Perayaan Maulid Ditengah Pandemi Hendaknya Tidak Mengurangi Makna Kecintaan Umat Kepada Rasulullah

Hamdani.

Bagi umat Islam di Aceh bahkan kaum muslimim di belahan dunia merayakan maulid memperingati lahirnya Nabi Muhammad Saw merupakan sebuah tradisi yang sudah mengakar dalam Islam. Hal itu dipandang sebagai bentuk cinta umat Islam kepada Baginda Rasulullah Saw.

Memperingati maulid memang bertepatan pada hari kelahiran beliau. Tentu saja bermakna bahwa pada hari tersebut menandai zaman pencerahan dan kebenaran dimulai. Datangnya Rasulullah Saw sebagai pembawa kabar gembira bagi seluruh umat manusia.

Nabi Muhammad Saw adalah rasul pilihan yang diciptakan oleh Allah untuk membawa risalah kepada hamba Nya agar beriman kepada Allah. Melalui Baginda Rasulullah, Allah menyeru agar manusia bertaqwa dan berbuat baik kepada Nya dan sesama hamba terutama kepada kedua orang tua mereka.

Allah menginginkan agar hamba Nya senantiasa berada dijalan yang lurus. Selalu bersyukur atas segala nikmat yang diperoleh dan mengikuti sunnah-sunnah yang diajarkan oleh Muhammad Saw agar selamat dunia dan akhirat. Sebab itulah Muhammad dihadirkan ke muka bumi. Dan itulah misi utama kerasulannya.

Namun siapa sangka bila ternyata terdapat banyak orang bodoh di dunia ini dan tidak paham sedikit pun akan ajaran Rasulullah namun mereka berani menuduh beliau sebagai seorang pendusta. Mereka mencaci maki Rasulullah yang mulia tanpa menjelaskan apa kesalahannya terhadap mereka.

Baru-baru ini terjadi di Perancis seorang dungu melecehkan Nabi dengan kata-kata yang tidak beradab dan gambar yang tidak sepantasnya. Apakah dengan cara demikian itu menunjukkan beliau hina? Tidak! Justru mereka (penghina) sendirilah yang tampak hina dan sangat rendah.

Bermacam hujatan dan ejekan yang dialamatkan oleh kaum sekuler yang menolak risalah kebenaran kepada Nabi Muhammad bukanlah baru terjadi kali ini saja. Wujud penyakit hati nan kotor itu sudah dimiliki oleh kaum kuffar dan sudah terjadi sejak zaman beliau masih hidup. Kafir Quraisy senantiasa berlaku jahat kepada Muhammad.

Namun hebatnya, meski dicaci, dihina, bahkan diludahi dengan kotoran ke atas wajahnya oleh manusia pendengki dan para kafirun namun beliau justru memaafkan. Rasulullah sedikit pun tidak menaruh dendam kepada mereka yang telah berbuat jahat dan sebaliknya beliau membalas segala perlakuan tersebut dengan kebaikan dan kemuliaan.

oleh karena itu Nabi Muhammad Saw tetaplah sosok yang sangat mulia. Walau pun sekiranya seluruh iblis dan syaitan bersatu untuk mengejek dan menghinakan nya, namun tidak lah mampu mereka hinakan. Sebab kenapa? Karena Rasulullah adalah kekasihnya Allah SWT yang dimuliakan.

Maka sangat lah tepat bila umat Islam harus meneladani sifat-sifat dan kemuliaan beliau dalam bergaul, belajar, berdakwah, bekerja, dan apapun aktivitas yang kita lakukan sehari-hari. Senantiasa selalu berpegang pada ajaran nya dan mengikuti segala perintah atau larangan beliau.

Maka, momentum memperingati maulid 1442 H kali ini sejatinya menjadi titik balik bagi setiap hamba yang beriman untuk bermuhasabah dan mengoreksi diri sendiri. Jika sekiranya telah banyak melenceng dan menyimpang, maka kembali lah kepada jalan yang lurus.

Harus dipahami perayaan/peringatan maulid bukanlah momen pamer makanan mahal-mahal dan mewah. Bahkan itu bukanlah esensi dari memperingati maulid. Soal makanan boleh tidak ada tapi yang paling penting adalah saatnya meneladani sifat-sifat beliau dan menjadi pribadi yang berakhlakul karimah. Itulah subtansi memeringati maulid.

Pun begitu, tidak ada salahnya bila seseorang memiliki kemampuan yang lebih lalu berbagi dengan menyedekahkan kenduri kepada orang lain. Tentu sangat dianjurkan dan karena nya siapa yang berbuat demikian akan mendapatkan kebaikan dunia dan akhirat. Tapi ingat, tentu harus ikhlas.

Sekedar mengingatkan bahwa kenduri maulid sudah sangat masyhur di kalangan umat Islam di Aceh. Hingga hampir saja ada pembenaran bahwa maulid berarti makan kenduri. Lalu tak heran bila setiap bulan rabiul awwal (buleun molor) harga harga barang (sembako) di Aceh merangkak naik alias mahal.

Budaya kenduri maulid memang sangat unik dan mengesankan. Meski di daerah lain juga memiliki cara yang berbeda dalam merayakan maulid. Tapi untuk kenduri maulid di Aceh rasanya belum ada perbandingan nya.

Bagi orang Aceh mampu melaksanakan kenduri maulid untuk membesarkan kemuliaan Rasulullah di bulan bulan maulid (biasanya selama 3 bulan dimulai sejak rabiul awwal) adalah nikmat Allah yang luar biasa.

Sebab itu, biasanya masyarakat Aceh sudah mempersiapkan itu jauh jauh hari sebelum bulan maulid tiba. Tidak terkecuali walau keluarga miskin sekalipun. Mereka berusaha menyisihkan sebagian pendapatan atau dari bharta yang dimiliki (termasuk hewan ternak atau piaraan seperti ayam, bebek, dll) diniatkan untuk kenduri maulid kepada Rasulullah Saw.

Persembahan apapun yang dimiliki oleh umat Islam di Aceh untuk di kenduri pang ulee (kenduri penghulu) tidak ada tawar menawar.

Kondisi hari ini memang berbeda dengan tahun tahun sebelumnya. Era adaptasi baru karena ancaman pandemi Covid-19 telah membawa pengaruh terhadap tradisi maulid. Kenduri yang biasanya digelar dengan makan bersama di lapangan, surau, dan berkumpul seluruh warga desa tanpa perlu protokol macam macam. Namun hari ini hal itu menjadi tidak dibenarkan.

Covid-19 telah memporak-porandakan budaya kebersamaan dan menjarangkan barisan tali persaudaraan umat Islam. Walaupun bukan itu tujuan nya. Namun protokol kesehatan yang telah ditetapkan memaksa setiap orang untuk menjauhi kerumunan dan harus menjaga jarak fisik.

Kebiasaan baru tersebut sangat berlawanan dengan filosofi shalat dan perintah Rasulullah tentang rapatkan shaf. Covid-19 mematahkan Sunnah Rasulullah melalui aturan protokol kesehatan yang diwajibkan oleh pemerintah kepada masyarakat dengan menjarangkan shaf.

Lantas bagaimana? Sederhana saja, apapun kondisi yang kita alami saat ini. Covid-19 jangan menjadi penghalang bagi umat Islam untuk tidak mencintai baginda Rasulullah. Justru ditengah situasi sulit inilah cinta umat Islam diuji apakah masih mencintai rasul nya? atau bahkan melupakannya karena takut Corona. Wallahu’alam. (*)