oleh

Orang Terkaya RI: Indonesia Kalah Saing dengan Vietnam, PR Besar Buat Jokowi

-Ekonomi-264 views

ACEHSATU.COM | AMMAN – Salah satu orang terkaya Indonesia, Dato’ Sri Tahir bicara soal kondisi ekonomi terkini.

Kondisi ekonomi yang dirasa kurang apik tak lepas dari sejumlah hal termasuk pejabat pemerintahan.

Indonesia yang kalah saing dari Vietnam akibat perang dagang Amerika Serikat (AS) dan China juga menjadi perhatian.

Peluang industri yang hengkang dari China tak pandai ditangkap Indonesia.

Selain itu, ada juga pekerjaan rumah (PR) pemerintah dalam periode mendatang. Ragam PR meliputi investasi, pariwisata, hingga sumber daya manusia.

Ancaman resesi juga tak luput menjadi perhatiannya. Namun apakah Indonesia terdampak dari resesi global?

Berikut wawancara selengkapnya dengan CEO Mayapada Group, Tahir di Hotel Fairmont, Amman, Yordania, (3/10/2019) lalu.

Kondisi ekonomi Indonesia sekarang ini terpengaruh juga dengan global. Kalau pandangan bapak mengenai kondisi ekonomi Indonesia sendiri saat ini seperti apa?

Jadi bahwa mau tidak mau American- China trade war pasti membawa dampak yaitu untuk Indonesia dan negara yang lain. Tetapi, ada suatu kesempatan yaitu di China ini terjadi relokasi. Nah, kelihatannya kita punya pejabat ini ndak tahu nggak membaca atau kurang sigap.

Padahal round pertama dua tahun yang lalu itu China sudah kehilangan 10 juta manusia punya employment dan itu ternyata yang mendapatkan keuntungan terbesar Vietnam, karena Vietnam yang paling sigap dia membaca, eh ada kesempatan ini.

Thailand dapat sedikit, Kamboja dapat sedikit tapi terbanyak Vietnam.

Nah sekarang Vietnam itu dia punya biaya produksi per worker buruhnya sama Indonesia itu sama, kurang lebih basic salary-nya kira-kira Rp 1,5 juta per bulan, basic-nya ya. Kita Jawa Tengah Rp 1 juta basic ya, plus-plus. Ya kita ini menurut saya kurang sigap ya. Ini satu kesempatan menurut saya golden opportunity gitu loh, ini pertama.

Kedua, lebih besar lagi bukan 10 juta malahan dan ekonomi China untuk mempertahankan growth 6% sudah berat menurut dugaan Amerika bisa mendekati 5%. Ini menurut saya artinya pasti relokasi pabrik banyak yang ke luar karena kena tax. Nah kita bapak Presiden juga sudah meihat situasi ini waktu 3-4 tahun lalu subsidi kita dihilangkan, kita tidak mau dibebankan subsidi dan uang dipindahkan ke infrastruktur, belum tentu produktif, tapi infrastruktur.

Kita ketahui bahwa infrastruktur ini adalah suatu jangka panjang. Dan kebetulan infrastruktur itu dibuat di luar Jawa, apakah itu dam, apakah itu jalan tol, apakah itu pelabuhan atau itu perbaikan landing land, airport. Nah, ini dampaknya ke Jawa itu nggak terlalu banyak. Saya mau ingatkan, kita bukan Jawa sentris tapi adalah faktanya 60-70% penduduk ada di Jawa.

Jadi, dan kita punya aktivitas ekonomi seluruh Indonesia 70% ada di Jakarta luar biasa nggak coba, maka itu Jawa ini bukan karena ada orang Jawanya, bukan. Memang ekonomi Jawa perlu diperhatikan karena dia akan dampak seluruh Indonesia. Ini lah sedikit adjustment.

Selanjutnya bagaimana pak?

Kedua, stimulus ekonomi itu bagus, udah dipelajari namun ada suatu hal yang perlu diperhatikan oleh pejabat pemerintah itu adalah kita sudah 20 tahun ini real sector kurang digalakan. Menurut saya sebagai seorang belajar ekonomi bahwa menata ekonomi ada tiga faktor ada menggunakan moneter, yaitu naiknya bunga, suku bunga dan kendornya kredit maupun pengetatan kredit. Jaman dulu mafia Barclays sedikit-sedikit senang pengetatan liquidity. Nah, ini moneter.

