oleh

Pilot Baru PNA Hasil KLB, Memang Luar Biasa

ACEHSATU.COM – Dinamika politik di tubuh Partai Nasional Aceh (PNA) terus menggeliat, seiring semakin melemahnya pengaruh Irwandi Yusuf dalam memimpin partai berwarna orange itu.

Irwandi Yusuf yang pernah menduduki tampuk pimpinan tertinggi di eksekutif Pemerintah Aceh dua periode terpilih tersebut, kini sedang menjalani hukuman sebagai masyarakat binaan KPK. Irwandi terbukti menerima suap Rp 1,05 miliar bersama dengan staf khususnya, Hendri Yuzal dan orang kepercayaannya, Teuku Saiful Bahri sebagaimana tuntutan Jaksa.

Akibatnya, sejumlah persoalan pun mulai muncul kepermukaan. Ibarat bisul, kini meletus dan mengeluarkan cairan “busuk”. Kontraksi politik dari dalam tubuh PNA sudah lahir kemarin, Sabtu, 15/09/2019 melalui Kongres Luar Biasa (KLB) di Bireun. Adalah reaksi para kader PNA atas situasi terkini politik intenal partai lokal besutan Irwandi Yusuf.

Bila kita lihat lebih dalam, prosesi “melengserkan” Ketua Umum dari posisi tertinggi pengurus partai itu lazim dilakukan. Terlebih mana kala sang “Kapten” dinilai tidak mampu lagi menahkhodai kapal menuju pulau tujuan. Termasuk dalam hal ini, Capt Irwandi Yusuf dipandang tidak dapat lagi secara normal menjalankan fungsinya sebagai Ketum PNA. Sehingga dibutuhkan strategi lain untuk menjaga partai.

Namun yang menarik dan luar biasa dari peristiwa Kongres Luar Biasa yang digelar oleh pengurus partai beranggotakan 25 ribu kader itu adalah tempat pelaksanaannya, justru mereka memilih daerah kelahiran Irwandi Yusuf. Ya, tepatnya di Kota Juang Bireun. Ini seperti menyerang musuh dipertahanannya bahkan dirumahnya sendiri.

Saya jadi teringat ketika Pilpres 2019 lalu. Di mana kubu Prabowo-Sandi yang membuka posko utama perjuangan kubu 02 di Semarang bahkan langsung panetrasi ke Kota Solo bahkan lagi di Kampungnya, dekat rumahnya Jokowi pula. Padahal kita tahu Semarang dan Solo raya itu lumbung suara PDIP dan loyalis Jokowi.

Kata Ketua BPN Djoko Santoso waktu itu, ini strategi menyerang musuh langsung kesasaran mematikan. Masuk ke benteng pertanahannya. Djoko mengulangi bila yang dilakukan oleh BPN adalah strategi menyerang.

Lantas adakah itu pula strategi yang dijalankan oleh Samsul Bahri atau sering disebut Tiyong dan pendukungnya memilih Bireun sebagai tempat KLB partai PNA? Dan agendanya pun tergolong sensitif yaitu melengserkan Irwandi Yusuf dari posisi Ketua Umum PNA di kampung kelahirannya sendiri. Sangat sakral.

Itulah yang menurut hemat saya KLB PNA memang luar biasa. Hasil dari perhelatan tersebut Samsul Bahri alias Tiyong terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Partai Nanggroe Aceh (DPP PNA).

Sebagaimana diberitakan oleh ACEHSATU.com pada Sabtu, (15/09/2019) Tiyong mendapatkan dukungan dari 20 DPW (kabupaten/kota). Sedangkan tiga kabupaten lainnya tidak datang dan memberi dukungan yaitu, Kota Banda Aceh, AcehTamiang dan Aceh Timur. Namun, DPK nya hadir serta memberikan dukungan kepada Tiyong.

Naiknya Tiyong sebagai pilot baru di tubuh PNA tentu akan mengubah peta politik Aceh bahkan mungkin Nasional. Pada skala lokal diperkirakan akan ada riak-riak protes atau penolakan dari sebagian pendukung Irwandi Yusuf dan Darwati Agani terhadap hasil KLB. Boleh jadi Ketua Umum partai lokal lainnya juga akan mengkalkulasi ulang rencana koalisi dengan PNA.

Sementara pada tataran nasional. Terpilihnya Tiyong barangkali lebih menguntungkan daripada Irwandi Yusuf memimpin partai PNA. Artinya Tiyong dipandang belum memiliki kapasitas dan pengalaman politik sekelas Irwandi. Sehingga pusat tidak terlalu menguras energi guna mengawasi atau memantau pergerakan politik Aceh. Singkat kata Tiyong tidak membahayakan Jakarta.

Menangggapi hasil KLB kemarin, seorang warga yang tidak mau dituliskan namanya mengatakan kepada penulis begini.

“Bagaimana mungkin seorang Ketua Umum mengendalikan partai politik dibalik jeruji besi, sedangkan politik itu membutuhkan sikap atau perilaku bersih dan dituntut mampu beraktivitas tinggi. Jelas bagi Bang Wandi tidak cocok lagi untuk posisi ketua saat ini,” Kata salah seorang warga Kota Banda Aceh di sebuah warung kopi saat saya berbincang-bincang dengannya.

Pun begitu PNA memang harus diselamatkan. Tidak boleh partai lokal yang oleh masyarakat Aceh sangat susah payah melahirkannya dengan Undang-undang lalu dengan mudah kita menghancurkannya sendiri. Sementara Irwandi Yusuf menjalani hukumannya maka sangat eloklah bila Tiyong menggantikan beliau.

Kita senang karena dalam pelaksanaan KLB kemarin semuanya berjalan lancar, aman, dan tertib. Kedewasaan berpolitik kader PNA dan kebijaksanaan masyarakat Bireun dalam menyikapi patut menjadi contoh bagi parpol lainnya. Benar, KLB PNA memang luar biasa.

Selain itu Tiyong juga mengatakan bahwa KLB ini bukan untuk mengkudeta Irwandi Yusuf. Ini pernyataan politik yang menyejukkan dan penuh persahabatan sesaat setelah dirinya terpilih sebagai Plt Ketua Umum partai.

Plt Ketua Umum Partai Nanggroe Aceh (PNA) Samsul Bahri alias Tiyong menyampaikan pidato politik dalam acara pembukaan Kongres Luar Biasa (KLB) partai tersebut, di Aula Kampus Al Muslim, Bireuen, Sabtu (14/9/2019). Dalam sambutannya ia menegaskan bahwa pelaksanaan KLB PNA bukan suatu bentuk kudeta Irwandi Yusuf sebagai ketua umum.

Kami ucapkan selamat kepada seluruh kader dan pengurus partai PNA, semoga ini jalan terbaik menuju Aceh yang lebih baik dan ACEH HEBAT. Wallahua’alam. (*)

Komentar

Indeks Berita