oleh

Pemberitaan Media Cenderung Ganggu Stabilitas Harga Garam Aceh  

-Bisnis-77 views

ACEHSATU.COM | BANDA ACEH — Isu panas garam sempat menjadi berita utama nasional sejak beberapa bulan terakhir.

Menghangatnya pemberitaan sektor garam oleh media baik cetak maupun elektronik karena merespon keluhan petani garam terutama di pulau Jawa yang produksi mereka tidak diserap oleh pasar.

Penyebab menumpuknya ribuan ton garam hasil produksi rakyat bukan saja karena ada kebijakan impor yang dilakukan oleh importir yang kurang terukur.

Tapi juga ditenggarai ada permainan harga oleh mafia garam sehingga garam rakyat tidak terserap atau terjual dengan harga normal.

BACA: Pengusaha Garam Siap Dukung Pemerintah Aceh Turunkan Stunting

Menurut sejumlah petani garam kepada ACEHSATU.com Jumat (2/8/2019), penyebab lain turunnya harga garam di Aceh akibat pemberitaan media secara meluas dan masif.

Padahal karakteristik garam Aceh dengan garam di Jawa sangat berbeda.

Terutama pada proses produksi.

“Itu media malah mengganggu stabilitas harga garam di Aceh pak,” kata salah seorang petani dan pengusaha garam Aceh yang tidak mau dituliskan namanya.

BACA: Petani Garam di Aceh Utara Butuh Sosialisasi dan Pelatihan Budidaya Pembibitan Garam dari Pemerintah

Lebih lanjut ia dikatakan padahal di Aceh sudah stabil harga garam.

“Dasarnya nggak murah harga garam pak, itu pembahasaan elit politik pak, untuk bisa mengeluarkan garam impor yang stok digudang pusat penuh. Saya nggak ikut pak komen-komen itu, pasalnya itu bahasan halus sekali, ranahnya mafia garam pak, lon (saya) bukan mafia garam,” begitu katanya dalam pesan WhatSapp yang dikirimkan.

Bahkan secara tajam ia menyoroti media di Aceh yang dinilai juga tidak memihak kepada petani garam Aceh.

“Media itupun nggak memihak ke garam Aceh, dia segaja publish tentang garam, biar Aceh kepanasan”, katanya lagi.

“Harga garam rendah jangan dipublish, itu sama saja menekan harga garam lokal,” ketusnya. (*)

Komentar

Indeks Berita