Perempuan-perempuan Penjaga Hutan di Aceh

Perempuan-perempuan ini mengemban tugas istimewa sebagai penjaga hutan dan satwa yang nyaris punah. Uniknya, mereka menjaga hutan Aceh.
Perempuan Penjaga Hutan
Sekelompok wanita di Kabupaten Bener Meriah, Aceh, memutuskan untuk menjadi pasukan pengawas hutan atau ranger demi kelangsungan rumah semua spesies. Foto Chaideer Mahyuddin/AFP

Dulu, Sumini harus berjuang sendirian untuk menjaga hutan. Dia bahkan berseberangan pendapat dengan suaminya sendiri yang menilai lumrah saat banjir pada 2015 membawa serta kayu.

Sumini tidak bisa diam. Dia terus-menerus menyampaikan pendapatnya kepada suami kalau banjir itu bukan perkara biasa.

Akhirnya suami Sumini mengalah dan menyadari pula ada yang tidak beres dengan begitu banyak kayu dan puing-puing bercampur dengan air banjir yang mengalir dari gunung berapi di dekatnya dan menghancurkan 1.000 rumah penduduk.

Kini, Sumini tidak sendirian mengemban tugas itu. Kelompok yang dibuatnya bahkan membuat salah satu putra Sumini dan istrinya bergabung.

“Ketika kami sampai di sana, saya melihat gunung itu telah gundul,” katanya.

Perempuan-Penjaga-Hutan-1
Kelompok ini juga melacak bukti deforestasi dan penanaman kembali ribuan pohon, dengan bantuan lebih banyak sukarelawan. Foto Chaideer Mahyuddin/AFP

“Saya berkata kepada suami saya ‘Baiklah, jadi inilah alasannya. Hutan telah dihancurkan oleh manusia.’ Saya sangat marah sehingga, sejak saat itu, saya berkata pada diri sendiri bahwa saya akan mengambil peran untuk melindungi hutan. “

Setelah berhasil meyakinkan suaminya, Sumini mencoba mencari dukungan dari pemerintah. Tapi, tim yang baru seumur jagung itu tidak mendapatkan bantuan dari pihak berwenang, kendati telah menyampaikan kondisi lereng bukit yang rusak akibat hilangnya pohon.

“Mereka mengira kami mengada-ada. Makanya kami membentuk tim,” kata Sumini.

Dua kali sebulan, para wanita berjilbab mengenakan topi floppy dan sepatu bot karet sebelum berangkat selama sekitar lima hari setiap kali menjelajahi medan pegunungan yang curam.

Mereka mencari tanda-tanda perburuan dan penebangan, memindahkan perangkap hewan, mendokumentasikan satwa liar endemik dan spesies tumbuhan dan memasang tanda peringatan terhadap aktivitas ilegal, yang mereka laporkan ke otoritas pemerintah.

Kelompok ini juga melacak bukti deforestasi dan penanaman kembali ribuan pohon, dengan bantuan lebih banyak sukarelawan.

Tapi, bahkan langkah-langkah itu tidak mendapatkan respons dari pemerintah Aceh. Bahkan, aksi mereka dicurigai terkait tindakan asusila.

“Orang-orang memiliki gambaran bahwa perempuan mungkin melakukan tindakan asusila di hutan karena biasanya kami didampingi oleh seorang lelaki,” kata Sumini.

“Dan beberapa bertanya: ‘Mengapa kita memiliki perempuan yang melindungi hutan? Itu bukan urusan mereka’.”

Rekrut Pemburu Insyaf (Hal 3)