ACEHSATU.COM | ACEH BESAR - Di zaman media sosial seperti saat ini, sangat mudah sebuah tempat wisata mendadak ramai dkunjungi. Unggahan-unggahan masyarakat di media social, pribadinya mempengaruhi wisatawan lainnya untuk mengunjungi lokasi tersebut.

Oleh karena itu, disaat sebuah tempat menjadi viral, maka saat itu pula tempat tersebut menjadi ramai dikunjungi orang.

Waduk Keuliling,Kuta Cot Glie, Aceh Besar, Indonesia

Pantauan media ACEHSATU.COM, saat ini masyarakat Aceh Besar dan sekitarnya mungkin pernah mendengar kata “Indrapuri”, yang merupakan salah satu bagian dari Aceh Lhee Sagoe (Aceh Tiga Sudut), yaitu Indrapatra, Indrapurwa, dan Indrapuri itu sendiri.

Baca juga: Mangrove Forest Park Langsa Masih Bertengger di Puncak, Kategori Ekowisata Terpopuler di Indonesia

Sesuai namanya, Indrapuri juga tempat peradaban agama Hindu di zaman dahulu, hal ini juga dibuktikan dengan adanya Masjid Tuha Indrapuri, yang merupakan bekas bangunan candi yang kini sudah beralih fungsi menjadi masjid.

Sudut Wisata Waduk Keuliling Terindah di Aceh Besar

Selain itu, Indrapuri juga terkenal dengan kuliner Rujak U Groeh-nya, yaitu rujak yang berbahan dasar batok kelapa muda yang masih empuk. Gadis cantik serta pemandangan perbukitan dan persawahan yang luas juga merupakan bagian pesona Indrapuri yang indah tersebut.

Namun, ditengah sekian banyak postingan tempat indah di Indrapuri, ada salah satu yang justru kini sudah ditinggalkan oleh sebagian masyarakat. Waduk Keuliling terletak di sebuah perbukitan di Indrapuri, berada dalam kawasan Desa Lhoksukon yang berjarak sekitar 15 Km dari jalan nasional Banda Aceh – Medan.

Waduk ini dibangun pada tahun 2002 untuk mengairi sawah-sawah terdekat di Aceh Besar, setelah bencana tsunami waduk ini dipermak sedemikian rupa sehingga ia merangkap sebagai tempat wisata sekaligus. Waduk ini juga merupakan waduk buatan pertama di Provinsi Aceh, ia memiliki daya tamping sebesar 17 juta meter kubik dengan luas genangan 228 Hektar dan catchment area seluas 38,20 Km2.

Kurun waktu 2008 – 2011 adalah tahun emas waduk indah ini, ia menjadi salah satu tujuan wisata favorit bagi masyarakat Aceh Besar – Banda Aceh dan sekitarnya lantaran mampu menyajikan pemandangan yang begitu mempesona. Kios dan kafe-kafe pun berdiri untuk melayani pengunjung, menikmati panorama indah sambil menghirup udara yang sejuk, ditambah kuliner yang menggugah selera menyempurnakan pesona tempat ini.

Namun sayangnya, saat itu belum marak penggunaan smartphone dan budaya selfie, jadi masyarakat hanya mengetahui waduk ini melalui cerita orang-orang atau liputan dari beberapa media cetak. Meskipun begitu, waduk ini tetap dikenal oleh banyak orang sehingga selalu dipadati oleh wisatawan setiap akhir pekan.

Tapi kini Waduk Keuliling ibarat bunga yang ditinggalkan kumbangnya, ia tak ramai lagi, bahkan ditinggal dengan begitu perihnya.

Panorama alam itu kini bagai surga yang ditinggalkan penghuninya, tak dihiraukan lagi dan fasilitas-fasilitas di sana pun habis dimakan kesunyian.

Ia saat ini hanya sebatas waduk penampung air yang mengairi sawah-sawah, tak merangkap lagi sebagai desyinasi wisata yang indah.

Baca juga: AGC Dukung Pengembangan Ekowisata Air Terjun Piramida Desa Alue Barat

Baca juga: Menikmati Air Terjun SKPC di Hutan Sada Kata

Menurun drastisnya wisatawan disana membuat kios-kios terpaksa ditutup, dan semakin menambah lagi kenyataan bahwa dirinya kini benar-benar ditinggalkan. Saat ini hanya terlihat beberapa orang memancing disana, terkadang juga ada beberapa anak muda yang berpacaran, meskipun tetap ada juga beberapa pengunjung yang berwisata tapi itu sangatlah jarang, kebersihan yang tak terjaga lagi jelas menegaskan bahwa Waduk Keuliling sudah kehilangan kumbangnya.

Berkurangnya pengunjung membuat tempat ini memberikan kesan yang angker, bangunan-bangunan kosong dan rusak, sampah yang bertebaran, ditambah lagi pelepasan hwan ternak membunuh pesona Waduk Keuliling.

Masyarakat kampong disana pun tak tahu bagaimana proses waduk ini bisa mati dari keramaiannya, mungkin letaknya yang jauh menjadi salah satu kendala di zaman sekarang, dimana setiap wisatawan ingin yang lebih mudah perjalanannya.

Dan yang paling terakhir adalah kurang euforia pengunjung untuk men-viral-kan kembali tempat tersebut, sehingga banyak kaum-kaum millennial yang belum mengetahui waduk ini bisa mengunjunginya dan menjadikan waduk tersebut kembali eksis seperti sediakala.(*)