Lalu ada namanya fiskal, yaitu tax holiday, income tax diturunkan, tax amensty. Tapi real sector ini selama 20 tahun ini ternyata kurang diperhatikan.

Apa saja sektor riil yang dimaksud?

Sekarang saya memberikan contoh yang paling gampang dimengerti, ada sawah satu hektare, satu hektare menghasilkan sembilan ton beras padi. Saya kasih stimulus, pak saya kasih stimulus deh. Ini mau kerja 24 jam ya nggak bisa ningkatkan produksi karena produksi sudah maksimum, tanpa stimulus juga demikian dengan stimulus ya masih demikian. Stimulus tidak efektif. Yang namanya real sector itu harusnya, mencetak sawah lagi satu hektare.

Lalu pabrikan, biasanya menurut Amerika punya catatan suatu revolusi industri itu 20 tahun. Nah kita punya pabrik baja, tekstil gulanya kita itu gula 60-70 tahun. Udah nggak efisien, high cost economy. Tekstil juga yang menyerap begitu banyak tenaga kerja tidak ada perubahan pabrik kita poliester, pabrik spinning masih yang lama-lama 30-40 tahun. Demikian juga pabrik besi baja. Nggak ada pabrik besi baru selama 20 tahun ini mendirikan. Ada yang giant, yang giant itu added value bagus tapi tidak membawa dampak untuk employee. Kaerna kita ada 2,8 juta new forces masuk ke market ini lah menurut saya perlu diperhatikan real sector ini perlu digalakan.

Caranya bagaimana pak?

Cara galakannya gini, kalau dulu di Amerika ya orang bisa menjadi PR atau masuk menjadi citizen dia kasih investasi di federal tapi investasinya gini you tiap invest US$ 50.000 bisa menghasilkan berapa orang Amerika. lalau kalau US$ 100.000 bisa pakai hire berapa orang Amerika.

Nah itu harus dikasih stimulus supaya orang mau invest, domestik mau invest, foreign juga mau invest. Jadi stimulus kena sasaran. Sekarang banyak stimulus ekspor padahal produksi kita sudah maksimum, kelapa sawit maksimum malahan dapat ada hambatan-hambatan banned Eropa malahan stimulusnya tidak efektif. Ini problem menyangkut effectiveness.

Jadi real sector harus digalakan, stimulus adalah untuk bagaimana anda memperluas kapasitas membuat pabrik baru kita kasih stimulus, khususnya kalau misalnya pabrik itu padat karya bisa menghasilkan banyak pekerja atau pabrik orientasi ke ekspor. Ini lah maksud saya stimulusnya terarah.

Hal-hal tersebut sudah cukup untuk mendongkrak ekonomi Indonesia?

Satu lagi yang penting, adalah ini investasi masuk ke Indonesia, kita adakan reformasi BKPM menurut saya tidak efektif juga karena sulitnya bukan di BKPM, kesulitan waktu investor ke daerah.

Perizinan di daerahnya belum sinkron?

Bukan hanya perizinannya, mentalitasnya kita punya pejabat di lokal, lalu belum lagi ketemu-ketemu ya ada putra daerahnya ada kekuatan daerah dan lain-lain ini yang mempersulit investasi kita. Maka itu alangkah baiknya kalau bapak presiden bisa mendirikan suatu namanya departemen khusus mengawal investasi.

Jadi investasi dikawal supaya bagaimana caranya dolar menjadi rupiah. Kalau sampai jadi rupiah lho, kalau belum jadi, belum investasi. Padahal minat investasi Indonesia itu lebih kuat dari India. Jadi dari negara utara itu maunya Indonesia dulu baru India. Kita bayangkan, Indonesia begitu kayanya misalnya sekarang bicara perikanan kelautan.

Padahal the largest archipelago country itu kan di Indonesia, harusnya industri yang berkaitan itu misalnya buat pelabuhan, kapal kecil shipping company, buat cold storage dan buat feri, lapangan terbang, ini semuanya yang berkaitan dengan integrated mengenai kepulauan ini perlu digalakan.

Kita sebenarnya nggak usah takut asing mau masuk nangkap ikan, hanya diatur aja seperti Pertamina, bagi hasil. You boleh nangkap ikan di zona ekonomi kita, tapi 80% harus diserahkan ke darat. Ke darat ini terserah, harus bikin. nilai tambah, perkalengan. Ini yang menurut saya, yang kurang digalakan yang saya sayangkan selama lima tahun Bu Susi (Pudjiastuti, Menteri Kelautan dan Perikanan) kerja selain prestasi nenggelemin kapal ya, nelayan juga masih belum sejahtera, belum signifikan. padahal gusti Allah memberikan satu harta karun kita di lautan. Kalau ini ngolah bagus ya, itu sangat membantu ekonomi Indonesia.

