oleh

Paya Nie, Potensi Wisata yang Terlupakan

ACEHSATU.COM — Legenda Paya Nie menyimpan segudang misteri, mulai dari mistis hingga proses terjadinya Paya Nie.

Paya Nie yang berlokasi di Kecamatan Kuta Blang, Bireuen, Aceh hingga kini masih misteri.

Berdasarkan cerita rakyat, Paya Nie terjadi karena adanya sebuah kutukan, entah benar atau tidak, cerita turun temurun masing segara dalam ingatan penulis.

Paya Nie terjadi  karena kutukan, Nek Nie yang tinggal disana berhajat untuk mengawinkan putri semata wayang, ia tidak boleh menginjak kaki diatas tanah sebelum ditepung tawari pada hari pernikahannya karena adanya sebuah hajat dari sang ibu.

Nek Nie berhajat, jika putrinya dilamar, sejak proses lamaran hingga pernikahan, putrinya tidak boleh turun dari rumahnya.

Pada hari naas itu, Nek Nie menjamur gabah dihalaman rumahnya untuk persiapan acara tepung tawari dan pernikahan sang gadis semata wayang Nek Nie.

Setelah menjamur gabah, Nek Nie hendak berpergiaan, gadis semata wayang tidak boleh menginjak kaki diatas tanah, karena itu Nek Nie meletakkan sebatang kayu hingga pintu rumahnya.

Nek Nie berpesan, anak gadisnya tidak boleh turun meskipun Ayam dan Bebek memakan gabah yang dijamurnya.

Nek Nie berlalu meninggalkan jemuran gabah dan sang gadis, Ayam dan Bebek menghampiri dan memakan gabah yang dijamur Nek Nie, gadis semata wayang Nek Nie berusaha mengusir Ayam dan Bebek dari jemuran gabah, bermodal kayu yang diberikan sang ibu, gadis Nek Nie tidak mampu mengusir Ayam dan Bebek yang terus berdatangan.

Paya Nie. Foto | Steemit

Meskipun telah dilarang sang ibunya Nek Nie, gadis itu turun dan menginjakkan kaki diatas tanah, petaka datang, sang gadis Nek Nie meninggal karena lokasi rumah Nek Nie berubah menjadi lautan yang penuh dengan genangan air.

Ayam Nek Nie menjadi burung Meunom (Bahasa Aceh) dan Bebek Nek Nie menjadi Ara (Bahasa Aceh), Ara yang berasal dari Bebek Nek Nie persis sama dengan Bebek pada umumnya, hanya saja perbedaan ukuran badan Ara yang tergolong kecil.

Setibanya Nek Nie kembali, Nek Nie melihat rumahnya telah menjadi danau, Nek Nie berusaha mencari anak semata wayang, naas Nek Nie ikut tenggelam dalam danau yang kini dikenal dengan sebutan Paya Nie.

Misteri Paya Nie memang masih harus dibuktikan kebenarannya, fakta sejarah tentang kehidupan Nek Nie memang masih bisa ditemukan, dengan keberadaan sebuah pulau ditengah-tengan Paya Nie, di Pulau Paya Nie, masih ada batu dan sumur yang diyakini sebagai tempat hidupnya Nek Nie bersama anak semata wayang.

Fakta sejarah kehidupan dan legenda Paya Nie, juga masih ada tanaman yang tumbuh di Paya Nie mirip dengan  Cirik (Bahasa Aceh), sekali lagi, kebenaran legenda Paya Nie harus dibuktikan kebenarannya.

Paya Nie Sebagai Lokasi Wisata Pemancingan

Paya Nie saat ini dijadikan sebagai tempat penampungan air, Paya Nie menjadi alternatif masyarakat di seputaran Paya Nie untuk mengairi sawah tadah hujan.

Paya Nie yang luas mencapai ratusan hektar hingga kini belum bertuan, pemerintah hingga kini belum menetapkan Paya Nie sebagai kawasan konservasi.

Warga sekitar juga menjadikan Paya Nie sebagai objek wisata pemancingan yang setiap hari ramai dikunjungi untuk memancing sambil menikmati panorama alam Paya Nie.

Paya Nie diyakini menyimpan misteri, sebelum konflik Aceh, di Paya Nie sering ditemukan lelaki yang bersorban putih, namun saat konflik, GAM menjadikan Paya Nie sebagai lokasi persembunyian.

TNI/Polri tidak mampu menjangkau tempat persembunyiaan GAM di Paya Nie, kecuali saat menyerbu Paya Nie menggunakan pesawat tempur.

Paya Nie menyimpan potensi air sebagai waduk perlu segera ditata, pemerintah setempat dan masyarakat perlu segera menjadikan waduk Paya Nie sebagai kawasan konservasi yang dikelola masyarakat desa setempat.

