Penjual Nasi di Siang Hari Diawasi Polisi Syariat

Satpol PP dan Wilayatul Hisbah (WH) Banda melakukan pengawasan terhadap masyarakat yang menjual nasi di siang hari selama Ramadhan 1422 Hijriah.
Penjual Nasi di Siang Hari
Ilustrasi - Petugas Satpol PP dan Wilayatul hisbah mengamankan sejumlah nasi bungkus dan kue basah saat razia satu toko kelontong, Banda Aceh. (ANTARA/Ampelsa)

Penjual Nasi di Siang Hari Diawasi Polisi Syariat

ACEHSATU.COM | BANDA ACEH – Satpol PP dan Wilayatul Hisbah (WH) Banda melakukan pengawasan terhadap masyarakat yang menjual nasi di siang hari selama Ramadhan 1422  Hijriah.

“Ini kita sedang memantau dan terus melakukan razia-razia, kalau ada yang menjual nasi saat siang kita amankan,” kata Kepala Satpol PP dan WH Banda Aceh Heru Triwijanarko, di Banda Aceh, Rabu.

Heru mengatakan, tidak hanya nasi, pemerintah juga melarang masyarakat menjual kue basah sebelum sampai waktu yang telah ditetapkan, yakni setelah shalat ashar atau pukul 16.00 WIB.

“Karena itu kita lakukan razia di semua tempat usaha nasi, kalau kedapatan maka akan langsung kita ditindak,” ujarnya.

Penjual Nasi di Siang Hari
Ilustrasi – Petugas Satpol PP dan Wilayatul hisbah mengamankan sejumlah nasi bungkus dan kue basah saat razia satu toko kelontong, Banda Aceh. (ANTARA/Ampelsa)

Heru menyampaikan, Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kota Banda Aceh telah melarang pengusaha rumah makan, cafe, super market, hotel dan tempat hiburan menjual makanan dan minuman untuk umum mulai imsak sampai pukul 16.30 WIB.

Kemudian, pemerintah juga meminta semua jenis usaha dan jasa di Banda Aceh tidak beraktivitas mulai shalat isya hingga selesai tarawih. Baru dapat dibuka kembali pukul 21.30 WIB hingga 24.00 WIB.

Forkopimda juga melarang kegiatan karaoke, mengoperasikan permainan billyard, serta berbagai jenis game online dan hiburan lainnya selama bulan suci Ramadhan.

“Atas dasar seruan tersebut kita akan terus memantau, mengawasi dan melakukan razia-razia tempat usaha guna memastikan tidak menjual nasi saat siang hari,” kata Heru. (*)