Nova Kok Masih Betah Menjomblo?

Namun sayangnya posisi wagub masih dibiarkan tidak terisi hingga sekarang dan soal itupun telah menyita perhatian publik serta menimbulkan tanda tanya besar.
Hamdani.

ACEHSATU.COM Semenjak Gubernur Aceh Irwandi Yusuf dicokok Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) setahun lalu dan resmi ditetapkan menjadi warga binaan Lapas (Lembaga Pemasyarakatan) Suka Miskin karena tersandung kasus korupsi, praktis posisi yang ditinggalkannya diisi oleh Nova Iriansyah sebagai pelaksana tugas (PLT) gubernur.

Tak terlalu lama menjabat sebagai Plt, Nova Iriansyah pun dilantik sebagai Gubernur Aceh definitif periode 2017-2022 oleh Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menggantikan Irwandi Yusuf hingga akhir masa jabatan.

Naiknya Nova Iriansyah yang sebelumnya sebagai wakil gubernur saat bersama Irwandi Yusuf tentu saja membuat posisi Wagub menjadi kosong.

Namun sayangnya posisi wagub masih dibiarkan tidak terisi hingga sekarang dan soal itupun telah menyita perhatian publik serta menimbulkan tanda tanya besar.

Ada apa, mengapa Nova Iriansyah betah menjomblo?

Padahal keberadaan wagub juga penting artinya untuk mendukung kerja gubernur terutama dalam upaya memberantas kemiskinan.

Sehingga beragam dugaan publik bermunculan untuk sekedar untuk mencoba menjawab teka-teki itu. Tak pelak politisi warung kopi pun urun rembug berikan opini.

Mungkinkah Nova masih ingin menikmati sendirian lezatnya kekuasaan sebagai orang nomor satu di Aceh?

Permasalahan yang diangkat warga warung kopi kira-kira demikian.

Untuk menjawab pertanyaan di atas kita sebagai orang luar tentu sangat sulit menemukan jawaban pasti sebab tidak diketahui secara persis apa sesungguhnya yang sedang terjadi di ruang utama pendopo itu.

Oleh karena itu pula di dalam tulisan ini juga Anda tidak akan temukan jawabannya.

Misteri siapa yang bakal mengisi posisi Wagub Aceh untuk mendampingi Nova Iriansyah juga masih gelap seperti gelapnya malam tanpa bintang, ia masihlah sebuah misteri.

Namun dari banyak kabar yang beredar di masyarakat para ketua partai pengusung pasangan Irwandi-Nova telah beberapa kali melakukan pertemuan membahas kekosongan posisi wagub.

Spekulasi tentang calon wagub pun santer dibicarakan, mulai dari Muzakir Manaf (Mualem) Ketua Partai Aceh, Muslahuddin Daud (Ketua DPD PDIP Aceh), Darwati Agani (Anggota DPRA dari Partai Nanggroe Aceh/PNA), Tgk Muhibusabri (Ketua Partai PDA) hingga muncul nama Tgk Muharuddin (Mantan Ketua DPRA) dan Adik kandung Irwandi Yusuf yaitu M. Zaini Yusuf.

Dari sejumlah nama tokoh yang dimunculkan, sejauh ini tidak terlihat nama-nama mana yang lebih dominan dan kuat untuk terpilih mendampingi Nova Iriansyah sebagai pemegang kekuasaan eksekutif di Aceh.

Bahkan pula nama mantan Wagub Aceh Muhammad Nazar yang pernah berduet bersama Irwandi Yusuf memimpin Aceh periode 2007-2012 ikut meramaikan bursa calon pendamping Nova hingga 2022 nantinya.

Disodorkan nama Muhammad Nazar tentu saja memiliki banyak alasan politis dan historis.

Perlu diketahui bahwa disamping sudah berpengalaman, Nazar juga tercatat sebagai Ketua Partai SIRA meski saat ini partai ini tidak memiliki kursi di DPRA.

Bila ditinjau dari segi teori probability politic Muhammad Nazar terbilang memiliki peluang lebih besar dibandingkan dengan calon yang lain.

Argumentasi itu didasarkan pada aspek ketokohannya yang lebih populer dan moderat yang mengakar di dalam masyarakat Aceh.

Nazar dinilai bisa menjadi penyeimbang bagi pemerintahan Nova Iriansyah yang dianggap oleh publik ia sebagai alat partai nasional.

Dengan adanya sosok Muhammad Nazar yang memiliki power ke-Aceh-an yang kuat dapat menjadi jembatan untuk mengkombinasikan antara kepentingan Aceh dan kepentingan nasional bersama Nova.

Apalagi Nazar dianggap mempunyai pemikiran dan konsep yang jelas untuk membangun Aceh kedepan.

Aceh yang maju dan beradaptasi dengan kemajuan global secara teknologi tanpa meninggalkan karakteristik ke-Aceh-an yang religius.

Dari aspek ketokohan Muhammad Nazar lebih kuat dan lebih dipercaya masyarakat.