Sektor apalagi yang harus digalakan?

Tourism, pariwisata ini unique requirement yaitu culture. Ada daerah-daerah tertentu yang nggak terlalu welcome dengan turis, ini culture. Saya ke Maldives, saya kasih tips US$ 100 ke waiternya, ngomong terima kasih saja nggak. Tapi kalau you ke Bali, kasih Rp 100.000 ke orang Bali, aduh terima kasih pak, terima kasih. Ini culture dan ini nggak bisa dicetak sudah bawaannya.

Maka itu, culture ini kita ciptakan 10 ini bagus secara grand plan-nya, tapi dalam realisasinya belum tentu mudah. menruut saya cari fokus beberapa daerah, Manado, Bromo, Borobudur, daerah-daerah ini. Misalnya Raja Ampat bagus, Labuan Bajo ini daripada Mandalika itu kita pernah ketemu dirutnya sekarang kita punya izin MotoGP. Saya ingatkan pak dirutnya, pak dirut mohon maaf ya, saya juga termasuk orang senang balapan.

Itu F1 aja itu di seluruh dunia itu rugi kalau nggak didukung pemerintahnya, Singapura sudah tutup. Malaysia sudah tutup. Singapura tiap tahun itu pemerintahnya keluar uang ratusan juta Singapore dolar untuk dukung F1 karena Singapura global city dia perlu promotion. Bukan hanya hari itu F1 selesai, dia ada rembetannya.

Saya ndak mellihat ada orang mau lihat balapan motor ke Mandalika. Menurut saya rationality saya nggak masuk. jangan bilang itu, bikin di Jakarta, Sentul itu sudah terbukti ndak sukses. Dulu juga mau F2 F3 ndak sukses ndak gampang. F1 itu semua perusahaan rugi, tidak pernah ditangani oleh swasta.

Di China di Shanghai, China duitnya banyak dia support lah bikin Disneyland terbesar, F1 itu hanya meramaikan ke Shanghai, tapi jangan lupa kota Shanghai didukung bukan karena F1-nya, ada lima industri, satu dia pusat keuangan, satu dia pusat perkapalan, heavy industry, pabrik baja terbesar itu di daerah sana itu. jadi dia ada beberapa faktor industri yang mendukung Shanghainya itu. Flamboyannya itu adalah Disneyland ada F1-nya, tapi basic-nya itu pabrik steel, pabirk kapal, pekabuhan, financial center, itu basicnya.

Menurut saya hal ini lah yang perlu dilihat. Saya kira kita mungkin bagus di dalam bagaimana mengamankan bagus, tapi grand plan mengenai bagaimana makroekonominya mungkin kita kurang.

Masih ada lagi pak?

Ketiga pengolahan kembali sumber daya alam (SDA). Jadi dari mulai emas, perak, timah, temabaga, nikel, batu bara, bauksit, biji besi, aluminium, timah, perlu penataan kembali secara komprehensif. Jangan sepotong, saya hari ini benahi batu bara dulu tahun depan ini, harus ditata kembali.

Mana yang perlu dikenakan pajak, mana yang perlu didorong, mana downstreamnya ini semua penataan kembali. Ini kekayaan yang luar biasa, di dunia jarang yang kaya seperti Indonesia semua ada. Hanya menterinya menurut saya harus lihat secara keseluruhan.

Yang paling ironis adalah batu bara mencapai titik yang tertinggi jaman SBY. Waktu itu tidak dikenakan pajak, eh setelah pak Jokowi dapat harga jatuh, mau dipajakin ya bagaimana mereka sudah babak belur. hal-hal begini ini sinergi strateginya yang kurang tepat.

Tidak ada siapa yang salah, saya mengajak melihat cara mengolahnya itu tourism. Nah, keempat ini yang terpenting bagaimana menciptakan nilai tambah pada BUMN padahal ini UUD mengatakan kekayaan ada di negara melalui BUMN.

Saya pernah cerita bahwa semua pengusaha keturunan ini digabung uangnya suruh beli Pertamina nggak mampu. Tetapi masalahnya Pertamina sendiri ngolahnya kurang. Malaysia minyaknya sedikit, untungnya Petronas lebih gede dari Pertamina.

