oleh

Panitia dan Narasumber Diskusi Pemakzulan Presiden Diancam Bunuh, Ini Kata Menkopolhukam

-Indeks, Nasional-612 views

Panitia dan Narasumber Diskusi Pemakzulan Presiden Diancam Bunuh, Ini Kata Menkopolhukam

ACEHSATU.COM | JAKARTA – Diskusi bertajuk “Persoalan Pemecatan Presiden di Tengah Pandemik Ditinjau Dari Sistem Ketatanegaraan” di Universitas Gadjah Mada (UGM) diwarnai aksi teror pembunuhan terhadap panitia dan narasumber.

“Saya tidak menyangka kalau sampai viral. Sampai ada yang bilang ini gerakan makar. Saya kaget. Saya ditelepon orang misterius. Kok mulai aneh, saya takut sekali,” kata M Anugrah Perdana, panitia pelaksana sekaligus pengurus komunitas Constitutional Law Society (CLS), saat diskusi live di YouTube Tempodotco, seperti dilansir IDN Times, Minggu (31/5/2020).

“Itu H-1 diskusi, Kamis, sekitar jam 12 atau jam 3, orang tua saya diancam, saya mulai dapat pembunuhan,” kata dia.

Pengirim pesan pembunuhan mengaku dari salah satu organisasi masyarakat (ormas) di Klaten.

Dia memaksa keluarga Anugrah menyerahkan anaknya ke Polres Sleman, untuk diadili atas tuduhan dugaan makar.

Bila Anugrah tak kunjung datang ke kantor polisi, dia mengancam akan membunuh seluruh anggota keluarga Anugrah.

Selain ancaman pembunuhan, mahasiswa semester dua UGM itu juga mengalami teror berupa pesanan makanan dari ojek online.

Ada tiga ojek online yang datang membawa makanan dan satu taksi online yang datang atas nama Anugrah.

“Mulai ada kejadian janggal, nomor saya diretas untuk menghubungi ojek online. Ada tiga yang antar makanan, ada juga satu mobil yang antar ke tempat tujuan. Waktu itu saya gak mesan,” kata Anugrah.

Peretasan terjadi setelah nomor diganti

Hal yang meresahkan Aher, sapaan hangat Anugrah, adalah peretesan tetap terjadi meski dia sudah mencabut sim card dan mengganti nomor pengguna di aplikasi ojek online.

“Bahkan, nomor saya yang lama sudah diganti, tapi tetap ada pesanan dari saya,” ungkap dia.

Karena kejadian itu, keluarga Anugrah menduga ojek online yang datang merupakan intel yang ingin menjemputnya.

Keluarga yang panik meminta Aher bersembunyi di dalam kamarnya, seolah-olah dia tidak berada di rumah.

“Keluarga panik, kaget. Orang tua gak tahu harus apa. Saya disuruh tutup pintu, kunci kamar. Waktu itu ayah langsung ngunci pintu, minta rumah harus hening,” ungkap Anugrah.

Sempat ditawarkan rumah aman oleh dekan FH UGM

Indeks Berita