Pengamat Ekonomi: Hidupkan Sentra-sentra Produksi Pertanian Berbasis Industri

"Aceh selama ini lebih banyak menjadi konsumen dari pada sebagai produsen, masyarakat Aceh hanya menjadi konsumen belaka,"
Foto Ilustrasi/Tribunnews

ACEHSATU.COM | BANDA ACEH – Pengamat ekonomi Fakultas Ekonomi Universitas Serambi Mekah (USM) Aceh Dr Badaruddin, MDM memberikan penilaiannya terhadap fenomena kemiskinan di Aceh yang saat ini ramai diperbincangkan.

Kepada ACEHSATU.COM, Kamis (18/2) doktor jebolan USK itu mengatakan, “Aceh selama ini lebih banyak menjadi konsumen dari pada sebagai produsen, masyarakat Aceh hanya menjadi konsumen belaka,” ujarnya.

Hal itu ia katakan ketika diminta tanggapannya terkait rilis laporan BPS Aceh yang menempatkan Aceh sebagai provinsi paling miskin di Sumatera.

Menurut Badaruddin apalagi dimasa pandemi Covid-19 banyak sentra-sentra ekonomi masyarakat tidak berkembang, baik sektor pertanian yang berbasis industri atau industri lain, akibatnya masyarakat tidak menghasilkan pendapatan.

Karena itu masyarakat Aceh hanya menjadi konsumen. Disini lain terjadi penurunan daya beli yang cukup drastis akibat pendapatan tidak ada.

Hal ini tentu harus menjadi perhatian pemerintah Aceh kedepan untuk mengembangkan industri tersebut menjadi sumber ekonomi produktif masyarakat, meskipun skala UKM, sehingga mereka memiliki pekerjaan dan penghasilan.

Alternatif lain bisa saja Pemerintah Aceh mendorong efektivitas anggaran dari APBN/APBA dan sumber pendanaan lain misalnya dana masyarakat untuk melakukan akselarasi pengentasan kemiskinan.

Dosen Fakultas Ekonomi USM ini menilai pemerintah daerah harus menggenjot sentra-sentra pertanian, kawasan atau industri yang memberikan nilai tambah (value added) lebih tinggi agar dana masyarakat tersebut bisa berkembang di sentra yang mengalami pertumbuhan.

Ia menambahkan “selama ini bahkan sudah bertahun-tahun hal itu tidak terjadi. Masyarakat hanya tok konsumen belaka.”

Jika hanya sebagai konsumen maka tentu saja nilai tambah tidak pernah didapatkan, padahal Aceh adalah daerah yang sangat subur.

“Aceh harus menghidupkan sumber ekonomi produktif terutama sektor pertanian da industri yang berbasis peningkatan nilai tambah”, pungkasnya. (*)