Hal itu lah yang menurut saya bagaimana yang nggak pas. Saya bciara logic aja Petronas tidak menghasilkan minyak, sedikit lah, Pertamina menghasilkan kok Pertamina kok untungnya bisa, kadang bisa rugi lagi kok kalah sama Petronasnya. Ini what’s wrong with that.

Kita harapkan pada lima tahun pak Jokowi ini, ini semua menjadi prioritas.

Sumber daya manusia (SDM). Kita kan melihat Almarhum pak Habibie mengirim orang untuk belajar teknologi. Ini adalah suatu teladan yang luar biasa maka itu kita di wali amanat Gadjah Mada mendirikan namanya Leadership Entrepreneur School, belum ada ini, baru mau dari UGM. ini leadership perlu karena ingin memproduce manusia-manusia yang unggul di masa depan 20 tahun ini. Caranya melalui pendidikan, nggak ada cara lain.

Ini jaman pak Harto saya ketemu menterinya, pak Marlin, saya bilang pak Marlin, tahun 1990 ini, saya bilang China ini sekarang adakan deregulasi, hati-hati loh. Mereka sekarang dengan deregulasi mereka mau promosikan China itu.

Pak Marlin jawabannya, pak Tahir jangan takut. Kita punya kekuatan, satu kita foreign exchange bebas, kedua stability politik, ketiga punya buruh murah. Ini yang ditekankan terus, padahal menurut saya adalah salah kalau jual buruh murah, itu namanya perbudakan, kita harusnya jual buruh skill.

Turis misalnya, Thailand kecil dia terjadi transformasi, dia bicara shopping, healthcare, OEM sparepart. Ini what’s wrong dengan kita, apa ini wrong-nya padahal Thailand apa. Dulu kita kenal sex industry sekarang dia reformasi menjadi sesuatu shopping, kemudian mau berobat pertulangan dan jantung bagus, ketiga jadi basic OEM banyak dibikin di Thailand.

Sekarang kita kan makanan kecil banyak, tapi Thailand ada namanya Or Tor Kor itu pasar khusus jual makanan. Kita kok nggak ada, ini ndak tahu salah di mana ini padahal makanan kecil bagus kita. Indonesia restoran berapa hal ya nasi goreng, lodeh, sayur asem, ada sesuatu menurut saya missing link.

Menurut saya harusnya menteri yang akan daatang satu bulan pertama bikin grand plan apa saja yang mau dikerjain, targetnya apa. Jangan menjadi tukang pemadam kebakaran, artinya ada masalah diselesaikan, ini ada lagi padamin. Jadi tiap hari disibukkan memadami tapi tidak bisa create suatu inovasi, kreatif ekonomi kita nggak ada. Jadi kita tidak ada waktu lagi bikin inovasi kita, next 20 years bagaimana.

BUMN create value. Tahun 1960 China penduduknya 400 juta orang makannya apa? Kulit pohon. Miskinnya sampai begitu. Kulit pohon dimasak sama air dimakan. Tahun 1960 400 juta penduduk. Sekarang 1,4 miliar penduduk dan semua makannya kenyang. Ini lah namanya value added, negara sama tetap China, hampir empat kali rakyatnya makmur.

PR pemerintah ini bisa meredam ancaman resesi atau ada strategi lain lagi?

Kita harus tahu resesi itu sebabnya apa dulu, kenapa terjadi. Tahun 1997, George Soros melihat bahwa currency di regional ini tidak sesuai dengan dia punya GDP, over value dia gebuk. Sebelum dia gebuk ASEAN, dia gebuk dulu Inggris, Bank of England dihantam kena 1 miliar poundsterling, eh dia rasa enak nih mulai lihat negara Thailand, Korea, Indonesia. Waktu itu dengan orde baru ini para ekonom kita yang disebut Berkeley Mafia terbuai, kenapa? Growthnya tinggi, 8-9%. Padahal sejak tahun 1990 sudah ada tanda-tanda negatif, foreign direct investment mulai mengecil, ekspor menurun, ini tidak dilihat, wah saya ada growth 8-9% senang, terlena. Padahal 1990 sudah ada tanda-tandanya foreign direct investment turun, inflasi naik, lalu ekspor turun. Ini tidak dibaca. Jadi itu tidak dibaca sehingga FDI rendah lalu inflasi naik dan ekspor turun. Growth itu menurut ekonom ada yang relatif, yang penting isi growth apa, kalau 9% dan isiinya konsumtif itu babak belur, tinggal meledaknya.

