oleh

Pejabat atau Pengusaha? Dosen Unair Nilai Sebaiknya Pemesan Hana Hanifah Diungkap ke Publik

-Indeks, Nasional-3.775 views

Pejabat atau Pengusaha? Dosen Unair Nilai Sebaiknya Pemesan Hana Hanifah Diungkap ke Publik

ACEHSATU.COM | BANDA ACEH – Kasus prostitusi yang melibatkan artis FTV Hana Hanifah  masih terus menjadi pembicaraan. Artis asal Ibukota itu tertangkap basah dalam kondisi tanpa busana lengkap di sebuah kamar hotel berbintang di Kota Medan bersama seorang pria berinisial A yang diduga pemesannya.

Namun kemudian, Hana akhirnya dibebaskan dan hanya berstatus sebagai saksi. Berbeda dengan Hana, yang identitasnya terpublikasi, pria A yang disebut sebagai pengusaha ini justru tak diungkap.

Sementara jika ditilik pada banyak kasus prostitusi terdahulu yang berhasil diungkap kepolisian, rata-rata pemakai jasa prostitusi artis seringkali berasal dari kalangan pejabat dan pengusaha. Kalau tidak pejabat, ya pasti penguasa. Itupun bukan penguasaha sembarang, sudah pasti penguasaha yang berkantong sangat tebal.

Tetapi faktanya, dari banyak kasus tadi, tak satupun indentitas pemesan yang diungkap secara jelas ke publik.

Melansir detikcom, pengamat feminisme Dwi Rahayu Kristianti menjelaskan kenapa setiap pria hidung belang pemesan artis selama ini cenderung ditutupi. Sebab, pria hidung belang ini bukan orang sembarangan.

“Kita lihat saja untuk bersenang-senang bisa membayar 20 juta itu pasti bukan orang sembarangan. Itu kan yang minim, kalau yang kemarin misalkan artis VA dulu pernah ada list-nya ada 60 juta sampai 80 juta. Itu pasti bukan orang sembarangan,” ujar Rahayu dikutip detikcom.

“Kalau bukan orang sembarangan pasti punya backingan. Bisa jadi dalam bentuk materi atau dalam bentuk kenalan untuk menutup (identitasnya) itu,” imbuhnya lagi.

Selain bukan orang sembarangan, Rahayu juga menyebut adanya relasi kuasa yang tidak imbang dalam teori feminisme. Sebab dalam hal ini pria hidung belang adalah pembeli dan yang punya kuasa untuk menutup identitas siapa dirinya.

“Nah kalau kemudian saya melihatnya dari teori-teori feminisme, saya melihat adanya relasi kuasa yang tidak imbang. Misalkan yang perempuan ini meskipun artis tapi tidak imbang. Sebab dia dibeli. Jadi kalau sudah dibeli harus nurut dengan apa kata pembeli,” jelasnya.

“Jadi karena ada relasi kuasa yang tidak imbang sehingga pembelinya ini bisa menutup, membungkam beberapa pihak agar tidak terekspose,” tambah dosen Fakultas Hukum Unair itu.

“Dan kalau kita lihat para pelanggan kalau gak pejabat ya pengusaha, pengusaha pun itu bukan pengusaha ecek-ecek. Nah ini saya melihatnya ada relasi yang tidak imbang. Bahkan polisi juga tidak bisa membukanya,” tandas Rahayu. (*)

Indeks Berita