oleh

Penyakit Ekonomi Bagi Aceh dan Ini Obatnya

-Kolumnis-190 views

Oleh Irsyad Iskandar

Aceh adalah salah satu daerah termiskin di Indonesia.

Tingkat kemiskinan nasional adalah 10 persen—kemiskinan di Aceh sampai 15,68 persen.

Tetapi menurut Zainal Arifin Lubis (dari Bank Indonesia) dalam laporannya pada Oktober 2018.

Ekonomi Aceh tumbuh pada tingkat yang sedikit lebih tinggi dari rata-rata nasional 5,74 persen per tahun, dibandingkan dengan 5,14 persen di seluruh negara.

Namun, seperti yang dia tunjukkan, bagian-bagian ekonomi yang sedang tumbuh adalah pertambangan, kebunan (minyak kelapa sawit, kopi, & rempah-rempah), dan peningkatan pengeluaran pemerintah.

Kalau kita melihat pada area-area di mana ekonomi Aceh tumbuh, itu menunjuk ekonomi Aceh kenak penyakit mendalam dan meluas, yang bikin rakyat Aceh tetap miskin, yang sangat rentan terhadap krisis nasional dan internasional, yang tidak berkelanjutan, dan yang paling terburuk dari semuanya tidak menghasilkan pekerjaan untuk sebagian besar rakyat Aceh.

Dilema Kita Sekarang

Pertamanya, kalau kita melihat pertambangan dan kebunan (kelapa sawit, kopi, & rempah-rempah) kita dapat melihat bahwa bisnis ini sangat rentan terhadap perubahan permintaan internasional yang mengakibatkan fluktuasi harga yang tinggi .

Kami melihat ini di industri pertambangan pada tahun 2012 ketika permintaan bahan baku di China jatuh, mengakibatkan kebangkrutan banyak perusahan tambang di Aceh.

Kita bisa lihat juga masalah saat ini sama perusahan kelapa sawit pas Uni Eropa memulai kebijakan negative untuk CPO.

Dari contoh-contoh ini, kita bisa melihat pertumbuhan yang berasal dari sektor-sektor bisa terhapus ketika angin berubah arah. Ini dengan sendiriya menujukkan kelemahan fondasi industry Aceh untuk pembangunan ekonomi jangka panjang.

Kedua, industri-industri ini tidak benar-benar menghasilkan banyak pekerjaan bagi masyarakat Aceh. Mereka sering berbasis di lokasi terpencil dan penduduknya— terutama bener untuk tambang dan kebunan.

Gara-gara ini,banyak perusahan sering impor pekerjaannya dari luar Aceh dari ada orang lokal karena pada kasus ini tidak ada perbedaan sama pekerjaan Aceh atau dari luar.

Ini karena keduannya harus kepindahkan ke arah terpencil itu dan harus jauh dari keluarga mereka untuk waktu yang lama.

Kalau kita mendasarkan perekonomian kita pada industri-industri seperti sektor-sektor ini, berarti orang lokal Aceh harus bersaing dengan orang luar untuk mendapatkan pekerjaan.

Ini akan melanjutkan tingkat kemiskinan yang tinggi di Aceh, dan tidak hanya untuk jangka pendek saja, tetapi juga untuk masa depan juga.

Namun, penyakit terbesar yang menjangkiti perekonomian Aceh saat ini adalah fakta bahwa untuk kebanyakan orang Aceh cuman ada satu peluang untuk keluar dari kemiskinan, itu adalah bekerja di pemerintahan—dibayar dengan perjanjian damai pasca-2005 dengan pemerintah pusat memompa uang bukan ke swasta Aceh, tapi ke sektor publik.

Para pemimpin Aceh tidak bodoh, mereka mengerti sepenuhnya bahwa industri-industri di Aceh tidak benar-benar bermanfaat bagi rakyat Aceh atau kelas bisnisnya.

