Polairud Polres Simeulue Amankan 6 Nelayan Kompresor dalam Patroli Rutin

Polairud Polres Simeulue bersama Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Simeulue serta Pokmaswas berhasil mengamankan 6 nelayan yang diduga melakukan penangkapan ikan menggunakan kompresor dalam Kawasan Konservasi Perairan Pulau Pinang, Pulau Siumat (KKP PISISI), Selasa (15/12/2020).
Nelayan Kompresor
Foto Dok. Polairud Polres Simeulue

Polairud Polres Simeulue Amankan 6 Nelayan Kompresor dalam Patroli Rutin

ACEHSATU.COM | SIMEULUE – Polairud Polres Simeulue bersama Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Simeulue serta Pokmaswas berhasil mengamankan 6 nelayan yang diduga melakukan penangkapan ikan menggunakan kompresor dalam Kawasan Konservasi Perairan Pulau Pinang, Pulau Siumat (KKP PISISI), Selasa (15/12/2020).

Kapolres Simeulue melalui Kasat Polairud Ibda Sudirman Laili yang dihubungi acehsatu.com membenarkan peristiwa tersebut. “Iya bener telah kami amankan satu perahu motor dengan berisikan kompresor dan alat selam beserta 6 awak dalam kegiatan patroli rutin yang kami lakukan pada Senin 14 Desember malam”, ujar Sudirman.

Ibda Sudirman menjelaskan kronologis penangkapan 6 nelayan yang diduga telah melakukan palanggaran yaitu menggunakan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan berupa kompresor udara dalam wilayah KKP PISISI.

Sekitar pukul 20.16 Wib KP. C2 milik Sat Polairud Polres Simeulue bersama DKP dan Pokmaswas bertolak dari dermaga Sat Polairud  Polres Simeulue menuju perairan Utara Simeulue untuk melaksanakan patroli rutin, sekitar empat Mil dari dermaga terlihat cahaya senter milik nelayan, karena curiga, Kp C2 milik Polairud merapat ke perahu motor yang berisi 6 nelayan, dan langsung melakukan pemerikasaan sesuai dengan aturan.

"Sebelumnya perahu yang telah lapas jangkar mencoba berusaha melarikan diri, karena jangkar telah lapas, parahu tersangkut jangkar dan langsung kepergok dengan petugas patroli.", kata Kasat Polairud Ibda Sudirman Laili yang terlibat langsung memimpin kegiatan patroli rutin.

Setelah diperiksa didalam perahu terdapat kompresor udara dan selang beserta beberapa alat selam lainnya yang digunakan untuk menangkap ikan, karena alat tersebut dilarang penggunaan dalam mengambil ikan dan Lopster selanjutnya keanam nelayan tersebut beserta perahu digiliring ke dermaga Sat Polairud Polres Simeulue.

Nelayan Kompresor
Foto Dok. Polairud Polres Simeulue

Adapun ke enam tersangka yang melakukan penangkapan ikan penggunaan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan atau kompresor dalam wilayah konservasi diantarnya berinisial ARS (25), TWP (19), BM (32) dan ASY(20) keempat tersangka merupakan warga Desa Anaao, sedangkan DM (25) warga Desa Blang sebel, dan YL (30) warga Desa Lantik.

Sementara barang yang berhasil diamankan berupa 1 unit Perahu motor beserta mesin 13 PK, 1 unit Mesin kompresor beserta selang 100 meter,  2 pasang Fine atau kaki bebek, 3 buah Masker selam, 2 buah senter selam,  2 tembak ikan dan 2 dakor.

Keenam Nelayan yang diduga melakukan pelanggaran beserta perahu motor beserta isi yang berhasil diamankan dalam kegiatan patroli rutin akan diserahkan ke penyidik Polres Simeulue untuk dilakukan penyelidikan lebih lanjut, "kami telah berkoordinasi dengan Penyidik Polres Simeulue", tutup Ibda Sudirman dengan singkat.

Untuk diketahui di Kabupaten Simeulue,  Pelarangan penggunaan kompresor udara dalam kegiatan menangkap ikan selain dilarang dalam hukum adat laot, penegakan atas aturan larangan penggunaan kompresor diperkuat dengan Surat Edaran (SE) Bupati Simeulue Nomor 523/875/2020 Tentang Peningkatan Koordinasi Penertiban Nelayan Pengguna Kompressor. surat edaran tersebut ditujukan kepada seluruh camat di kabupaten Simuelue.

Hal  tersebut juga diatur dalam Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 Tentang Perikanan yang kemudian diubah dengan Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009, dimana Pasal 9 Ayat (2) mengatur ketentuan alat penangkapan dan/atau alat bantu penangkapan ikan yang mengganggu dan merusak keberlanjutan sumberdaya ikan.

Pada penjelasan Pasal 9 UU tersebut, dirincikan bahwa; alat penangkapan dan/atau alat bantu penangkapan ikan yang mengganggu dan merusak keberlanjutan sumberdaya ikan, termasuk di antaranya jaring trawl atau pukat harimau, dan kompressor. (*)