Pasar Rakyat Pidie Jaya Kembali Telantar

Sejak rampung dibangun sekitar 6 tahun lalu, bangunan senilai Rp 5 miliar lebih belum pernah difungsikan, kecuali hanya sehari pasca peresmian sekitar sebulan silam.
Pasar Rakyat Pidie Jaya
Pembangunan 22 unit ruko milik Pemkab Pidie Jaya di Keude Trienggadeng kini sudah sekitar tahun tak kunjung rampung. Abdullah Gani/Acehsatu.com

ACEHSATU.COM | PIDIE JAYA —  Bukan hal baru jika dilihat di Pidie Jaya bangunan mubazir bertaburan dimana-mana.

Satu diantaranya adalah, Pasar Rakyat di Kompleks Objek Wisata Islami Pantai Kuthang, Kecamatan Trienggadeng.

Sejak rampung dibangun sekitar 6 tahun lalu, bangunan senilai Rp 5 miliar lebih belum pernah difungsikan, kecuali hanya sehari pasca peresmian sekitar sebulan silam.

Kini bangunan berdiri megah di lintasan Jalan Banda Aceh-Medan kembali “tidur dengan nyenyak”.

Selain bangunan utama berupa gedung yang lumayan besar juga disertai dengan 14 unit kios.

Di kompleks tersebut juga tersedia sebuah musalla dan baru saja direhabilitasi.

Di halaman bangunan utama, saat hendak diresmikan juga dipasang 15 buah payung layaknya tenda di Mina-Arab Saudi untuk bermalam bagi jemaah calon haji setelah memilih batu untuk melontar tiga jamarah pada esoknya. 

Beberapa warga Gampong Kuthang Trienggadeng mengaku heran dan tak habis pikir keberadaan pasar tersebut.

Seperti disampaikan seorang  tokoh masyarakat yang minta identitasnya tidak ditulis.

“Itu kerjaan orang-orang besar kita di Pidie Jaya (maksudnya pejabat—-red) dan apa itu bukan buang-buang uang rakyat namanya,” timpal sumber tadi dengan nada bertanya.

Bangunan dimaksud juga letaknya berjauhan dengan keramaian Pantai Kuthang.

Sehingga mana ada orang yang sengaja pasar itu. Nada sama juga dilontarkan Ayah Don, seorang tokoh Trienggadeng.

Pasar Rakyat Pidie Jaya
Pembangunan 22 unit ruko milik Pemkab Pidie Jaya di Keude Trienggadeng kini sudah sekitar tahun tak kunjung rampung. Abdullah Gani/Acehsatu.com

Ayah Don mengaku prihatin dengan kondisi pasar ibukota di ibukota kecamatan selama ini.

Disebutkan, sudah Pasar Rakyat di Pantai Kuthang tak berfungsi, belakangan puluhan pertokoan yang dibangun pemkab setempat tak kunjung rampung. Tak sabar menunggu ruko rampung, mereka kembali berjualan disana.

Hasbi, seorang tokoh lainnya disana juga mengomentari hal sama. Selain pertokoan milik pemkab belum rampung dibangun, belasan unit ruko milik pribadi yang sedang dibangun juga belum selesai.

Pihaknya tak tahu persis kenapa ruko tersebut juga sudah lebih setahun ditinggalkan pemborong.

“Beginilah nasib Ibukota Kecamatan Trienggadeng selama ini,” timpal Hasbi dibenarkan beberapa pedagang setempat.

Kadis Perindustrian Perdagangan Usaha Kecil dan Menengah (Disperindagkop & UKM) Pidie Jaya, HM Nasir SPd, menjawab Acehsatu.com membenarkan, pasar rakyat kini tutup spasca diresmikan sekitar sebulan lalu. Disebutkan Nasir, belasan kios plus 10 unit tenda yang ada depan Pasar Rakyat kini sudah disewakan kepada salah seorang pedagang dan rencananya seusai Idul Fitri nanti akan difungsikan.

Disana, nantinya akan dibuka rumah makan menu khas Aceh Rayeuk berupa kuah beulangong. Juga tersedia menu bebek bakar, ikan panggang dan beberapa menu lainnya.

Sementara 22 unit toko milik pemkab di Keude Trienggadeng yang hingga kini saat belum rampung, lanjut Kadisperindagkop, adalah akibat ketelodoran pemborong (rekanan).

Hingga berakhirnya batas waktu, bangunan belum rampung. Sehingga terpaksa dilakukan pemutusan kontrak.

Dari Rp 4 Milyar dana yang di plot pemerintah, yang terpaksai hanya Rp 2,8 Milyar.

Rencananya, usai ramadhan tim akan turun mengamati sekaligus melanjutkan pekerjaan, papar HM Nasir. (*)