oleh

Pikiran Rancu

-Kolom, Suara Anda-139 views

Oleh Zulfikri

ACEHSATU.COM – Peluh ditelan masa, usia pun kini sudah menua. Rambut-ku kini sudah mulai hitam-putih campuran antara tubuh dan jiwa (bahasa kerennya mulai ubanan). Dibatas otak dan nalar ini tersendak rancunya sebuah pemikiran, asumsi dan persepsi buruk terhadap manusia lain.

Kini, aku telah sadar, bahwasanya nalar lebih tajam daripada “Pedang”. Selama ini aku sudah bersalah, menyematkan nama melata kepada insan-insan yang suci. Sematan terhadap Cebong dan Kampret, PKI dan Penista, serta tak jarang pula kusebut mereka dengan sematan “Bani Sekolam.”

Tubuhku mulai membukuk, rahang gigi mulai lapuk, kulitku pun ikut mengeriput seiring berjalannya waktu. Aku masih seperti dulu, duduk di sudut kota kumuh, asyik mengomentari dan memprovokasi orang lain untuk bertikai antara pikiran dan moral mereka, hanya untuk sebuah alasan, menjadi pagar betis (memasang badan) untuk para pujangga idamanku pada pesta demokrasi 17 April yang lalu.

Baru kusadari, bahwa diriku adalah insan yang fasiq, munafiq sejagat raya ini. Bila pun pakaian dan gelarku “Abudoek culok” megahnya, aku adalah seorang sarjana. Sarjana “Pikiran Rancu”.

Politik hari ini telah membuat pikiran dan akal ku kian sempit, rancu dan mentok diantara selengkangan dan “si aree Breuh”. Aku hanya butuh makan, butuh diakui sebagai bagian dari para pelaku politik, walaupun akal dan harga diriku sudah kutukar dengan pecahan Rupiah. Sebenarnya, marwah dan martabatku murah sekali nilainya.

Bagaimana tidak? Alam, saban hari dan malam selalu menegurku, mencegahku yang sudah tua renta dan bergelimang pangkat dan jabatan ini untuk tidak menafsirkan politik sembuntu itu, namun sayangnya, aku tak juga menyadari nasehat dari Alamku.

Illustrasi. (foto: nalarpolitik)

Kini, baru kutahu, bahwa nalarku bagaikan “Bom Atom” yang mampu merusak tatanan sosial, budaya, dan agama dikalangan masyarakat bawah, serta merusak pundi-pundi luhur demokrasi yang akan diwarisi generasi baru bangsa ini, serta membuat para pemuda negeri menjadi generasi Hoaks dan Sara, terlebihnya menjadi generasi Apatis dan Hipokrit.

Lantas! Apa gunanya gelar, ilmu dan jabatanku? Bila aku menjadi racun pembunuh masa depan bagi anak cucu bangsa ini, bangsaku sendiri?

Disamping itu, yang guranya (anehnya) lagi, otakku tak mampu menerima dan menyaring faktor stimulus yang datang dari luar. Sehingga intuitif dan hilostik sebuah kabar berita menjadi petaka ketika sudah berada di tanganku. Aku merasa leluasa menyebarkan isu apa saja yang sedang melanda negeri ini, tanpa mempertimbangkan efek baik dan buruknya bagi orang lain serta bagi masa depan demokrasi bangsa.

Manakala, bisa jadi aku juga kurang tabayyun (tidak teliti) dalam melihat dan membaca situasi politik yang kian kacau-balau ini. (Penulis adalah mahasiswa jurusan Komunikasi Penyiaran Islam, FDK UIN Ar-Raniry. Email: [email protected])

Komentar

Indeks Berita