oleh

Panggung Banjir Jakarta Milik Siapa?

-Kolom-167 views

ACEHSATU.COM – Luapan air besar yang menenggelamkan sebagian kawasan pemukiman di Kota Jakarta sepanjang tiga hari ini tergolong banjir terparah selama lima tahun terakhir. Bencana banjir ini benar-benar musibah yang luar biasa.

Oleh karena itu saya ingin mengawali tulisan sederhana ini dengan ucapan sekaligus doa, “Innalillahi wainna ilaihi rajiun.”

Ucapan yang mengandung energi powerful dan membawa damai bagi orang yang membacanya. Bila diucapkan dengan penuh keimanan dan mampu merendahkan diri dihadapan Sang Khaliq.

Ucapan sekaligus doa diatas merupakan bagian dari dari ayat Al-Quran, dari Surah Al-Baqarah, ayat 156.

Ayat tersebut memiliki makna:

“Sesungguhnya kami itu milik Allah dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Allah SWT).” (QS. Al-Baqarah [2]: 155-156).

Banjir besar yang disebabkan oleh derasnya curah hujan yang mencapai 200 mm lebih ternyata tidak hanya menerjang Jakarta. Hal yang sama juga melanda Jawa Barat, Kota Bandung, Bogor dan sekitarnya.

Namun bila mengikuti pemberitaan di media massa hanya Jakarta saja yang disorot. Bahkan memberi kesan atau terjadi pembentukan opini publik Ibu Kota Jakarta sudah tenggelam total.

Padahal faktanya wilayah Jakarta yang terdampak banjir hanya 0,8 persen saja atau tidak sampai 1 persen.

Begitu Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menerangkan dalam wawancara awak media tadi malam. (02/01/2020).

Namun begitulah cara kerja media. Corong komunikasi massa ini hanya mengedepankan sudut pandang “bad news” untuk menghidupkan mesin bisnisnya. Apalagi bila ada media yang sengaja ditunggangi untuk kepentingan tertentu.

Sehingga peristiwa banjir Jakarta menjadi peluang yang sangat tepat untuk menyerang pihak yang selayaknya harus bertanggung jawab.

Itulah yang saat ini terjadi. Di mana Anies Baswedan dibully secara brutal oleh kelompok yang anti atau tidak suka padanya.

Seakan mereka sedang mendapatkan panggung untuk membantai sang gubernur.

Banjir Jakarta yang terjadi pada awal tahun 2020 ini mengingatkan saya pada peristiwa tsunami Aceh tahun 2004 silam yang menelan korban ratusan ribu jiwa dan memporak-porandakan Kota Banda Aceh dan beberapa kota lainnya.

Bila saya melihat visual banjir Jakarta yang ditayangkan media televisi, air telah mencapai hingga 4-5 meter atau setinggi atap rumah.

Persis seperti ketinggian air tsunami di sudut kota di Banda Aceh kala itu. Bahkan arusnya juga terlihat tajam hingga menghanyutkan mobil-mobil milik warga seperti derasnya air bah tsunami. Hingga mobil-mobil tersebut menumpuk bagaikan tumpukan kayu bakar saja.

Seyognya peristiwa banjir Jakarta itu menjadi memontum untuk menyatukan bangsa terutama warga Jakarta.

Seperti bersatunya kembali rakyat Aceh yang telah saat itu sedang konflik antara GAM dengan RI.

Warga Jakarta yang nota bene rata-rata memiliki pendidikan lebih tinggi ketimbang rakyat Aceh sejatinya bisa lebih dewasa dan bijaksana menyikapi musibah banjir tersebut dengan tidak mengeluarkan sumpah serapah. Seakan banjir tersebut kesalahan satu orang saja.

Bila bercermin dari berita arus media sosial yang beredar, sejumlah pihak melancarkan isu kegagalan Gubernur DKI Jakarta dalam mengatasi banjir.

Terutama lawan-lawan politik yang berseberangan pada Pilkada kemarin bahkan partai politik yang tidak mendukung Anies Baswedan.

Tagar #aniestakbisabekerja sempat trending di twitter. Hal ini menandakan bahwa kerja keras lawan-lawan politik Anies mencoba menjadikan banjir sebagai panggung politik menyerang mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan di kabinet kerja pemerintahan Jokowi.

Namun bukan Anies Baswedan namanya bila ia tidak bisa mengatasi semua serangan tersebut.

Anies dapat dengan mudah menjelaskan dengan cara pandang yang logis, ilmiah, dan bermartabat apa yang harus dipahami dengan benar oleh masyarakat Jakarta tentang apa sesungguhnya yang sedang terjadi.

Akan tetapi yang namanya kebencian (hater), meskipun ditunjukkan kebenaran dan fakta-fakta tetap saja pandangan mereka tidak positif.

Dalam konteks politik dan cara pandang politik, saya dapat memahami mengapa Anies Baswedan terlihat terpojok dalam situasi sulit ini. Bukan hanya para politisi di tingkat daerah Jakarta saja yang ikut mengkritik habis-habisan Anies.

Bahkan Presiden Jokowi pun termasuk Basuki Tjahja Purnama (Ahok), dan Menteri PUPR menyerang saudara Novel Baswedan tersebut dengan cara masing-masing.

Bagi para politisi serangan yang dilancarkan bukan tanpa tujuan. Mereka sudah membuat kalkulasi politik yang berpotensi melahirkan keuntungan. Keuntungan politik adalah meningkatkan pengaruh sang politisi di tengah publik.

Jadi jelas terlihat, dalam situasi sulit yang sedang melilit sebagian warga Jakarta justru para aktor politik justru sibuk mencari panggung ketimbang bersatu padu mengatasi masalah yang ada.

Sangat ironi pula karena masyarakat Indonesia (Jakarta) yang didalam Pancasila pada sila pertama disebutkan Ketuhanan Yang Maha Esa ternyata sikap mereka melihat banjir bukannya timbul kesadaran untuk taubat kepada Nya tapi malah cenderung semakin menafikan campur tangan Tuhan.

Padahal jika masyarakat Jakarta tahu rahasia Aceh cepat bangkit paska tsunami, pasti mereka akan ikuti. Apa rahasianya?

Sikap mengakui Allah sebagai tuhan yang telah menghadirkan musibah untuk menyadarkan rakyat Aceh atas segalanya kesalahan yang dilakukan. Itulah rahasianya.

Maksud saya cobalah untuk bijak menyikapi musibah ini dengan mengedepankan kepentingan bersama terlebih dahulu ketimbang saling serang untuk kepentingan politik yang mengabaikan kebersamaan dan persatuan sebagai sebuah bangsa.

Hanya dengan cara pandang tersebutlah dampak banjir dapat secepatnya kita atasi. Gubernur Jakarta butuh dukungan moril dan materil dalam situasi berat seperti ini.

Bila kita memiliki kebijaksanaan maka tidak mungkin kita menjatuhkan orang lain bila orang tersebut dalam kondisi tidak siap.

Hanya mereka yang pengecut saja selalu mengintip saat lawannya lemah lalu diserang. Menurut saya hal itu tidak berjiwa ksatria. Itu politisi berjiwa kerdil dan tidak berkelas.

Sayangnya, budaya politik di negeri ini terlanjur tercipta dengan permainan yang kurang etis dan tidak berestetika.

Kontestasi politik di negeri Pancasila ini cenderung menghalalkan segala acara asal dapat menjatuhkan lawan. Begitulah panggung politik Indonesia. Lalu siapakah pemilik panggung banjir Jakarta? (*)

Komentar

Indeks Berita