Sebaliknya mereka menguntungkan industriawan dan pemegang saham di luar provinsi yang mengambil keuntungan yang dihasilkan dan menempatkannya di lembaga keuangan eksternal daripada diinvestasikan kembali di Aceh.

Sangat mungkin bahwa para pemimpin kami tidak mengerti bagaimana cara mengubahnya.

Jadi alih-alih, yang mereka lakukan adalah meningkatkan ukuran pemerintah provinsi Aceh, karena bukan hanya itu satu-satunya cara mereka tahu bagaimana mencari pekerjaan di mana orang Aceh lokal akan dipekerjakan, tetapi juga karena mereka memahami bahwa orang-orang di posisi ini dapat dikendalikan langsung oleh mereka.

Hasilnya adalah peningkatan korupsi besar-besaran di semua tingkatan pemerintahan dan pembuatan birokrasi tanpa henti (yang seringkali tidak berguna) untuk menciptakan pekerjaan pemerintah (yang seringkali tidak berguna juga).

Ini tidak hanya berlaku untuk institusi pemerintah saja tetapi kontraktor juga.

Yang terjadi adalah ekonomi yang tidak didasarkan pada produksi hal-hal berguna (barang, jasa, dll) tetapi lebih ditentukan oleh politik.

Berarti kesuksesan tidak bergantung pada menjadi pengusaha terbaik tetapi pada menjadi politisi terbaik.

Ini mewakili detak jantung dari kondisi Aceh yang sakit dan korup.

Di sinilah rakyat Aceh biasa terus menderita kemiskinan yang melemahkan sementara masyarakat Aceh yang terburuk mengambil uang rakyat untuk dihabiskan di restoran-restoran dan kedai-kedai kopi di Banda Aceh.

Contoh Visi Perbaikan Ekonomi Aceh

Penyakit ekonomi Aceh sangat dalam dan meresahkan. Tapi, kalua kita sudah mengerti masalahnya dan kita ada pemimpin yang tepat, kita bisa memberikan obatnya.

Utuk jangka pendek-menegah yang perlu terjadi adalah strategi “All of the Above” atau “Semua Hal di Atas” untuk sektor swasta yang turus mendukung industri yang sedang terjadi di Aceh (pertambangan, kebunan, dll), tetapi juga focus pada peningkatan produktivitas industri di mana sebagian besar orang Aceh saat ini menghasilkan pendapatan mereka—yaitu pertanian.

Karena sebagian besar orang Aceh bekerja di pertanian, dan kemiskinan di Aceh sebagian besar terkonsentrasi pada buruh tani, meningkatkan produktivitas industri pertanian Aceh akan berdampak langsung pada pengentasan kemiskinan di daerah yang paling miskin.

Untuk tujuan ini, kepemimpinan Aceh dapat mendukung petani (kebanyakan petani padi) di tiga tingkatan:

  1. Akses ke lahan, teknik yang lebih efektif, benih GMO, & teknologi (meningkatkan produktivitas & kualitas beras)
  2. Akses ke pembiyaan mikro
  3. Bernegosiasi dengan BULOG sehingga para petani Aceh dapat meningkatkan harga jualan mereka—secara efektif meningkatkan gaji mereka

Sejalan dengan langkah-langkah yang disebutkan di atas, kepemimpinan Aceh perlu mengidentifikasi “Low Hanging Fruit” atau “Buah Mudah” yang dapat bermanfat bagi ekonomi dengan modal minimal.

Ini berarti memaksimalkan penggunaan infrastruktur & lokasi yang ada saat ini.

Salah satu “Low Hanging Fruit” yang tersedia untuk Aceh adalah pariwisata. USAID sudah membangun jalan raya di sepanjang selatan Aceh membentang dari Banda Aceh ke Meulaboh.

Daerah ini masih sangat alami dan memiliki pantai, gunung, dan hutan yang sangat indah. Industri parawisata adalah “Buah Mudah” karena keindustrian itu menjual barang-barang yang tidak perlu dibangun lagi—yaitu udara, air, dan tanah.