Pak Jokowi begitu inpower beliau telah mengejar beberapa hal, satu subsidi dihilangkan, kedua efisiensi dwelling time diefisienkan, reformasi BKPM dan lain-lainnya, ketiga dia mengejar keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia maka dia didirikan di Papua out of Jawa, Sumatera tol, Kalimantan bikin dam, Sulawesi bikin dam lalu Papua. Ini bagus mengisi growth. China tahun 2008 begitu terjadi krisis China mengeluarkan 4 triliun renmimbi untuk infrastukrutr bikin 20 ribu km speed railway, yang untung 6% Beijing dan Shanghai. Tetapi dengan adanya infrastruktur ini ekonominya. Ini contoh terbaik. Kita bisa belajar.

Menurut saya, untuk lima tahun akan datang, tourism, kelautan, SDM, BUMN, penataan kembali SDA ini lima bisa dijalankan sudah luar biasa.

Bisa meredam resesi juga?

Bisa

Ancaman resesi di luar negeri lebih terasa dan orang-orang kaya di sana mulai tarik uang tunai, itu bagaimana?

Kita lihat dari faktualnya saya tidak mau analisa ilusi. Likuiditas perbankan di Indonesia sekarang longgar, Bank Mayapadasecond reserve yang ditentukan BI 10% kita sudah 17%, likuiditas terjadi. Hanya sekarang bagaimana likuiditas menjadi multiplier effect itu yang penting. Kalau misalnya bikin cuma di satu tempat lalu di lingkungan terlalu high tech kadang nggak punya dampak multiplier effect.

Kita perlu tahu kondisi negara kita, kita perlu teknologi, perlu, tapi jangan lupa kita ada 2,8 juta buruh tiap tahun yang masuk ke market. Padat karya industri perlu digalakkan. Lalu mengindustrikan agriculture. Pertama agriculture, kedua industri, ketiga service industry, tapi janga hanya dicopy, itu Amerika berjalan, China berjalan tapi belum tentu di Indonesia berjalan karena kita masih agriculture country banyak penduduk kita masih petani, petambak, perkebunan. Ini masih mendominasi 60-70% penduduk Indonesia. Ini yang perlu dilihat. Teknologi cuma nyerap berapa orang aja, nggak banyak. Betul perlu teknologi perlu orang jadi pintar, tapi jangan lupa kita punya konstruksi demografi kit apekerjaan kita buruh, petani, nelayan, petambak itu besar. Ini yang menurut saya perlu disoroti. Karena kita SDA terlalu kaya, jadi kita bisa stand for the crisis.

Disertasi saya itu, 1997-1998 informal institusi mempengaruhi formal institusi. Informal ada budaya korupsi, nepotisme mempengaruhi formal. Bank Indonesia (BI) tidak bisa independen, sekarang BI independen berarti tidak usah ada dewan moneter ngatur semua termasuk bapak presiden ikut ngatur kok waktu itu menentukan bunga aja. Sekarang sudah independen ada pemisahan, BI bikin policy, PJK realisasinya which is very very good.

Ancaman resesi ke Indonesia tipis?

Saya lihat tipis.

Soal filantropi, kenapa memilih jalan ini daripada membesarkan usaha sendiri?

Jadi begini, ada berapa background yang menyebabkan hal ini. Orang tua saya itu kan cuma kerjanya menyewakan becak. Jadi saya dari kecil itu lahir dan dibesarkan oleh setoran daripada abang becak. Itu kan cukup nggak mampu itu, khususnya pribadi itu minder ya sangat dalam sekolah sampai nikah kenal keluarga besar Mochtar Riady lebih minder lagi.

Itu sangat dalam pukulan atau terukir dalam diri saya manusia ini Tahir menjadi faktor penting sehingga ada perasaan, orang kan attitude gini, kalau ada serangan dua hal, you jadikan sebagai motor fight lebih maju atau tenggelam karena serangan itu. Saya punya sikap yang positif saya anggap bahwa semua serangan itu saya terima memang pedih dan sangat menyakitkan tapi saya ada suatu motor yang menggerakkan saya bisa lebih maju lagi.