Paya Nie juga menyimpan potensi ikan tawar yang cukup tinggi, saat ini, ragam jenis ikan tawar hidup dan berkembang di Paya Nie, salah satunya ikan Mujair yang bersarnya mencapai satu kilogram per ikan, ikan Mujair besar menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat sekitar untuk memancing.

Bahkan warga dari Matangglumpangdua ikut menikmati indahnya tempat pemancingan di Paya Nie.

Selain untuk menikmati waktu luang, warga Glee Putoh, Paloh Peuradi, Parang Sikureung, Blang Mee juga memanfaatkan Paya Nie sebagai lokasi mata pencaharian dengan cara menangkap ikan Mujair pada malam hari.

Setiap malam, warga yang menangkap ikan Mujair mampu menemukan ikan Mujair sebanyak 10 sampai 15 kilogram dengan harga jual mencapai Rp 15. 000 per kilogram.

Untuk menjaga ketersediaan air, pemerintah dan warga perlu segera menanam pohon yang mampu menahan air untuk keberlangsungan ikan Mujair di Paya Nie.

Salah satu spesies di rawa gambut Paya Nie. Foto | Net

Selain bermanfaat sebagai tempat penampungan air, penanaman pohon juga bermanfaat bagi warga yang menjadikan Paya Nie sebagai lokasi wisata pemancingan ikan.

Jika pemerintah dan masyarakat setempat tidak melestarikan lingkungan Paya Nie dengan menanam pohon yang mampu menampung air, sewaktu-waktu Paya Nie akan kering karena sumber air Paya Nie hanya dari hujan, seperti yang terjadi beberapa tahun lalu, Paya Nie kering.

Untuk menjaga potensi ikan yang kian berkembang, pemerintah dan masyarakat perlu segera membuat kesepakatan pengelolaan Paya Nie secara bersama-sama dengan cara penetapan kawasan konservasi.

Paya Nie Sebagai Lapangan Kerja Baru

Jika pemerintah Kabupaten Bireuen serius memanfaatkan Paya Nie sebagai lokasi wisata pemancingan dengan mengelola Paya Nie, dengan sendirinya, masyarakat setempat mendapatkan lapangan kerja baru.

Setidaknya masyarakat setempat dapat membuka usaha jasa sewa perahu bagi wisatawan yang ingin menikmati panorama Paya Nie sambil memancing.

Masyarakat juga dapat membuka kios-kios kecil bagi pengunjung wisata pemancingan Paya Nie, bahkan pemerintah sendiri dapat memanfaatkan Pulau Nie yang berada ditengah Paya Nie untuk mendirikan bagunan megah agar penggunjung wisata pemancingan Paya Nie bisa menikmati hari libur ditengah Paya Nie.

Penulis menawarkan tiga konsep pengelolaan Paya Nie sebagai lokasi wisata pemancingan, konsep pertama, pemerintah mengelola Paya Nie dengan cara membuka jalur transportasi air menuju Pulau Nie dan mebangun pusat wisata di Pulau Nie. Konsep pertama ini memang sidikit menantang bagi wisatawan, karena medan yang ditempuh wisatawan sedikit menantang karena harus melewati rawa-rawa menuju Pulau Nie. Konsep pertama ini juga membuka lapangan kerja baru bagi warga sekitar, masyarakat dapat membuka usaha jasa penyewaan Perahu, Speed Boot, dan alat transportasi air lainnya.

Konsep kedua yang dapat digunakan pemerintah dengan membangun jembatan penghubung menuju Pulau Nie, konsep ini memang membutuhkan aggaran yang besar, namun wisatawan nyaman dalam menempuh perjalanan menuju Pulau Nie untuk menikmati wisata pemancingan Paya Nie.

Konsep ketiga adalah, pemerintah dapat mengelolan potensi wisata pemancingan Payan Nie dengan menggabungkan dua konsep diatas, yaitu dengan membuka jalan transportasi air dan pembangunan jembatan penghubung menuju Pulau Nie. penggabungan dua kosep pengelolaan Paya Nie lebih sempurna, wisatawan yang suka menuju Pulau Nie memiliki dua pilihan, pertaman bisa memanfaatkan transportasi air dan kedua dapat menggunakan jembatan penghubung yang dibangun pemerintah.

Selain membuka pusat wisata di Pulau Nie, pemerintah juga dapat membuka jalan lingkar untuk mengelilingi Paya Nie, disepanjang jalan lingkar Paya Nie, pemerintah juga dapat membangun kios – kios kecil untuk disewakan pada masyarakat, selain meningkatkan perekonomian masyarakat dan membuka lapangan kerja baru, pengelolaan wisata pemancingan Paya Nie juga mampu meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Bireuen. (*)

Penulis

*Abdul Halim, alumni Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Malikussaleh, Lhokseumawe.

Sumber: Aceh Green Community

Komentar

Indeks Berita