lhokseumawe.

Demikian antara lain disampaikan Kabid Humas Polda Aceh Kombes Pol Winardy, yang didampingi Kapolres Lhokseumawe AKBP Eko Hartanto, dalam keterangan persnya, Rabu (19/1/2022).

Dijelaskan Kabid Humas, dugaan adanya keterlibatan sindikat Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) itu muncul setelah warga mengamankan dua pria asal Sumatera Utara berinisial AF (47) dan RAH (22).

Kedua diamankan pada tanggal 18 Januari 2022, di Desa Kandang, Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe saat hendak menjemput imigran Rohingya.

“Mereka diduga kuat akan melakukan penjemputan terhadap Imigran Rohingya yang berada di Penampungan Shelter BLK Desa Menasah Mee Kandang, Kota Lhokseumawe,” kata Winardy.

Kedua pria yang diamankan tersebut merupakan penyedia jasa rental mobil. Mereka mengaku ditelpon oleh seseorang bernama “Udin”.

Mereka diminta untuk menjemput penumpang yang berada di Lhokseumawe dengan tarif Rp2 juta.

Setelah menerima transfer di muka sebesar Rp800 ribu, sambung Winardy, ke duanya berangkat ke Lhokseumawe untuk menjemput target dengan tujuan lokasi yang dikirimkan melalui google map.

Namun, warga yang curiga dengan keberadaan mobil Toyota Inova BK 1776 JT warna hitam yang mereka gunakan.

AF dan Rah pun dibawa ke dalam shelter BLK,  yang selanjutnya diamankan petugas ke Polres Lhokseumawe.

Dari hasil pemeriksaan sementara, mereka mengaku tidak tau siapa yang akan dijemput, karena yang menyuruhnya (Udin) tidak memberi tau dan Udin pun tidak jelas keberadaannya.

Namun demikian, kata Winardy, polisi akan mendalami dugaan adanya keterlibatan sindikat TPPO terkait kaburnya 8 Imigran Rohingya. Karena, modus ini sudah sering digunakan para pelaku.

“Kita akan mencari alat bukti, sejauh mana keterlibatan AF dan RAH. Bila terbukti, maka akan dijerat dengan UU TPPO,” ujar Winardy.

Pengungsi Rohingya
Pengungsi Rohingya. Antara Aceh/Rahmad

Diberitakan acehsatu.com sebelumnya, sebanyak 8 perempuan Rohingya dilaporkan kabur dari kamp penampungan di Lhokseumawe. Hal ini diketahui pada Selasa (18/1/2022) saat tim UNCHR melaksanakan registrasi.

Satuan Tugas Penanganan Pengungsi Rohingya Kota Lhokseumawe menyatakan delapan dari 105 imigran Rohingya kabur dari kamp penampungan di Balai Latihan Kerja (BLK) Kota Lhokseumawe. (*)