BANDA ACEH — Komunitas Pelaku Usaha Ekspor Impor (KPUEI) Aceh menilai wacana pembangunan pabrik minyak goreng di Aceh terus bergulir tanpa realisasi yang nyata dan itu sudah berlangsung selama dua dekade terakhir.
Padahal, Aceh memiliki 52 unit Pabrik Kelapa Sawit (PKS) yang setiap harinya memproduksi Crude Palm Oil (CPO) dalam jumlah besar. Namun seluruh hasil produksi itu masih dikirim ke luar daerah untuk diolah kembali.
“Akibatnya, Aceh tetap menjadi pemasok bahan mentah, bukan produsen bernilai tambah,” ungkap Komunitas Pelaku Usaha Ekspor Impor (KPUEI) Aceh, Nasruddin Abubakar Maun kepada ACEHSATU, Rabu 4 November 2025.
Di sisi lain, Nasruddin menilai, Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Aceh masih hanya menjadi penonton dan pengulang wacana lama.
“Sudah saatnya KADIN tampil sebagai aktor utama dalam transformasi ekonomi Aceh,” katanya.
Disebutkan, KADIN memiliki legitimasi, jejaring, dan akses yang kuat untuk mengonsolidasikan pengusaha, membangun kemitraan, serta mendorong pemerintah daerah menyiapkan kebijakan yang pro-industri.
Jika sebagian kecil dana tersebut dialihkan ke pembiayaan sektor riil, Aceh mampu membangun puluhan pabrik pengolahan minyak goreng, membuka ribuan lapangan kerja baru, dan memperkuat ketahanan pangan daerah.
Nasruddin mengatakan, selama 20 tahun Aceh hanya bicara pabrik minyak goreng tanpa langkah konkret.
Padahal Aceh punya semua: bahan baku, lahan, dan sumber daya manusia. Yang kurang hanya kemauan dan koordinasi.
“KADIN harus berani memimpin gerakan investasi lokal, bukan sekadar menjadi komentator ekonomi,” tambahnya.
Ia menambahkan bahwa semangat Aceh harus dikembalikan ke masa keemasan abad ke-15 hingga ke-17, ketika Kesultanan Aceh Darussalam menjadi aktor utama perdagangan dunia Islam.
Dikatakan, KPUEI Aceh menyerukan agar KADIN Aceh segera membentuk konsorsium investasi bersama pengusaha lokal untuk mendirikan pabrik minyak goreng curah dan kemasan di Aceh.
“Kita punya sejarah sebagai bangsa pelaku, bukan penonton. Sudah saatnya Aceh kembali menjadi pusat produksi dan ekspor komoditas bernilai tambah, bukan hanya pengirim bahan mentah,” pungkasnya. ***