Akan tetapi bila melihat dari aspek kekuatan kendaraan politik, peluang Muhammad Nazar justru mengecil karena Partai SIRA gagal memperoleh suara terbanyak dalam pemilu legislatif di Aceh.

Justru Partai Aceh lah yang memiliki peluang besar.

Maka tidak heran bila Muzakir Manaf yang secara tegas menolak dicalonkan sebagai wagub bersama Nova Iriansyah namun mendukung Tgk Muharuddin yang konon kader Partai Aceh.

Ini hanya persoalan strategi belaka.

Mualem mengetahui jika posisi Partai Aceh dalam konteks kekuatan partai politik di parlemen sangat besar, sehingga sangat layak bila posisi wagub diberikan kepada pihaknya.

Namun yang menjadi masalah adalah Partai Aceh bukanlah partai pendukung pasangan Irwandi-Nova pada pemilu lalu, justru mereka kontra dalam pemilu 2017 tersebut.

Sehingga untuk mewujudkan hasrat politiknay itu, dimainkanlah langkah-langkah politik oleh Partai Aceh dengan melakukan lobi-lobi dan membangun komunikasi politik dengan partai pengusung termasuk pertemuan dirinya dengan salah satu ketua partai pengusung Muslahuddin Daud (Ketua DPD Partai PDI-P) Aceh.

Tarik ulur posisi Wagub Aceh pun hingga memasuki tahun 2021 belum terlihat jelas dan akan berhenti di mana.

Nova Iriansyah sendiri terlihat lebih banyak diam dan menikmati kejombloannya. Dia tidak banyak mengeluarkan pertanyaan terkait dengan polemik kekosongan posisi wagub yang ia tinggalkan.

Suami Dyah Erti Idawati itu sangat enjoy dengan jabatan Gubernur Aceh yang disandangnya hingga ia tak sadar ternyata angka kemiskinan Aceh terjadi peningkatan bahkan secara kuantitas bertambah dari tahun sebelumnya.

Nova justru lebih banyak mengeluarkan pemikiran-pemikiran yang bersifat idelalis ketimbang bertindak secara praktis bagaimana menjalankan langkah-langkah konkrit meningkatkan kesejahteraan masyarakat Aceh.

Dirinya bersama dengan Sekda Taqwallah kerap membuat kebijakan-kebijakan tidak populis namun kreatif, misalnya program stikerisasi mobil gunakan BBM subsidi dengan kalimat menohok.

Terus ada juga program Gebrak Masker dengan alokasi anggaran yang lumayan mewah untuk menjaga rakyat agar tidak terkena Covid-19. Dan rencana mengundurkan pemberlakukan Qanun LKS (lembaga keuangan syariah) di Aceh yang telah disahkan DPRA.

Ya, sebesar apapun pekerjaan yang telah dilakukan oleh Nova Iriansyah dan kabinetnya dalam merealisasikan visi Aceh Hebat, kita sebagai rakyat tentu sangat berterima kasih.

“Prestasi” Aceh Miskin memang bukanlah yang diharapkan, toh jika kenyataannya sekarang sudah seperti itu juga tidak semua kesalahan dialamatkan kepada pemerintah Aceh, rakyat pun ikut bersalah, mengapa mau dilabeli miskin, kenapa tidak protes ke Gubernur dan DPRA.

Mengakhiri tulisan ini sudah seharusnya Nova Iriansyah mengakiri masa jomblonya.

Gubernur sebagai orang nomor satu di Aceh mesti pro aktif untuk membuka jalan agar pendampingnya segera datang.

Gubernur Aceh butuh tambahan energi untuk bergerak lebih cepat dan memiliki kekuatan dalam menuntaskan seluruh janji politiknya.

Dalam konteks tersebut kita juga telah belajar bagaimana posisi Wakil Gubernur DKI  Jakarta paska mundurnya Sandiaga Salahuddin Uno saat dirinya nekat berjuang bersama Prabowo untuk menjadi Presiden-Wakil Presiden RI.

Kekosongan posisi Wagub DKI Jakarta itu terjadi dalam waktu yang relatif lama sehingga berpengaruh terhadap kuantitas dan kualitas kerja Gubernur Anies Baswedan dalam memimpin Kota Jakarta.

Nova Iriansyah bisa belajar dari Anies Baswedan bagaimana tips untuk meninggalkan status jomblo dan mendapatkan pasangan yang ideal, mulailah membisiki kriteria calon yang diinginkan kepada partai pengusung dan partai pendukung.

Berikanlah tugas mulia ini kepada para ketua partai agar benar-benar dan sungguh-sungguh membantu pemerintah Aceh untuk mencapai visi dan misi yang telah dijanjikan kepada rakyat Aceh saat kampanye dulu.

Namun semuanya itu kembali lagi kepada Pak Nova Iriansyah sendiri dan istrinya. Jika ada niat pasti ada jalan. Jomblo harus segera diakhiri. (*)