ACEHSATU.COM | PORT MORESBY, PAPUA NUGINI  – Pertumbuhan ekonomi Asia-Pasifik terancam  secara signifikan oleh perang dagang global dan meningkatnya proteksionisme (kebijakan ekonomi yang mengetatkan perdagangan antarnegara melalui cara-cara seperti tarif barang impor, batas kuota, dan berbagai peraturan pemerintah yang dirancang uuntuk menciptakan persaingan adil).

Demikian menurut laporan baru yang dirilis Dewan Kerja Sama Ekonomi Pasifik (Pacific Economic Cooperation Council – PECC) kepada ACEHSATU.com, Rabu (14/11/2018).

BACA: Survei PECC: Pertumbuhan Ekonomi Asia-Pasifik Terancam Perang Dagang Global

Laporan tahunan State of the Region ke-13 untuk tahun 2018-19 dari PECC dirilis hari ini saat sidangpara pemimpin politik dan bisnis internasional dalam Pertemuan Pemimpin Kerja sama Ekonomi Asia-Pasifik (Asia-Pacific Economic Cooperation – APEC) di Port Moresby, Papua Nugini.

Berlangsungnya pertemuan para pemimpin APEC membuat lembaga ini tetap diakui sebagai institusi penting di antara para pemangku kepentingan.

Sebanyak 63,4% responden setuju bahwa APEC saat ini sama penting atau lebih penting dibandingkan dengan ketika didirikan pada tahun 1989 lalu, dan 68% setuju bahwa APEC harus fokus pada kebijakan perdagangan untuk mencapai Kawasan Perdagangan Bebas Asia-Pasifik (Free Trade Area of the Asia-Pacific – FTAAP).

Menurut survei pada para pakar kebijakan, lima prioritas utama yang harus dibahas oleh para pemimpin APEC di Port Moresby adalah meningkatnya persaingan perdagangan dan masa depan Organisasi Perdagangan Dunia.

Kemudian sistem perdagangan multilateral, munculnya sentimen anti-globalisasi dan antiperdagangan.

BACA: Era Digital, Masa Depan Tenaga Kerja di Asia Pasifik Terancam Punah, Ini Jenis Pekerjaan Diganti Mesin

Selanjutnya kemajuan strategi pertumbuhan APEC untuk mendorong pertumbuhan yang seimbang,  inklusif, berkelanjutan, inovatif, dan aman Progres dalam mencapai Target Bogor dan FTAAP berinvestasi dalam pengembangan sumber daya manusia di era digital

Mr. Su Ge, Wakil Pimpinan PECC, menyatakan: pihaknya merasa senang APEC mendapatkan penghargaan dan pengakuan sebagai lembaga penting di antara para pemangku kepentingan.

“Kami yakin akan mampu membantu ekonomi mengatasi perubahan-perubahan di dunia, dengan fokus yang lebih jelas pada kebijakan structural, dan terutama pada perdagangan yang inklusif,” kata Su Ge.

Sebagai diketahui, Dewan Kerjasama Ekonomi Pasifik (Pacific Economic Cooperation Council – PECC) adalah organisasi nirlaba internasional yang berkomitmen untuk meningkatkan kerja sama dan dialog di kawasan Asia Pasifik.

PECC didirikan pada tahun 1980, merupakan jaringan tripartit dengan 26 anggota komite yang terdiri atas individu dan lembaga yang didedikasikan untuk misi bersama ini. (*)

Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *