Pelaku Penyiraman Air Keras ke Novel Baswedan Ternyata…

0
1

ACEHSATU.COM – Tertangkapnya pelaku penyiraman air keras ke wajah penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan disambut antusias oleh masyarakat Indonesia.

Kapolri sebagai pucuk pimpinan tertinggi lembaga penegak hukum dan pengayom masyarakat di negeri ini pun mendapat apresiasi dan pujian publik karena dianggap berhasil menyeret pelaku kejahatan kasus Novel Baswedan yang sudah lama belum terungkap.

Terhitung sejak penyerangan pada (11/04/2017) dilakukan oleh kedua penjahat (eksekutor) yang baru ditangkap Kamis (26/12/2019) sudah mencapai 989 hari. Waktu yang tidak sebentar.

Anda bisa bayangkan bagaimana lamanya kasus ini baru berhasil diungkap dan tersangkanya ditangkap. Ada pertanyaan? Simpan saja!

Seperti banyak berita yang sudah beredar. Meskipun banyak orang yang lagi kaget. Ternyata pelaku kejahatan penyiraman air keras tersebut adalah oknum polisi aktif. Astagfirullah, patut kita beristighfar bila oknum polisi itu benar-benar sebagai pelakunya.

Inilah yang saya ingin sebut sebagai wajah buram dunia penegakan hukum di negara ini khususnya kasus Novel Baswedan. Kenapa buram? Karena memperlihatkan wajah kotor, buruk rupa, dan suram.

Kendatipun begitu, kepada kepolisian patut kita berikan apresiasi. Artinya polisi kita masih ada, masih bekerja dan masih berani menangkap para penjahat pelaku penyiraman air keras ke wajah Novel Baswedan walaupun membutuhkan waktu dua tahun lebih untuk menemukan pelakunya.

Padahal jauh sebelum penangkapan kedua pelaku, Novel Baswedan sendiri pernah menyampaikan bahkan adanya sosok jenderal yang diduga menjadi dalang dibalik penyiraman air keras. Bahkan pula sosok inilah yang menjadi otak dibalik setiap teror yang menimpa para pegawai KPK.

Karenanya publik berharap agar kasus Novel ini tidak berhenti hanya pada penangkapan RM dan RB apalagi dengan motif dendam pribadi. Namun Kabareskrim Polri harus mengusut tuntas sampai keakar-akarnya.

Dugaan keterlibatan aktor intelektual dalam kasus besar ini juga diyakini oleh Mantan Wakil Ketua KPK Laode M Syarief yang berharap agar Polri segera mengungkap motif dan aktor intelektual di balik penyerangan terhadap penyidik KPK tersebut.

Bila kasus ini bisa dibuka seterang-terangnya. Paling tidak psikologi publik yang saat ini sangat terpukul dan tertekan karena penegakan hukum di Indonesia justru dirusak oleh aparatur sendiri sedikit terpulihkan.

Walaupun kondisi ini kemudian membuat rakyat agak kehilangan kepercayaan kepada Kepolisian. Tapi masih lebih baik daripada rakyat tidak lagi menaruh hormat pada penegak hukum sehingga akan berakibat munculnya main hakim sendiri dikalangan masyarakat.

Ya, kita menyadari bila polisi juga manusia. Mereka bukan Malaikat yang bisa bebas dari kesalahan. Kejahatan dapat dilakukan oleh siapa saja. Bahkan ulama, ustadz, pendeta, dan rakyat biasa sekalipun berpotensi untuk melakukan kejahatan.

Yang perlu kita garisbawahi dalam kasus ini adalah pembelajaran yang bisa kita ambil. Bukan untuk siapa-siapa, tapi bagi diri kita sendiri.

Hendaknya kita tidak pernah berurusan dengan hukum. Hindar diri dari pelanggaran hukum yang mungkin terjadi. Sebab jika sudah bermasalah dengan perkara yang satu ini, apalagi kita sebagai rakyat biasa belum tentu akan mendapatkan keadilan. Itu lebih menyakitkan.

Untung saja seorang Novel Baswedan diberikan mental yang kuat oleh Allah Swt. Termasuk keluarganya yang tegar menghadapi dan tabah menerima kejadian yang menimpa Novel. Mungkin bila menimpa kita, belum tentu setegar mereka.

Pelajaran berikutnya. Setiap pekerjaan pasti mengandung resikonya. Apalagi jika bekerja untuk kebenaran dan memberantas kejahatan pastilah resikonya sangat besar, bukan hanya secara fisik bahkan dapat kehilangan nyawa sekalipun.

Kepada kepolisian kita doakan semoga selalu bekerja secara ikhlas dan benar. Sehingga peran polisi dalam menegakkan kebenaran dapat meningkatkan rasa keadilan dan perlindungan bagi masyarakat Indonesia. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here