Liputan Khusus

Pengakuan Tersangka Sodomi Anak di Abdya: Masih Banyak Pelaku Lain Berkeliaran

“Ada beberapa diantara korban saya, juga merupakan korban dari pelaku lainnya, saya mengetahui hal itu karena mereka juga sering bermain ke kebun saya,”

Foto | Mimi Saputra

ACEHSATU.COM | ACEH BARAT DAYA – Aksi kejahatan kaum sodom sudah sangat mengkhawatirkan masyarakat saat ini. Seperti yang terungkap baru-baru ini, seorang oknum PNS Sekretaris Desa (Sekdes) di salah satu desa di Aceh Selatan ditangkap atas pelecehan seksual belasan anak di bawah umur di Aceh Barat Daya (Abdya).

Namanya Meurah Ahmad (40), ia ditangkap polisi pada Rabu (30/1/2018) dan saat ini ditahan di Mapolres Abdya.

Dalam wawancara khusus dengan Wartawan ACEHSATU di Mapolres Aceh Barat Daya, Jumat (2/2/2018) tersangka mengaku bukan hanya dirinya yang melakukan pelecehan seksual terhadap para korban.

“Ada beberapa diantara korban saya, juga merupakan korban dari pelaku lainnya, saya mengetahui hal itu karena mereka juga sering bermain ke kebun saya,” ungkap Meurah Ahmad.

Tersangka juga mengungkapkan, beberapa pelaku penyuka sesama jenis lainnya masih berkeliaran bebas di lingkungan masayarakat Abdya dan beberapa diantaranya suka dengan anak kecil dan orang dewasa.

Pengungkapan tersangka secara gamblang mengindikasikan bahaya yang masih mengancam anak-anak lain di kawasan ini.

“Di Aceh Barat Daya ada sekitar sepuluh orang mungkin masih bekeliaran yang suka sesama jenis, ada yang suka dengan anak kecil ada juga suka dengan orang dewasa,” kata Meurah Ahmad.

Kejadian ini sontak membuat geger warga Abdya, pasalnya ini merupakan kasus pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur dengan jumlah korban terbanyak di Aceh pada tahun 2018.

Sementara itu, kondisi korban sedikit membaik, pihak kepolisan Aceh Barat Daya beserta P2TP2A (Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan & Anak) terus berusaha memberikan trauma healing kepada korban.

Sri Handayani, Anggota Divisi Advokasi P2TP2A (Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan & Anak), mengatakan, sangat diharapkan pemimpin ataupun stokeholder di Aceh Barat Daya sedikit membuka mata akan kasus pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur.

“Jangan tunggu terjadinya kasus, baru menyadari,” katanya.

Pengakuan tersangka ini, menurutnya, bisa menjadi pintu masuk bagi para pihak untuk bertindak mencegah jatuhnya korban lain dari kalangan anak-anak.

“Ini bukan kasus yang kecil, semua elemen dan masyarakat harus bertanggung jawab akan keselamatan anak anak, ini hanya sekelumit yang memang terungkap, namun permasalahan dari awal atau pencegahan dini belum teratasi,” tambah Sri.

Menurut Sri, maraknya penyuka sesama jenis tidak terlepas dari kurangnya pemahaman masyarakat dan juga sedikitnya pemerhatian pemerintah akan kasus seperti ini.

Ia berharap tidak ada lagi kasus seperti ini dan tidak ada lagi ada anak anak menjadi korban kasus seperti ini yang merugikan anak ke depannya. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top