Banda Aceh

Organisasi Pemuda dan Mahasiswa Barat Selatan Sebut Pemekaran Kepentingan Oknum

Laporan Firmansyah

ACEHSATU.COM, Banda Aceh – Tujuh pimpinan organisasi pemuda dan mahasiswa asal Barat Selatan Aceh buka suara terkait pernyataan sejumlah elit yang mendukung rencana pemekaran Provinsi Aceh Lauser Antara Barat Selatan (ALABAS). Mereka mendesak komite II DPR-RI dan para tokoh bicara lebih jujur soal pemekaran.

Ilustrasi. NET

Ilustrasi. NET

Ketujuh pimpinan organisasi tersebut, yaitu Koordinator Barisan Mahasiswa Pemuda Aceh Singkil Jirin Capah, Koordinator Barisan Mahasiswa dan Pemuda Subulusasalam Al-Qudri, Sekjen Mahasiswa dan Pemuda Selatan Raya Aceh (MeuSeRAYA) Delky Novrizal Qutni, Sekjen Gerakan Mahasiswa Aceh Selatan (GeMAS) Hariyadi, Koordinator Gerakan Pemuda Simeuleu (GPS) Adi Saleh, Koordinator Koalisi Mahasiswa Pemuda Aceh Barat Daya (KMP-Abdya) Syahril, dan Koordinator Pemuda Aceh Jaya (PAJ) Sudirman.

Menurut mereka, pernyataan sejumlah elit terkait pemekaran telah menimbulkan polemik di kalangan masyarakat. Isu pemekaran juga disebut sebagai komoditas yang digunakan untuk kepentingan politik oknum tertentu.

“ALABAS itu hanya kepentingan politik. Dan bahkan banyak asumsi lain yang ditafsirkan bermacam ragam,” ujar mereka dalam keterangan tertulis yang diterima ACEHSATU.COM, Senin (8/2/2016) sore.

Untuk itu mereka mendesak pemerintah Aceh dan DPRA memperhatikan masalah ini dengan lebih bersikap adil dalam membangun Aceh, menghindari sikap diskriminatif baik dari sisi alokasi anggaran maupun program pembangunan. Hal ini dinilai sebagai salah satu upaya menjaga keutuhan Aceh sebagaimana termaktub di UUPA dan kerap didengungkan selama ini.

Para pejabat pada Satuan Kerja Pemerintah Aceh (SKPA) asal Barat Selatan dan Tengah Tenggara Aceh juga diimbau tidak seperti kacang lupa kulitnya. Setelah diberi amanah maka perhatikan nasib rakyat dan pembangunan disana.

“Selama ini kami justeru melihat perhatian itu yang masih sangat kurang. Begitupun dalam penentuan SKPA, Gubernur bisa lebih jeli melihat putra terbaik dari Barat Selatan yang representatif, memiliki kapasitas dan kepedulian,” timpal mereka.

Mereka berharap agar UUPA dan MoU Helsinki tidak selalu dijadikan kambing hitam dan senjata untuk menangkis isu pemekaran, tetapi bagaimana MoU Helsinki dan UUPA ini dapat dijadikan kekuatan mewujudkan pembangunan secara merata dan berkeadilan.(*)

 

To Top