Yang diperlukan hanyalah memberikan titik akses (hotel/homestay, restoran, dan pemandu wisata).

Walaupun parawisata mungkin menjadi topik bermasalah di dalam politik Aceh, saya percaya bahwa dengan strategi yang tepat dan dengan kerjaan keras, kita dapat mewujudkahnnya.

Perlu diingat, saya tidak menganjurkan untuk mengubah sepanjang selatan Aceh menjadi Bali, melainkan untuk membangun industri yang menghadirkan jenis pelanggan yang ingin kami tarik.

Ini akan membutuhkan Pendidikan bagi orang-orang di desa-desa sepanjang jalan raya USAID, tetapi kita perlu membuat argument yang tepat serta menunjukkan potensi imbalan (dalan hal pekerjaan & peluang) yang akan dihasilkan oleh program semacam itu.

Untuk jalan USAID ada satu contoh lagi untuk “Buah Mudah” yang Aceh bisa gunakan. Sebagian besar perekonomian Aceh Selatan mulai dari tambang, sawah, dan produk pertanian semua bergerak dari selatan (terutama di sekitar Meulaboh) dengan truk ke Banda Aceh.

Kemudiannya dari Banda Aceh ke Medan. Gara-gara ini produk dan barang-barang dari Aceh sering kali lebih mahal karena biaya transportasi sangat tinggi.

Solusi untuk ini adalah dengan menurunkan biaya dengan menggunakan transportasi laut yang jauh lebih murah bila dilakukan dalam jumlah besar, dan untuk melakukan ini.

Kita harus berinvestasi dalam meningkatkan pelabuhan Kreung Raya & mengarahkan pengiriman ke sana sehingga semua barang yang diproduksi di Aceh Selatan dapat pergi melalui pelabuhan—mengurangi harga barang-barang Aceh dan menjadikannya kompetitif di pasar nasional & internasional.

Solusi ketiga yang perlu di lakukan adalah membangun kerangka dasar dan fondasi untuk pertumbuhan ekonomi jangka Panjang. Ini berarti menciptakan lingkungan yang bikin investor dan bisnis ingin memasuki Aceh.

Untuk melakukan ini, kita perlu mengurangi korupsi, membatasi birokrasi & memotong peraturan, menurunkan upah minimum (dengan beberapa pengecualian dalam industri tertentu) untuk membuat tenaga kerja Aceh kompetitif, menghidupkan kembali sistem pendidikan kita,.

Dan penawarkan pelatih kejujuran sehingga tenaga kerja akan memiliki keterampilan yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri, dan bernegosiasi dengan Jakarta untuk dukungan keuangan lebih janjut untuk rencana pembangunan Aceh.

Dari sini, kami fokus pada pengembangan industri masa depan ekonomi Aceh – yang merangkum tidak hanya peningkatan kekayaan kami tetapi juga memungkinkan orang-orang kami untuk mengejar aspirasi mereka dan mencapai potensi tertinggi mereka.

KESIMPULAN

Aceh sangat kaya sama sumber daya. Kami memiliki cadangan besar minyak & gas, logam mulia, komoditas, dan fenomena alam—belum lagi kecerdikan rakyatnya. Lanangan Gas Arun dengan sendirinya mendanai pemerintah Indonesia selama berapa decade.

Satu-satunya cara agar Aceh bisa menjadi miskin adalah melalui manajemen pidana yang salah oleh kepemimpinannya.

Sudah saatnya, kita memperhatikan dengan serius bagaimana tempat yang begitu kaya bisa sangat miskin – dan jelas bahwa kita perlu mengambil tindakan dan akhirnya mengambil tanggung jawab untuk masa depan kita. (*)

*Penulis Mahasiswa asal Aceh di Universitas Georgetown, Doha Qatar

Komentar

Indeks Berita