Perilaku Dewan Terhormat, Asyik Tebar Pesona di Akun Media Sosial, Kapan Urus Rakyat?

ACEHSATU.COM – Dunia maya selalu bikin heboh, gaduh dan terkadang membuat terenyuh. Heboh karena banyak sensasi dan pencitraan. Terenyuh karena sering menjadi tempat “menelanjangi” aib orang lain bahkan aib diri sendiri.

Baru-baru ini dunia maya dihebohkan oleh perselisihan atau konflik keluarga Krisdayanti dengan anak-anaknya, mungkin bukan sekali ini saja. Aurel dan Azriel Hermanyah dikabarkan berseteru dengan ibu mereka dan ayah tiri Raul Lemos. Kisah perseteruan itu dipaparkan di dunia maya, media sosial.

Konflik rumah tangga yang sejatinya tidak menjadi konsumsi publik, namun malah diumbar layaknya berita gosip seperti yang ditayang diprogram-program infotainment. Perlu dicatat, saat ini Krisdayanti bukan hanya seorang selebritis tapi juga dewan terhormat.

Masih banyak kasus saling buka aib diri sendiri dan keluarga lainnya yang dengan mudah dapat ditemukan di jagad maya dan sudah menjadi konsumsi publik yang semestinya ditutup rapat-rapat.

Memang ada sebagian yang berpendapat bahwa itu adalah hak pribadi masing-masing orang untuk mengumbar masalah pribadinya di platform apa saja. Termasuk setiap orang memiliki hak untuk berekspresi, –saya sebut tebar pesona– hal itu tidak boleh dilarang sebab undang-undang memperbolehkannya.

Namun pantaskah bila pejabat negara atau anggota dewan yang terhormat berperilaku demikian?

Secara umum setiap orang harus berperilaku sesuai dengan standar etika yang ada. Etika umum ini biasanya berdasar pada nilai-nilai tingkah laku dan ajaran moral yang dianut oleh komunitas setempat atau keyakinan tertentu.

Dalam pandangan awam dan tradisional, membuka aib diri sendiri apalagi aib orang lain dikategorikan sebagai pelanggaran terhadapn nilai etika umum. Apalagi bila hal itu dilakukan di muka umum atau ruang publik seperti di media sosial.

Terlebih anggota dewan yang terhormat, dimana seluruh perilaku dan tindak tanduk mereka telah diatur dan terikat dengan kode etik dirinya sebagai pejabat negara. Anggota dewan merupakan bagian dari “lambang” negara.

Karena itu sangat naif bila tingkah polah dewan yang terhormat itu justru tidak terhormat di muka umum. Hal itu sama saja dengan mempermalukan rakyat dan negara. Sebab mereka adalah ikon negara.

Fakta dewan terhormat yang tidak dapat menjaga kehormatan diri, keluarga, dan rakyat yang diwakilinya saat ini terpampang jelas didepan mata kita. Bahkan rakyat yang malu bila menyaksikan tingkah mereka di media sosial, mereka tak ubah seperti perilaku anak-anak muda yang masih puber dan mencari jati diri.

Padahal usia sang dewan terhormat itu sudah kepala empat, lima, mungkin juga enam. Tetapi mereka seakan tidak menyadari jika tampilan, dan cara aktualisasi diri mereka sudah tidak sesuai lagi. Bikin malu yang melihat.

Ragam gaya dipertontonkan, mulai dari video-video yang penuh pencitraan hingga caption seolah korban prank. Sungguh lucu dewan terhormat macam ini yang lebih banyak menghabiskan waktunya bermain medsos daripada membuat kebijakan untuk menolong rakyat yang sedang hidup dalam kesulitan.

Sebenarnya masyarakat sudah lelah menyaksikan gaya yang dipertontonkan oleh dewan narsis itu. Namun apa daya masyarakat tidak berani untuk mengatakan secara terbuka karena ingin menjaga nama baik orang lain. Semestinya dewan terhormat sadar akan tugas dan kewajiban pokoknya sebagai wakil rakyat.

Ini bukan persoalan tidak ambil gaji dari haknya sebagai dewan terhormat, itu soal lain. Tetapi ini soal lupa akan kewajiban dan tidak peduli pada nasib rakyat yang sejatinya dewan bertindak sebagai penyampai amanah rakyat, pengayom rakyat dari kebijakan politik penguasa yang cenderung oligarki dan tirani.

Namun nyatanya mereka hanya peduli pada diri mereka sendiri saja. Asyik menuruti hobi dan narsis di dunia maya. Sadarlah wahai dewan, banyaklah bermuhasabah atas perilaku yang selama ini dipertontonkan. Bukannya mengabdi kepada negara dan rakyat malah lupa dengan status dirinya. (*)