Medco E&P Pastikan Operasional Perusahaan Utamakan Keselamatan dan Lingkungan

ACEHSATU.COM |  NANGGROE – PT Medco E&P Malaka (Medco E&P) memberikan klarifikasi terkait keluhan warga dan desakan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Aceh kepada Bupati Aceh Timur atas aktivitas pembersihan sumur migas AS9 di Kecamatan Banda Alam.

Dalam pernyataan yang diterima Medco E&P tidak secara langsung menanggapi laporan WALHI mengenai desakan kepada Bupati dan warga yang mengalami gangguan kesehatan akibat bau menyengat.

Perusahaan, lebih menekankan bahwa kegiatan di sumur AS9 merupakan perawatan fasilitas produksi secara non-rutin dan terencana, dengan mengutamakan keselamatan, keberlanjutan lingkungan, serta kepatuhan terhadap regulasi.

Senior Communication Medco E&P, Leony Lervyn, mengatakan perawatan ini dilakukan untuk menjaga keandalan operasional sekaligus memastikan pasokan energi yang aman dan berkelanjutan.

“Keselamatan masyarakat, pekerja, lingkungan, dan fasilitas produksi merupakan prioritas utama kami. Kami juga memastikan bahwa seluruh operasi kami berjalan sesuai dengan peraturan yang berlaku. Kami mengucapkan terima kasih atas dukungan semua pihak, sehingga Medco E&P dapat terus berkontribusi dalam mendukung target produksi migas nasional dengan aman dan lancar,” ujar Leony Lervyn.

Sementara itu, Kepala Divisi Formalitas dan Hubungan Eksternal BPMA, Agus Rusli, mengatakan Medco E&P Malaka telah menjalankan perawatan fasilitas dengan mengutamakan aspek keselamatan dan perlindungan lingkungan.

“BPMA memastikan bahwa seluruh kegiatan KKKS, termasuk Medco E&P, telah memenuhi regulasi dan standar keselamatan industri hulu migas,” kata Agus.

Agus memastikan, BPMA akan terus melakukan pemantauan berkala dan berkoordinasi aktif dengan Medco E&P Malaka serta pemangku kepentingan terkait.

“Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa proses perawatan berjalan sesuai rencana, tanpa mengganggu keselamatan maupun lingkungan sekitar,” tegasnya.

Sebelumnya diberitakan, warga Gampong Panton Rayeuk T, Kecamatan Banda Alam, Aceh Timur, dilaporkan panik sejak awal Agustus 2025 akibat bau menyengat yang diduga berasal dari aktivitas pembersihan sumur migas AS9 milik PT Medco E&P Malaka. Bau tersebut disebut menyebabkan sejumlah warga mengalami mual, muntah, dan pusing.

“Kami meminta Bupati Aceh Timur turun langsung ke lokasi untuk memastikan keselamatan masyarakat yang tinggal di Gampong Panton Rayeuk T. Masyarakat masih trauma dengan kejadian masa lalu, sekarang dihantui lagi dengan aktivitas terbaru PT Medco E&P Malaka,” kata Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Aceh, Ahmad Shalihin, Senin, 11 Agustus 2025

Shalihin menyebut puncak kepanikan warga terjadi pada Sabtu, 9 Agustus 2025, ketika seorang perempuan berusia 36 tahun harus dirawat di Puskesmas Keude Gerobak setelah menghirup bau tak sedap saat berada di kebunnya yang berjarak sekitar 1,5 kilometer dari sumur AS9. Ia menegaskan keselamatan warga harus menjadi prioritas dan tidak boleh dikompromikan demi kepentingan perusahaan.

Pria yang akrab disapa Om Sol itu mengingatkan, trauma warga bukan tanpa alasan. Pada 24 September 2023, kebocoran gas H₂S dari area operasi PT Medco E&P Malaka menyebabkan 34 orang dirawat di RSUD Zubir Mahmud. Kini, situasi kembali mengkhawatirkan.

WALHI Aceh juga menerima laporan sejumlah warga mengalami muntah-muntah setelah mencium bau dari arah sumur AS9. Banyak warga memilih mengurung diri di rumah karena khawatir anak-anak mengalami sesak napas, sementara sebagian lainnya mempertimbangkan untuk mengungsi.

“Hingga pagi ini, laporan yang kami peroleh, masyarakat mulai resah dan panik dengan beberapa kejadian kebauan yang dirasakan dalam dua hari ini. Tentu ini membuat masyarakat tidak nyaman berada di rumah maupun di lingkungan mereka tinggal,” ujar Om Sol.

Berdasarkan kondisi tersebut, Om Sol mendesak pemerintah daerah dan pihak terkait segera memantau situasi di lapangan.

“Jangan tunggu korban bertambah baru bergerak. Kita tidak ingin peristiwa 24 September 2023 terulang,” tegasnya.

Selain meminta tindakan cepat dari Bupati Aceh Timur, WALHI menuntut PT Medco E&P Malaka bertanggung jawab penuh atas dampak yang dialami warga. Om Sol menilai transparansi dan komunikasi yang baik antara perusahaan, pemerintah, dan masyarakat sangat penting untuk membangun kepercayaan serta mencegah kejadian serupa di masa depan.

Baca Juga