Kedua, kita ini logika konsep logika hari ini Tahir menjadi ada sedikit kesuksesan, kan kesuksesan itu tidak bisa dipisahkan dari mana ia dapatnya, yaitu dari Indonesia. DIa warga negara Indonesia, lahir di Indonesia, dia orang Indonesia dan kalau tanpa Indonesia, tadi saya bicara sama anak saya kalau kita lahir di Syria itu nasib kita. Apapun kemampuannya nasib kita itu. Kalau you tinggal di Libya itu nasib you, kalau Sudan perang saudara nggak selesai sampai hari ini ya nasibmu itu, you mungkin jadi refugee.

Kita bersyukur kita lahir di Indonesia, aman membuat kita bisa usaha lebih baik dan bisa hari ini mempunyai hasil. Jadi give it back, mengembalikan itu adalah sebuah konsekuensi sebuah logika bukan hal yang menyulitkan, bukan hal yang aneh, bukan hal yang perlu dibanggakan.

It’s so simple take it from society and give it back to society. Itu sebenarnya logika, simple aja.

Kalau ada orang yang untung dari Indonesia yang nggak mau keluarkan itu bagi saya yang justru nggak simple. Saya nggak tahu apa yang di benak pikiran dia itu saya nggak bisa ngerti. Saya bicara yang orang normal aja, rasional aja, logika aja. Kita kan orang pengusaha itu logical yang kuat. Kita belajar ilmu pasti, namanya ilmu sudah pasti jadi itu lah logical.

Ketiga, pasti ada pendidikan orang tua kita. Dia ngajarin kita apa? Ngajarin kita suruh nyuri, ngempllang duitnya pemerintah itu kebetulan orang tua saya ayah dan ibu tidak ngajari saya itu, ngajarin saya supaya kerja keras. You harus bisa satu hari melebihi papa mama you, saya sebagai orang tua saya kerja keras berharap anak saya tidak lagi seperti saya. Kesaksian-kesaksian itu mempengaruhi.

Manusia adalah kontainer. Dari kecil isi apa? Kalau isi kejujuran, ketulusan, kerja keras pasti suatu hari bersinar. Tapi kalau isi tipu mulsihat, pencuri, nakal, apa semua pasti tidak akan terang, akan padam. That’s is simple.

Dengan berbagi nggak takut habis uangnya?

Ini menarik. Saya kok belum pernah lihat orang kerja sosial bangkrut. Saya tuh lihat dengan mata sendiri konglomerat terkuat namanya Bank of America, Merrill Lynch, Lehman Brothers yang lebih dari 100 tahun dan manajemennya sudah profesional mungkin lulusan Harvard lulusan apapun dan tinggal di Amerika yang sistem hukumnya begitu kuat, jatuh. Tapi kok nggak pernah dengar ya kaya Bill Gates itu ya, Bill Gates itu telah menyumbang, sudah menyumbang US$ 33 miliar masih orang terkaya nah itu logikanya dari mana.

Menurut saya kalau kita sebagai orang beragama, saya tidak setuju dengan sebagian pendeta mengajari you harus banyak nyumbang nanti Tuhan berkati you 10 kali. Itu saya nggak percaya, jujur saya nggak percaya. Jadi saya nyumbang nanti saya pulang di bawahnya ada uang, saya kok nggak percaya.

Yang saya percaya, ada balasannya, tapi balasannya tidak harus uang. Misalnya keluarga harmonis, anak kita tidak nyandu, kesehatan, punya ibadah yang baik. Itu adalah sudah barokah. Menurut saya berkat.

Kalau hari ini saya bisa ke satu tempat di mana orang susah di sana, lalu saya melakukan kebaikan itu yang pertama yang diberkati saya dulu, bukan orang itu. Orang itu nanti dia dapat liburan, bantuan orang itu juga diberkati. Saya yakin saya kok dipakai, kok saya yang dikasih kesempatan, kok nggak orang lain.

bahwa di hidup ini ada hal yang kita tidak bisa pilih, lahir di Solo, lahir di Surabaya, kapan dan tanggal berapa dan pagi atau sore malam itu sudah takdir. You adalah keturunan orang Jawa, saya adalah keturunan orang Tionghoa itu saya nggak bisa milih. Jadi saya jangan disalahin dong, eh China itu bukan saya memilih, saya lahirnya demikian, saya kalau bisa jadi anaknya Bill Gates, nggak bisa.

Namun, dalam hidup ada yang bisa milih, yaitu mau pilih jadi baik atau buruk dan saya jatuhkan pilihan itu. Saya memilih untuk menjadi baik dan saya konsisten. (*)

Komentar

Indeks Berita