Pemimpin Aceh Celaka Bila…

Abdullah bin Umar mengatakan, Rasulullah SAW berkata, "Ketahuilah bahwa setiap dari kalian adalah pemimpin dan setiap dari kalian akan dimintai pertanggung jawaban atas kepemimpinannya, seorang pemimpin umat manusia adalah pemimpin bagi mereka dan ia bertanggung jawab dengan kepemimpinannya atas mereka."
Hamdani.

ACEHSATU.COM – “Bumi Aceh menggelegar, meronta, dan marah.” Andai emosi bumi tersebut dapat dilihat oleh penduduknya dan para pemimpin Aceh yang menutup mata terhadap perbuatan maksiat.

Wahai para pemimpin, ingatlah bahwa saudara akan dimintai pertanggungjawaban dihadapan Allah kelak atas apa yang terjadi saat ini.

Seluruh peristiwa yang dialami oleh rakyat dalam wilayah kekuasaan saudara akan ditanya oleh Allah SWT sang Raja Diraja.

Abdullah bin Umar mengatakan, Rasulullah SAW berkata, “Ketahuilah bahwa setiap dari kalian adalah pemimpin dan setiap dari kalian akan dimintai pertanggung jawaban atas kepemimpinannya, seorang pemimpin umat manusia adalah pemimpin bagi mereka dan ia bertanggung jawab dengan kepemimpinannya atas mereka.”

Maka, bagaimana saudara bisa membiarkan kemaksiatan merajalela berlaku padahal itu tepat didepan wajah saudara?

Keprihatinan masyarakat terhadap gejala buruk perbuatan maksiat yang sangat mudah dilhat dan didapati di sekitar kita telah memunculkan pertanyaan seakan ada pembiaran oleh pemerintah dan aparat penegak hukum.

Terlebih dengan gelar Serambi Mekah yang terikat dengan hukum Islam sejatinya pemerintah daerah lebih takut terhadap Allah daripada atasannya dalam menegakkan nahi mungkar.

Keresahan yang muncul akibat merajelanya judi online, perbuatan mesum dan zina, LGBT, dan korupsi di Aceh diharapkan mendapat respon cepat dan nyata dari aparat terutama para pemimpin untuk membasminya.

Silakan diberlakukan hukum Islam secara ketat dan mengantisipasi semakin meluasnya kerusakan moral masyarakat terutama generasi muda dan anak-anak.

Pengaruh kemajuan internet memang sangat nyata memberikan dampak negatif terhadap pembentukan akhlak generasi muda.

Publik meminta kepada pemerintah daerah untuk bertindak dalam aksi pencegahan dan penindakan termasuk memberlakukan hukum rajam dan cambuk yang lebih berat terhadap pelaku maksiat tersebut.

Salah satu strategi pencegahan adalah termasuk melakukan pemblokiran situs-situs porno dan judi online secara permanen di wilayah hukum Aceh.

Jika tidak maka kasus-kasus pelanggaran syariat semakin berjamur karena pemerintah tidak melakukan upaya pencegahan dan penegakan hukum.

Kepada masyarakat juga wajib berperan aktif dalam mengawasi pergaulan bebas disekitar pemukiman dan tempat-tempat umum.

Pemilik usaha rumah kos mestinya menerapkan aturan yang lebih ketat untuk mencegah penyalahgunaan tempat hingga menjadi “kamar” perzinahan terselubung.

Apabila hal-hal ini diabaikan maka bukan tidak mungkin Aceh akan kembali Allah turunkan bala dan azab yang lebih dahsyat.

Maka jangan ulangi kesalahan dan dosa seperti yang pernah diperbuat oleh umat sebelumnya dan cukuplah bencana tsunami 2004 menjadi pelajaran.

Bencana tidak perlu diundang, sebab tidak ada seorang pun menginginkan kehancuran dan penderitaan hidup.

Oleh karena itu kembalilah ke jalan yang lurus dengan meninggalkan kemaksiatan, meningkatkan amal ibadah, dan saling peduli dalam mencegah kemukkaran. (*)