New Normal Atau New Abnormal?

ACEHSATU.COM – Ada-ada saja istilah konyol tercetus dari sebuah pikiran yang kalut. Konon dalam hari-hari belakangan pejabat tinggi negeri ini sering menyebut istilah ‘new normal’. Sangking begitu getolnya memperkenalkan istilah baru tersebut hingga semua program kerja pemerintah selalu dikaitkan atau dicantol kepada new normal.

Sejauh ini saya belum tahu persis sejak kapan istilah itu dimunculkan atau barangkali tidak diketahui juga kapan “dilahirkan”, siapa yang “melahirkan’ dan seterusnya. Pokoknya tiba-tiba saja sudah booming. Atau barangkali juga saya yang kurang baca dan berwawasan terbatas. Ntahlah.

Namun yang pasti pejabat tinggi negara ini mulai dari level menteri hingga keatasnya kerap menggunakan kata itu dalam berwacana atau lebih tepatnya ketika beretorika dihadapan rakyat, terlebih bila ingin menutupi kegagalan pemerintah mengendalikan Covid-19 di Indonesia yang saat ini korbannya mencapai 18 ribu lebih dengan jumlah pasien yang tewas 1000 jiwa lebih.

Menurut saya itu bukan new normal tapi abnormal. Anda boleh tidak sepakat dengan saya. Toh apa yang saya katakan merujuk pada sudut pandang saya sendiri, dan tentu saja dengan memperhatikan beberapa fakta dan hati nurani.

Tapi baiklah, mari kita lihat apa definisi new normal yang sering-sering disebut itu.

Menurut Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmita, new normal adalah perubahan perilaku untuk tetap menjalankan aktivitas normal namun dengan ditambah menerapkan protokol kesehatan guna mencegah terjadinya penularan Covid-19.

Kira-kira nyambung nggak definisi new normal di atas dengan menerapkan protokol kesehatan dan perubahan perilaku? Anda boleh jawab tulisan ini dengan artikel lain ya.

Terus terang saya berusaha mencari definisi lain tentang new normal itu secara saintifik selain menurut ketua tim pakar gugus. Namun alhasil belum saya temukan. (Boleh bantu).

Okay, kita lanjutkan saja…

“Perubahan perilaku dalam menghadapi Covid-19 dengan menerapkan protokol kesehatan sesuai anjuran pemerintah atau yang dikenal sebagai new normal”, kata Wiku.

Sebenarnya konsep new normal yang dikatakan itu sangat menyesatkan masyarakat, selain karena mereka tidak paham sama sekali, lagi pula untuk apa menggunakan istilah macam-macam jika hanya ingin mengatakan masyarakat perlu menerapkan kebiasaan hidup baru saat ini.

Kan poinnya itu? Masyarakat perlu merubah cara hidup dengan kebiasaan baru karena pandemi ini gagal kita kendalikan. Itulah subtansinya, benar bukan?

Disadari atau tidak, sesungguhnya ditengah-tengah pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia sejak Maret 2020 masyarakat sudah hidup tidak normal (abnormal).

Harus dicatat bahwa manusia adalah makhluk sosial, ia butuh berinteraksi, berkumpul bersama, berkomunikasi, dan melakukan kegiatan sosial mereka secara merdeka.

Namun nyatanya semua itu dilarang dengan alasan protokol kesehatan untuk mencegah penyebaran corona. Manusia dipaksa hidup tidak normal dengan melakukan semua dari rumah tanpa boleh keluar dan melakukannya secara bebas seperti biasanya.

Nah sekarang situasi tidak normal itu ingin dilembagakan menjadi apa yang disebut oleh mereka dengan istilah new normal. Normal tidak? Jadi kesimpulannya new normal itu mengada-ada saja. (*)