Peran Wanita dan Baik Buruknya Sebuah Negeri

Peran Wanita dan Baik Buruknya Sebuah Negeri

Oleh Intan Destia Helmi 

ACEHSATU.COM — Dulu, wanita layaknya barang yang dapat dipakai saat dibutuhkan dan dibuang bila tidak digunakan.

Sejak lahirnya berbagai tokoh wanita dalam sejarah perjuangan kemerdekaan di berbagai negara yang ada di dunia, emansipasi wanita menjadi tombak estafet akan langkah kesuksesan wanita hingga saat ini.

Sebut saja Raden Ajeng Kartini, Dewi Sartika, dl yang merupakan tokoh dalam meningkatkan derajat wanita melalui berbagai pergerakan yang menjadikan peran dari wanita sebagai salah satu kunci kemerdekaan nasional dari penjajah.

Disamping peran secara aksi, wanita memiliki peran lain yang memberikan dampak begitu luas bagi perkembangan sebuah negara.

Namun, apakah peran tersebut menjadi tolak ukur yang diperhatikan saat ini?

Jika ada yang berpendapat bahwa wanita tidak perlu bersekolah setinggi-tingginya karena pada dasarnya, tugas wanita adalah menjadi seorang ibu bagi anak-anaknya dan istri bagi suaminya, maka pendapat seperti itulah yang dapat memperlambat kemajuan bangsa ini.

Jika ada yang berkata bahwa ujung-ujungnya tempat yang akan dituju oleh seorang wanita adalah dapur, maka negara ini akan dihantui oleh rasa malu karena pada kenyataanya.

Wanita juga mengambil andil dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa ini, sebut saja Tjoet Nyak Dhien, Tjoet Nyak Mutia, Laksamana Malahayati, dll.

Tetapi, bila bangsa ini menyamakan sistem keamanan bagi pria dan wanita karena faktor dari emansipasi wanita, maka paradigma negara ini dapat diganti dari yang menjunjung tinggi perbedaan menjadi sistem persamaan karena pada hakikatnya.

Wanita membutuhkan perlindungan berkali-kali lipat dibandingkan dengan perlindungan terhadap pria.

Kita sebagai generasi muda sudah seharusnya merubah paradigma masyarakat terkait dengan peran dari wanita, karena wanitalah yang menjadi awal dari perjalanan kemajuan bangsa ini.

Penelitian menunjukkan bahwa 50-60% IQ dari seorang anak diturunkan melalui Ibunya.

Dengan begitu, selain kecerdasan lahiriah, dapat dikatakan pula bahwa aktivitas sang ibu pada saat mengandung mempengaruhi kecerdasan sang anak.

Jika seorang wanita yang sedang mengandung tidak mendapatkan perlakuan khusus, seperti tidak mendapatkan pola nutrisi yang baik, tidak dikontrol aktivitas fisiknya, tidak ada yang mengendalikan emosinya, dsb.

Maka hal tersebut dapat mempengaruhi kondisi fisik kandungannya yang nantinya akan sangat mempengaruhi kondisi mental sang anak.

Bila seorang wanita tidak diberikan pendidikan yang baik, maka didikan terhadap sang anak juga akan berpengaruh pula.

Jadi, bila ada yang mengatakan bahwa bersekolah setinggi-tingginya bukanlah tugas dari seorang wanita, maka generasi yang cerdas dan bermartabat akan dilahirkan oleh siapa?

inilah yang menjadikan alasan mengapa pendidikan menjadi salah satu titik pacu yang harus ditempuh oleh wanita.

Pendidikan bukan hanya diorientasikan kepada pekerjaan, melainkan pendidikan juga dapat membantu wanita dalam menjalani keseharian, terutama dalam mendidik sang anak.

Dian Sastro pernah berkata: “Entah akan berkarir atau menjadi ibu rumah tangga, seorang wanita wajib berpendidikan tinggi karena ia akan menjadi ibu. Ibu-ibu yang cerdas akan menghasilkan anak-anak cerdas.”

Sehingga, tidak akan sia-sia titel yang telah diraih walau sudah sampai tahap doktor sekalipun.

Kecerdasan yang dimaksud bukan hanya kemampuan otak dalam menyerap berbagai ilmu pengetahuan, melainkan juga kemampuan dalam bersikap, berperilaku, menyikapi berbagai permasalahan, karakter pemikiran, kebiasaan, dsb.

Tokoh motivator dunia, Oprah Winfrey pernah berkata bahwa “semua perempuan harus punya kecerdasan, karena dunia terlalu keras jika hanya mengandalkan kecantikan”.

Jika wanita tidak memiliki kecerdasan, apakah negara ini nantinya akan siap dipimpin oleh insan  kurang terdidik yang jiwa kepemimpinannya kusut layaknya tak pernah tergosok?

Pada dasarnya, wanita diciptakan oleh tuhan untuk menghasilkan keturunan dalam melanjutkan tombak estafet perjuangan bangsa.

Jika wanita lebih memilih karir daripada menunaikan tugas utamanya, maka bisa dikatakan bahwa negara tersebut hanya mampu menghasilkan ilmu yang mati.

Karena ilmu tersebut bukannya dihasilkan untuk dilanjutkan oleh keturunannya, melainkan dihasilkan untuk menambah panduan dalam buku semata, yang nantinya dikembangkan oleh negara lain.

Sebut saja Jerman yang merupakan negara otomotif terbaik di dunia, yang angka kelahirannya mencapai 1.51%.

Mereka menghasilkan berjuta ilmu pengetahuan, tetapi kebanyakan wanita yang terdapat di dalam negara tersebut lebih memilih untuk terus menghasilkan sumber daya daripada menghasilkan keturunan.

Maka tak heran bila Jerman dinobatkan sebagai negara dengan populasi tertua kedua di dunia setelah Jepang.

Jika kita beralih ke Indonesia, justru kondisi yang terjadi malah sebaliknya. Hal yang lebih mengkhawatirkan bahwa berdasarkan hasil survey dari BKKBN nasional, angka kelahiran di Indonesia pada tahun 2015 tercatat sebanyak 4,5 juta, hampir sama dengan jumlah masyarakat singapura.

Maka tak heran bila negara ini menduduki posisi keempat terpadat di dunia untuk populasi penduduknya.

Ditambah lagi dengan hasil survey oleh Badan Pusat Statistik, Pusat Data dan Kebudayaan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan yang menyatakan bahwa 3,4 juta perempuan Indonesia masih buta huruf.

Inilah yang menjadi perhatian khusus karena dengan angka kelahiran yang tinggi, harusnya tidak dibarengi dengan angka buta huruf yang tinggi.

Angka buta huruf ini disebabkan oleh kurangnya pendidikan, sehingga sudah menjadi kewajiban bagi wanita untuk menempuh pendidikan.

Jika wanita Indonesia mampu mengimbangi antara mencari ilmu dan menghasilkan keturunan yang terdidik, tentunya negara ini akan memiliki penerus yang dapat mensejahterakan rakyat dalam jumlah besar di masa depan.

Sudah menjadi kewajiban kita sebagai generasi muda untuk mengajak wanita di seluruh Indonesia dalam hal merubah orientasi kehidupannya.

Mari kita bersama-sama mengajak wanita untuk terus meningkatkan kapasitas dirinya menjadi seseorang yang cerdas dan cermat serta berpendidikan.

Karena ilmu yang kita dapatkan bukan hanya habis oleh masa karena didekasikan kepada lembaga dan diri sendiri, namun juga kepada keturunan kita yang merupakan generasi penerus bangsa. (*)