Pelajar SMP Sabang Olah Sampah Jadi Pupuk Kompos, ini harganya!

 “Hasil dari pupuk kompos ini selain kami manfaatkan untuk keperluan tanaman di sekolah sendiri, juga kami jual untuk in-come tambahan dan juga modal pembuatan pupuk lagi,"
pelajar smp sabang mengolah sampah
Pelajar Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 2 Sabang mengolah sampah organik menjadi pupuk kompos di Kota Sabang.

ACEHSATU.COM | Sabang – Pelajar SMP Kota Sabang olah sampah jadi pupuk kompos, ini harganya!. Dalam Berkreasi tentu saja tidak harus menggunakan bahan yang sesuai dengan tehnologi sekarang ini semua orang mampu melakukannya.

Akan tetapi kreasi dengan bahan seadanya tentu saja tidak sema orang bisa.

Hal ini di manfaatkan Pelajar Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 2 Kota Sabang mengolah sampah organik menjadi pupuk kompos dalam upaya menciptakan lingkungan sekolah yang hijau.

Wakil Kepala Sekolah SMP Negeri 2 Sabang Enni Fairawati mengatakan ide mengolah sampah tersebut berawal dari pola pikir untuk menciptakan sekolah hijau dan memanfaatkan sampah organik di sekolah untuk membuat pupuk kompos.

“Kami menerapkan penghijauan di sekolah, jadi banyak pepohonan dan banyak juga dedaunan yang gugur. Makanya kami berinisiatif untuk membuat pupuk,” kata Enni di Kota Sabang, Jumat (18/2).

Ia menjelaskan pembuatan pupuk kompos itu sudah berlangsung sejak 2009. Program ini sempat terhenti, baru kembali dilanjutkan secara rutin hingga kini mulai tahun 2013.

Sedangkan untuk pemasaran pupuk kompos olahan para siswa tersebut dilakukan sejak 2020. Pupuk tersebut dijual dengan harga Rp10 ribu per 3 kilogram.

Baca Juga: Kejari Kota Langsa Berikan Penyuluhan Hukum kepada Pelajar

 “Hasil dari pupuk kompos ini selain kami manfaatkan untuk keperluan tanaman di sekolah sendiri, juga kami jual untuk in-come tambahan dan juga modal pembuatan pupuk lagi,” kata Enni.

Menurut dia, proses pembuatan pupuk kompos membutuhkan waktu satu bulan untuk fermentasi.

Kegiatan itu diharapkan dapat memotivasi siswa agar peduli lingkungan, menambah pengetahuan serta keterampilan yang mampu memberi pendapatan bagi siswa.

Baca Juga: Ketua dan Wakil Ketua Himpunan Pelajar Mahasiswa Aceh Singkil Banda Aceh dan Aceh Besar Terpilih Secara Aklamasi

Sementara itu, Fasilitator Komposting Afwan Pasaribu menjelaskan proses pengolahan pupuk kompos terbilang cukup mudah dengan memanfaatkan teknologi sederhana

Namun mendapatkan hasil yang maksimal. Dengan memanfaatkan sampah dedaunan di sekolah.

“Dalam prosesnya, untuk menghasilkan pupuk kompos yang bagus memakan waktu lima minggu atau satu bulan untuk pembusukan,” katanya.